Karya : Hamsah
Latar belakang boleh beda
Bidang keilmuan boleh beragam
Strata mungkin juga tak sama
Namun menyatu dalam warna hitam putih
Sepekan, dua pekan, tiga pekan, lebih
Warna-warni keragaman menyatu dalam warna hitam putih
Ngantuk, bosan, jenuh terlewatkan
Teredam dalam warna hitam putih
Ada persaudaraan ada persahabatan
Ada kebersamaan Bahkan ada asmara
Terpancar dari kerudung hitam
Menyelinap dibalik dasi hitam dan kemeja putih
Hitam putih mewarnai pekan demi pekan
Menyatu dalam naungan embun pagi
Menimba ilmu dari kaum cendekiawan
Menikmati menu yang seragam
Berjuta kenangan indah, pahit Merajuk dikalbu
Melewati hari demi hari dalam seragam hitam putih
Akankah kenangan dan kebersamaan itu kekal
Saat semua kembali ke warnanya sendiri ?
Malam ini, warna persaudaraan itu mengukir sejarah
Malam ini warna kebersamaan itu menitip pesan luhur
Malam ini warna asmara itu melukis kerinduan
Dan malam ini warna persahabatan itu berakhir
Namun semua bukan berarti akhir dari segala kenangan
Dan juga bukan ujung dari tali persaudaraan
yang terbangun di atas pondasi cinta dan kasih sayang
mari jadikan akhir warna hitam putih sebagai awal masa depan
masa yang dibangun dari kerjasama, kebersamaan dan disiplin
masa yang dahulu hanya menjadi angan-angan
masa yang selalu akan dirindukan.
Jangan Pernah mau dibebani oleh hal yang hanya akan membuat kita terbelakang
Jumat, 20 Mei 2011
Sang Pejuang Yang Terabaikan
Cerpen Cermin Kehidupan, Karya Hamsah
Pagi masih menunjukkan sekira pukul 07.30 waktu setempat, seorang lelaki tua berjalan terseok-seok. Langkahnya yang kelihatan agak sempoyongan menunjukkan bahwa usianya tidak muda lagi. Raut muka kondisi tubuh yang sudah mulai bongkok menandakan si kelaki tua tidak lagi memiliki cukup tenaga untuk bekerja keras.
Tapi itu ternyata adalah pengecualian bagi lelaki yang akrab disapa Allu. Udara pagi masih menyelimuti pusat kantor pemerintahan di kota itu. Namun Allu sudah tiba di kantor pemerintahan, meski dengan kostum yang berbeda dengan para pegawai yang bertugas secara resmi di kantor itu yang datang dengan seragam khasnya.
“Siaaap Grak”, sebuah teriakan dari barisan pegawai yang berkumpul secara teratur di depan kantor pemerintahan itu. Suara itu langsung diikuti dengan gerakan refleks oleh anggota barisan. Tidak jauh dari mereka berdiri, Allu tetap asyik dengan kebiasaannya tiap hari di kantor itu yakni memungut kantong bekas, kemasan air dan aneka sampah yang tiap hari ada saja berserakan di sekitar kantor. Teriakan ‘siap grak’ yang diucapkan pemimpin barisan pegawai itu tidak mengalihkan perhatiannya bahkan untuk sekedar berpaling. Allu tetap konsentrasi pada dedaunan yang berserakan di sekitar halaman kantor.
Tidak hanya di pelataran kantor pemerintahan saja, di ruangan-ruangan Allu juga selalu terlihat. Dia terkadang duduk dideretan kursi peserta rapat. Saat rapat berlangsung Allu hanya duduk terdiam menyaksikan jalannya rapat. Namun setelah itu, setelah ruangan sepi ditinggalkan oleh peserta rapat, barulah Allu melakukan aksinya. Bungkusan kue yang tertinggal di meja-meja atau yang tercecer di ruangan disapu bersih oleh Allu. Tong sampah plastik yang telah disiapkan dari awal langsung diisi penuh dengan sampah-sampah plastik bekas kemasan air, dan bungkusan kue.
Tanpa beban, meski diusianya yang sudah separuh baya, sampah-sampah itu diangkut ke salah satu sudut halaman kantor pemerintahan sebagai tempat terakhir untuk selanjutnya diangkut oleh petugas sampah di daerah itu.
Perjuangan hidup seperti itulah yang tiap hari di lalui Allu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari. Hidup membujang diusianya yang memasuki senja, mengurangi beban hidupnya, paling tidak mengurangi cita-cita kemewahan hidup bagi dirinya.
Sekilas tidak ada beban hidup yang terlihat dari raut mukanya. Tiap hari dia selalu terlihat ceria, bahkan terkadang Allu menyempatkan diri bercanda dengan gaya khasnya dengan para staf di kantor pemerintahan itu.
Allu mungkin tidak diperhitungkan sebagai staf di kantor itu, sebab dia datang tanpa harus mengisi absen seperti pegawai kebanyakan, tidak perlu berkostum rapi. Tapi apa yang dilakukan oleh Allu memberikan manfaat besar bagi kondisi lingkungan perkantoran pemerintahan itu.
Bisa dibayangkan, tanpa Allu seperti apa ruangan yang hampir tiap hari dipenuhi bekas bungkusan kue? Yah Allu adalah pejuang yang mungkin saja tidak disadari perjuangannya di kantor itu. Disaat para aparatur pemerintahan sibuk dengan tugas mereka, Allu juga sibuk dengan tugasnya yang tentu secara sekilas sepele tapi dampaknya sangat berarti jika tidak diurusi.
“He.. saya selalu paling cepat masuk kantor,”katanya pada suatu hari dihadapan para pegawai disebuah ruangan di kantor pemerintahan itu.
Tidak ada beban bagi dia untuk mengungkapkan itu, juga terlihat tidak ada tujuan tertentu bagi Allu mengungkapkan kata-kata itu. Dan para pegawai yang mendengarkan juga acuh dengan apa yang baru saja diungkapkan Allu.
Bukankah Allu tidak harus mengisi absen ketika masuk kantor? Jika dia terlambat konsekwensinya juga tentu tidak ada. Aturan yang berlaku di kantor itu termasuk datang tepat waktu ke kantor, tidak berlaku bagi Allu.
Tapi apa maksud ungkapan itu? Berpikir sejenak, ungkapan Allu meski bukan itu tujuan dia untuk mengatakan itu nampaknya berbau sindiran. Ungkapan itu seolah ingin mengatakan pada semua staf kantor, bahwa tiap hari dia masuk kantor lebih awal dari para pegawai yang gajinya jauh lebih besar dari gaji Allu. Ungkapan itu juga seolah ingin mengungkapkan bahwa disiplin itu tidak harus diikat dengan absen. Dia seolah ingin bilang , lihat saya yang tidak diatur oleh absen tetap bisa datang jauh lebih awal dari kalian yang memiliki ,ketergantungan’ dengan absen. Dia juga seolah ingin bilang saya tidak kerja kerana absen tapi saya kerja karena tanggung jawab dan amanah.
Ada falsafah hidup yang coba diungkapkan oleh Allu yang dipandang sebelah mata di kantor itu. Ada contoh yang ia tunjukkan. Ada kandungan makna yang menarik untuk dianalisa pada setiap perkataan dari ‘kebodohannya’. Sebuah ungkapan kebodohan yang ia lontarkan bisa mebuat kita bertambah pintar, atau sebaliknya tambah bodoh dan lebih bodoh dari dia.
Allu memang sang pejuang yang terlupakan. Tidak saja terlupakan dari perannya yang begitu besar dalam mengemban tugas kebersihan dikantor itu, tapi juga terlupakan dari pola disiplin yang ia terapkan. Bisakah sang pejuang seperti Allu diperhitungkan dan kembali dilirik dikantor itu? Jawabannya ketika pola disiplin sudah bisa diterapkan paling tidak menyamai kedisiplinan Allu maka saat itu Allu tidak lagi dilupakan, artinya Allu tidak lagi sebatas pejuang kebersihan tetapi juga pejuang kedisiplinan. Tapi mungkinkan itu jadi cerminan hidup paling tidak dikantor tempat Allu melewati hidupnya tiap hari. Pola hidup Allu memberikan pilihan bagi staf dikantor itu, ingin memiliki nilai lebih dari Allu atau sebaliknya harus merelakan Allu unggul dan hidup lebih bobrok dari Allu???
Pagi masih menunjukkan sekira pukul 07.30 waktu setempat, seorang lelaki tua berjalan terseok-seok. Langkahnya yang kelihatan agak sempoyongan menunjukkan bahwa usianya tidak muda lagi. Raut muka kondisi tubuh yang sudah mulai bongkok menandakan si kelaki tua tidak lagi memiliki cukup tenaga untuk bekerja keras.
Tapi itu ternyata adalah pengecualian bagi lelaki yang akrab disapa Allu. Udara pagi masih menyelimuti pusat kantor pemerintahan di kota itu. Namun Allu sudah tiba di kantor pemerintahan, meski dengan kostum yang berbeda dengan para pegawai yang bertugas secara resmi di kantor itu yang datang dengan seragam khasnya.
“Siaaap Grak”, sebuah teriakan dari barisan pegawai yang berkumpul secara teratur di depan kantor pemerintahan itu. Suara itu langsung diikuti dengan gerakan refleks oleh anggota barisan. Tidak jauh dari mereka berdiri, Allu tetap asyik dengan kebiasaannya tiap hari di kantor itu yakni memungut kantong bekas, kemasan air dan aneka sampah yang tiap hari ada saja berserakan di sekitar kantor. Teriakan ‘siap grak’ yang diucapkan pemimpin barisan pegawai itu tidak mengalihkan perhatiannya bahkan untuk sekedar berpaling. Allu tetap konsentrasi pada dedaunan yang berserakan di sekitar halaman kantor.
Tidak hanya di pelataran kantor pemerintahan saja, di ruangan-ruangan Allu juga selalu terlihat. Dia terkadang duduk dideretan kursi peserta rapat. Saat rapat berlangsung Allu hanya duduk terdiam menyaksikan jalannya rapat. Namun setelah itu, setelah ruangan sepi ditinggalkan oleh peserta rapat, barulah Allu melakukan aksinya. Bungkusan kue yang tertinggal di meja-meja atau yang tercecer di ruangan disapu bersih oleh Allu. Tong sampah plastik yang telah disiapkan dari awal langsung diisi penuh dengan sampah-sampah plastik bekas kemasan air, dan bungkusan kue.
Tanpa beban, meski diusianya yang sudah separuh baya, sampah-sampah itu diangkut ke salah satu sudut halaman kantor pemerintahan sebagai tempat terakhir untuk selanjutnya diangkut oleh petugas sampah di daerah itu.
Perjuangan hidup seperti itulah yang tiap hari di lalui Allu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari. Hidup membujang diusianya yang memasuki senja, mengurangi beban hidupnya, paling tidak mengurangi cita-cita kemewahan hidup bagi dirinya.
Sekilas tidak ada beban hidup yang terlihat dari raut mukanya. Tiap hari dia selalu terlihat ceria, bahkan terkadang Allu menyempatkan diri bercanda dengan gaya khasnya dengan para staf di kantor pemerintahan itu.
Allu mungkin tidak diperhitungkan sebagai staf di kantor itu, sebab dia datang tanpa harus mengisi absen seperti pegawai kebanyakan, tidak perlu berkostum rapi. Tapi apa yang dilakukan oleh Allu memberikan manfaat besar bagi kondisi lingkungan perkantoran pemerintahan itu.
Bisa dibayangkan, tanpa Allu seperti apa ruangan yang hampir tiap hari dipenuhi bekas bungkusan kue? Yah Allu adalah pejuang yang mungkin saja tidak disadari perjuangannya di kantor itu. Disaat para aparatur pemerintahan sibuk dengan tugas mereka, Allu juga sibuk dengan tugasnya yang tentu secara sekilas sepele tapi dampaknya sangat berarti jika tidak diurusi.
“He.. saya selalu paling cepat masuk kantor,”katanya pada suatu hari dihadapan para pegawai disebuah ruangan di kantor pemerintahan itu.
Tidak ada beban bagi dia untuk mengungkapkan itu, juga terlihat tidak ada tujuan tertentu bagi Allu mengungkapkan kata-kata itu. Dan para pegawai yang mendengarkan juga acuh dengan apa yang baru saja diungkapkan Allu.
Bukankah Allu tidak harus mengisi absen ketika masuk kantor? Jika dia terlambat konsekwensinya juga tentu tidak ada. Aturan yang berlaku di kantor itu termasuk datang tepat waktu ke kantor, tidak berlaku bagi Allu.
Tapi apa maksud ungkapan itu? Berpikir sejenak, ungkapan Allu meski bukan itu tujuan dia untuk mengatakan itu nampaknya berbau sindiran. Ungkapan itu seolah ingin mengatakan pada semua staf kantor, bahwa tiap hari dia masuk kantor lebih awal dari para pegawai yang gajinya jauh lebih besar dari gaji Allu. Ungkapan itu juga seolah ingin mengungkapkan bahwa disiplin itu tidak harus diikat dengan absen. Dia seolah ingin bilang , lihat saya yang tidak diatur oleh absen tetap bisa datang jauh lebih awal dari kalian yang memiliki ,ketergantungan’ dengan absen. Dia juga seolah ingin bilang saya tidak kerja kerana absen tapi saya kerja karena tanggung jawab dan amanah.
Ada falsafah hidup yang coba diungkapkan oleh Allu yang dipandang sebelah mata di kantor itu. Ada contoh yang ia tunjukkan. Ada kandungan makna yang menarik untuk dianalisa pada setiap perkataan dari ‘kebodohannya’. Sebuah ungkapan kebodohan yang ia lontarkan bisa mebuat kita bertambah pintar, atau sebaliknya tambah bodoh dan lebih bodoh dari dia.
Allu memang sang pejuang yang terlupakan. Tidak saja terlupakan dari perannya yang begitu besar dalam mengemban tugas kebersihan dikantor itu, tapi juga terlupakan dari pola disiplin yang ia terapkan. Bisakah sang pejuang seperti Allu diperhitungkan dan kembali dilirik dikantor itu? Jawabannya ketika pola disiplin sudah bisa diterapkan paling tidak menyamai kedisiplinan Allu maka saat itu Allu tidak lagi dilupakan, artinya Allu tidak lagi sebatas pejuang kebersihan tetapi juga pejuang kedisiplinan. Tapi mungkinkan itu jadi cerminan hidup paling tidak dikantor tempat Allu melewati hidupnya tiap hari. Pola hidup Allu memberikan pilihan bagi staf dikantor itu, ingin memiliki nilai lebih dari Allu atau sebaliknya harus merelakan Allu unggul dan hidup lebih bobrok dari Allu???
Senin, 09 Mei 2011
Sepotong Mentimun
Karya : Hamsah
Sepotong mentimun langsung merebak disela-sela nasi, di atasnya tampak tumpukan sambal goreng. Ku ambil sendok plastik yang ada di sudut lain dos nasi itu untuk membersihkan tumpukan sambal yang ada di atas mentimun. Takut sesekali panitia memerintahkan untuk menghabisi mentimun terlebih dahulu sebelum makan nasi dan lauk yang ada seperti yang kerap diperintahkan kepada kami.
Ku coba menoleh ke arah teman lain yang juga sementara asyik membuka dos nasi mereka. Yang aku pandangi balik menatap ke arah saya. Yang lain juga saling menatap sambil tersenyum. Entah apa maksud tatapan itu. Yang jelas setiap makan siang aksi saling tatap terus berlangsung seperti keberadaan sepotong mentimun yang tidak pernah alpa berada di antara tumpukan nasi kami.
“Habiskan mentimun dulu sebelum makan nasinya,”lontar salah seorang panitia. Para peserta Prajabatan mendengar perintah itu tidak langsung mengikuti intruksi, sebaliknya mereka justru kembali saling pandang dan melempar senyum. Setelah itu sepotong mentimun itu berpindah ke mulut mereka.
Namun siapa sangka tidak semua peserta menyukai mentimun. Ada juga yang diantara peserta yang betul-betul tidak menyukai mentimun. Devi, seorang gadis cantik dari salah satu dinas di daerah itu mengaku sangat alergi dengan mentimun. Maka ketika makan siangnya di pandu oleh panitia, rasa was-was terus menghantuinya. Takut di hukum tentu saja menjadi alasannya.
Beruntung Devi berparas cantik. Banyak lelaki dari peserta Prajabatan itu yang menyimpan hati untuk Devi. Tidak heran jika saat jam makan siang tiba, banyak lelaki yang mendekat ke Devi. Mereka bermaksud menolong Devi dengan jalan mengambil sepotong mentimun milik Devi.
Hany, seorang pria yang menjadi fans berat Devi. Pada setiap kesempatan Hany terus berupaya menarik simpati Devi. Sejak awal, Hany memang berharap menemukan tambatan hatinya di prajabatan ini. Sehingga saat melihat Devi, ia terobsesi untuk bisa mengenal bahkan bisa berteman dekat dengan Devi atau istilah remajanya pacaran.
Namun ternyata bukan Cuma Hany saja yang mengagumi Devi, pria lain bernama Musa ternyata diam-diam juga menaruh perhatian dengan Devi. Musa juga sudah tahu jika Hany menyukai Devi, sebab pada setiap berlangsungnya materi, Hany dan Musa terus duduk berdekatan di bangku terakhir. Mudah saja Musa untuk mengawasi gerak Hany bahkan sesekali Hany malah berceritera kepada Musa soal perasaan hatinya.
Melihat Devi tidak menyukai mentimun, Musa dan Hany seolah mendapatkan pintu masuk.”nah kalau begini, jika ingin mendapatkan hati Devi kayaknya saya harus berburu mentimun,”pikir Hany. Musa juga memiliki pikiran sama dengan Hany.
Sebenarnya Hany juga tidak terlalu menyukai mentimun, namun karena terlanjur menganggap berburu hati Devi berarti juga harus berburu mentimun, Hany terus berupaya menjadi dewa penolong bagi Devi pada setiap makan siang tiba.
Jam menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat, artinya waktu makan seperti bisanya tiba. Seperti biasanya Hany langsung duduk dekat Devi. Ia menunggu overran mentimun dari dos nasi Devi.”Jangankan mentimun, makan bersama di satu piring aja saya mau,”pikir Hany yang langsung melahap mentimun pemberian Devi. Hany begitu menikmati mentimun itu.
“Ini bukan mentimun biasa, ini mentimun cinta,”pikir Hany lagi, seolah yang dimakannya bukan sepotong mentimun. Di sudut lain Musa terlihat kecewa sebab tidak sempat mendapatkan mentimun milik Devi. Musa kesal akibat kalah cepat dengan Hany mengambil mentimun itu.
Kepada Devi, Hany mengaku sangat suka makan mentimun, meski itu hanya alasan belaka biar Devi bisa lebih dekat dengan dia. Namun berkat mentimun itu, Hany terlihat lebih akrab dengan Devi. Bukan hanya ketika akan makan siang saja Hany terlihat terlibat perbincangan dengan Devi, bahkan pada saat jam istirahat Hany juga dapat kesempatan berbincang dengan Devi.
Musa yang terkenal paling iseng di ruangan itu nampaknya tidak ikhlas melihat kedekatan Devi dengan Hany. Dengan sikap isengnya tidak jarang Musa mengganggu dan mencuri kesempatan dengan Devi, baik pada saat berfoto bersama dan lainnya. Namun tetap saja Hany tidak mau kalah.
Hany kerap berupaya menyenangkan Devy. Melucu atau pura-pura minta bantuan jadi trik ampuh bagi Hany untuk bisa terus dekat dengan Devy. Jurus yang dilakukan Hany nampaknya ampuh juga. Terbukti hampir tiap hari Hany dan Devy kerap duduk bersama bahkan saat jam istirahat jalan bersama sambil ngobrol.
Namun kedekatan itu, belum sempurna sebab Hany sendiri hanya memendam perasaan hatinya. Hany kehilangan nyali untuk menyampaikan luapan perasaannya ke Devy. Akibatnya keakrabatan yang dibina hanya keakraban semata sebagai teman.
Hingga pada suatu hari, waktu itu masa prajabatan tersisa seminggu lagi, seorang laki-laki berpenampilan menarik mengunjungi lokasi Prajabatan. Laki-laki itu datang mencari Devy. Devy yang mengetahui kedatangan laki-laki itu langsung menghampirinya. Mereka kemudian terlibat perbincangan serius, Devy terlihat manja dengan lelaki tadi.
Dari cara bicara dan sikap Devy terhadap lelaki tadi sangat jelas bahwa lelaki yang datang itu memiliki hubungan serius dengan Devy. Hany yang mencuri pandang dari jauh merasa trenyuh dengan keakraban mereka. Entah karena apa, tiba-tiba ada perasaan yang aneh dalam diri Hany. Sebuah rasa yang membuat tulang-tulang Hany lemas tak bertenaga. Tidak tahan berlama-lama mencuri pandang keakraban Devy dan lelaki tadi, Hany kemudian menenangkan diri di Mushallah dekat aula tempat berlangsungnya Prajabatan.
“Huffff…. Mentimun yang saya nikmati memang masih sepotong kapan sepurnanya yah,”gumam Hany dalam hati sambil membaringkan badannya di dalam Mushallah.
Rasa penasaran Hany terhadap lelaki yang datang tadi dan terlihat akrab dengan Devy ternyata membuat Hany penasaran. Namun Hany sendiri tidak berani untuk menanyakan langsung ke Devy tentang laki-laki tadi. Ia takut dianggap lancang atau dianggap tidak tahu diri.
“Musa,.. yah Musa…,”Hany teringat Musa temannya yang paling iseng.
Hany berencana memanfaatkan sikap iseng Musa untuk menanyakan siapa lelaki tadi yang datang menemui Devi.
“Musa, kamu tahu gak siapa lelaki tadi yang datang menemui Devy,”Tanya Hany saat bertemu Musa. Hany sendiri sempat berkeliling lokasi Prajabatan untuk mencari keberadaan Musa. Ternyata Musa sedang kumpul dengan teman-teman prajabatan lainnya sambil melucu.
“Tidak, kenapa?,”sahut Musa.
“tolong yah kamu cari tahu siapa lelaki tadi,”harap Hany.
“Kenapa bukan kamu saja yang nanya langsung ke Devy,”ledek Musa yang sudah tahu selama ini Hany memendam perasaan sama Devy.
“Tolonglah teman mu ini, kamu kan tahu saya kurang berani untuk masalah seperti ini, please cari tahu yah….,”kata Hany memelas.
“Hmmm….,”Musa menggumam sambil mengangguk tanda setuju.
Belum lama mereka berbincang tiba-tiba Devy berlalu di depan mereka. Spontan sikap iseng Musa muncul.
“Cieee…..tawwa,”ledek Musa.
“Cieee apa?,”sahut Devy yang merasa diledeki oleh Musa. Devy pun mendekat ke Musa yang saat itu lagi bersama Hany.
“Lagi berbunga-bunga ni yeee..dapat kunjungan, yang itu yah???,”ledek Musa lagi dengan nada isengnya.
“Huh sembarangan…biasa lagi,”sahut Devy menangkis guyonan Musa.
“Yang itumikah calon bapaknya kenapa tidak dikenalkan sama kita-kita,”lanjut Musa masih penuh guyonan dalam dialeg setempat.
“Mang kenapa? Gagah toh,”balas Devy juga dengan guyonan.
“seriuska ini, yang itumikah? Klo iya kita mau mengundurkan ini,”lagi-lagi Musa terus memainkan ciri khas isengnya.
“Tidak apa-apa maju saja kalau mau jadi yang ke lima,”ujar Devy tidak mau kalah.
Jawaban Devy ini meski tidak serius tapi sudah menjawab tanda Tanya di hati Hany yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perbincangan antara Musa dan Devy.
Sejak mengetahui Devy sudah memiliki pacar, Hany mulai tidak segencar dulu mendekati Devy. Meski tiap saat ia tetap berupaya dekat dengan Devy. Itu dilakukannya agar Devy tidak menaruh curiga terhadapnya.
Trenyuh. Perasaan itu yang menghantui Hany sejak mengetahui Devy sudah memiliki pacar. Ada harapan yang hilang dari diri Hany yang sejak awal mengikuti prajabatan menggantungkan harapan bisa menemukan tambatan hatinya di pajabatan itu.
“Kenapa juga baru sekarang ketahuan, kenapa bukan dari awal supaya bisa cari yang lain,”sesal Hany dalam hati.
Hingga prajabatan berakhir, Hany tetap seperti awal dia mengikuti Prajabatan. Belum ada perempuan yang berhasil menggait hatinya. Belum ada kata cinta yang terlontar dari mulutnya untuk seorang perempuan. Ucapan yang hampir saja disampaikannya pada Devy yang ternyata lebih dahulu menemukan tambatan hati meski bukan sesama peserta prajabatan.
Tidak terasa waktu hampir sebulan kegiata prajabatan berlangsung. Hingga memasuki malam ramah tamah, para peserta prajabatan khususnya dari golongan III yang hadir malam itu bergembira ria. Kecuali Hany yang memilih duduk di sudut paling belakang gedung. Matanya tidak berhenti memperhatikan orang-orang yang ada di depannya. Seolah ada yang ia cari. Devy. Nama itu ada dalam hatinya, namun disudut lain ia berharap ada Devy lain yang ia temukan malam itu. Namun hingga acara selesai tidak seorang pun yang diajak bicara oleh Hany kecuali teman-teman satu ruangannya yang sempat menyapanya dan dijawab seadanya oleh Hany.
Masa penutupan pun tiba. Hany memilih berdiri duduk di samping kanan deretan peserta. Matanya tetap jalang mengawasi peserta lain. Di matanya masih tersimpan harapan, ada Devy lain yang nyangkut di matanya. Namun hingga acara penutupan, harapan itu tetap belum terjawab.
Usai penutupan Hany pamit lebih awal kembali ke tempatnya mengajar. Hany merupakan salah satu guru yang mengajar di sebuah pedesaan di Kota itu. Hany langsung kembali ke kosnya. Setiba di kos Hany langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Mata dan pikirannya mengawang-awang. Ia sempat terlelap dalam tidur hingga sore hari.
Jam menunjukkan pukul 16.00 sore waktu setempat. Hany menghibur dirinya dengan berjalan mengelilingi perkampungan. Sejak ia mengajar di desa tersebut, ini yang pertama kali ia berjalan mengelilingi kampung. Biasanya Hany lewat mengendarai motor, itupun ketika ada kepentingan tertentu. Namun kali ini ia hanya berjalan tanpa tujuan.
Tiba di sebuah persimpangan jalan, tepatnya didepan sebuah rumah panggung besar. Hany berhenti sejenak. Matanya tiba-tiba tertuju pada buah mentimun yang bergelantungan di halaman rumah panggung besar tersebut. Entah apa yang Ia pikirkan.
“Mentimun. Kapan saya dapat dengan utuh?selama ini saya hanya dapat sepotong. Sepotong seperti serpihan hati yang juga masih sepotong belum juga cukup satu,”pikir Hany sambil terus memperhatikan buah mentimun tadi.
Cukup lama Hany memperhatikan buah mentimun tersebut, hingga ia baru tersadar ketika ada suara yang menyapanya dari dalam halaman rumah itu.
“Ada yang bisa saya bantu pak,”ucap sebuah suara yang ternyata pemiliknya adalah seorang gadis remaja. Jika ditaksir usianya sekitar 15-16 tahun.
Hany terperanjat dari lamunannya mendengar suara itu. Ia pun langsung tergugup.”ee..ee.. tidak Cuma lihat-lihat,”jawabnya gugup.
“Mau mentimun pak. Sini masuk pak, petik saja kebetulan buahnya banyak,”lanjut remaja tadi.
“Tidak saya Cuma terkenang dengan buah mentimun ini,”sahut Hany.
“Maksudnya pak,”
“Ia, kondisi saya saat ini seperti mentimun itu,”
Remaja tadi makin penasaran.”saya tidak mengerti pak, bisa dijelaskan,”harap remaja tadi penasaran.
“Cerita nya begini,”lanjut Hany.
“Masuk dulu disini pak sambil cerita,”ajak gadis tadi dengan ramah.
Kali ini Hany tidak bisa mengelak. Ia pun mengikuti ajakan gadis tadi dan masuk ke halaman rumahnya. Diam-diam hany memperhatikan wajah gadis tadi.”gadis ini cantik juga,”pikir Hany.
“Begini dek,”Hany melanjutkan ceritanya soal mentimun tadi.
“Saya baru saja selesai prajabatan. Di prajabatan saya selalu dapat mentimun sepotong. Saat itu saya berpikir bahwa hati saya juga seperti mentimun itu. Masih sepotong dan butuh disempurnakan jadi mentimun yang utuh. Makanya diprajabatan saya berniat menyempurnakannya utuh seperti mentimun, tapi tidak berhasil,”jelas Hany.
“Ohh gitu yah….saya mulai mengerti,”sahut gadis tadi.
“Mudah-mudahan saya cepat dapat menyemprunakan hati saya hingga bisa utuh seperti mentimun tadi, eh boleh kenalan,”Hany mengulurkan tangannya sambil menatap gadis tadi.
“Saya Hany, kamu?,”
“Saya Yovi,”sahut gadis tadi yang ternyata bernama Yovi malu-malu.
Cukup lama Hany terlibat perbincangan dengan Yovi. Hany bercerita pengalaman saat mahasiswa hingga ia mengajar di kampung itu. Yovi mengikuti cerita Hany dengan serius. Perkenalan mereka itu tiba-tiba langsung akrab hari itu. Bahkan saat bercerita dengan Yovi, Ibu Yovi juga turut serta. Ibu Yovi bergabung dengan mereka sambil membawa segelas teh panas dan makanan ringan, membuat perbincangan mereka makin panjang. Karena cerita panjang lebar sambil tertawa, Hany tidak hanya akrab dengan Yovi tapi juga dengan ibu Yovi.
“Sudah hampir malam, saya pamit dulu dek, ibu,”tutur Hany yang baru menyadari bahwa hari hampir memasuki malam. Ia tidak merasa telah lama berada di tempat itu.
“Ia nak, jalan-jalan kesini jika ada waktu,”jawab ibu Yovi.
Sejak perkenalan itu, Hany sering-sering ke rumah Yovi. Yovi juga mulai menyukai Hany begitupun sebaliknya. Sementara ibu Yovi juga cukup senang pada setiap kehadiran Hany. Selain Hany memang sopan dalam bertutur, paling tidak dimata ibu Yovi Hany adalah lelaki mapan yang sudah punya kerjaan tetap, sehingga ia juga tidak khawatir jika anaknya sampai menyukai Hany.
Selain sopan, pada setiap berkunjung Hany tidak alpa membawa bungkusan untuk ibu Yovi dan kerap membeli rokok untuk bapak Yovi yang sangat doyang merokok. Bukan itu saja Hany juga tidak jarang turut membantu menggarap dan memelihara kebun mentimun di halaman rumah Yovi.
“Akhirnya hati saya sudah utuh seperti utuhnya mentimun ini, tidak lagi hanya sepotong seperti yang saya dapatkan di Prajabatan tiap hari,”ucap Hany dalam hati sambil megangi buah mentimun besar berwarna putih di depannya. (Tamat)
Sepotong mentimun langsung merebak disela-sela nasi, di atasnya tampak tumpukan sambal goreng. Ku ambil sendok plastik yang ada di sudut lain dos nasi itu untuk membersihkan tumpukan sambal yang ada di atas mentimun. Takut sesekali panitia memerintahkan untuk menghabisi mentimun terlebih dahulu sebelum makan nasi dan lauk yang ada seperti yang kerap diperintahkan kepada kami.
Ku coba menoleh ke arah teman lain yang juga sementara asyik membuka dos nasi mereka. Yang aku pandangi balik menatap ke arah saya. Yang lain juga saling menatap sambil tersenyum. Entah apa maksud tatapan itu. Yang jelas setiap makan siang aksi saling tatap terus berlangsung seperti keberadaan sepotong mentimun yang tidak pernah alpa berada di antara tumpukan nasi kami.
“Habiskan mentimun dulu sebelum makan nasinya,”lontar salah seorang panitia. Para peserta Prajabatan mendengar perintah itu tidak langsung mengikuti intruksi, sebaliknya mereka justru kembali saling pandang dan melempar senyum. Setelah itu sepotong mentimun itu berpindah ke mulut mereka.
Namun siapa sangka tidak semua peserta menyukai mentimun. Ada juga yang diantara peserta yang betul-betul tidak menyukai mentimun. Devi, seorang gadis cantik dari salah satu dinas di daerah itu mengaku sangat alergi dengan mentimun. Maka ketika makan siangnya di pandu oleh panitia, rasa was-was terus menghantuinya. Takut di hukum tentu saja menjadi alasannya.
Beruntung Devi berparas cantik. Banyak lelaki dari peserta Prajabatan itu yang menyimpan hati untuk Devi. Tidak heran jika saat jam makan siang tiba, banyak lelaki yang mendekat ke Devi. Mereka bermaksud menolong Devi dengan jalan mengambil sepotong mentimun milik Devi.
Hany, seorang pria yang menjadi fans berat Devi. Pada setiap kesempatan Hany terus berupaya menarik simpati Devi. Sejak awal, Hany memang berharap menemukan tambatan hatinya di prajabatan ini. Sehingga saat melihat Devi, ia terobsesi untuk bisa mengenal bahkan bisa berteman dekat dengan Devi atau istilah remajanya pacaran.
Namun ternyata bukan Cuma Hany saja yang mengagumi Devi, pria lain bernama Musa ternyata diam-diam juga menaruh perhatian dengan Devi. Musa juga sudah tahu jika Hany menyukai Devi, sebab pada setiap berlangsungnya materi, Hany dan Musa terus duduk berdekatan di bangku terakhir. Mudah saja Musa untuk mengawasi gerak Hany bahkan sesekali Hany malah berceritera kepada Musa soal perasaan hatinya.
Melihat Devi tidak menyukai mentimun, Musa dan Hany seolah mendapatkan pintu masuk.”nah kalau begini, jika ingin mendapatkan hati Devi kayaknya saya harus berburu mentimun,”pikir Hany. Musa juga memiliki pikiran sama dengan Hany.
Sebenarnya Hany juga tidak terlalu menyukai mentimun, namun karena terlanjur menganggap berburu hati Devi berarti juga harus berburu mentimun, Hany terus berupaya menjadi dewa penolong bagi Devi pada setiap makan siang tiba.
Jam menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat, artinya waktu makan seperti bisanya tiba. Seperti biasanya Hany langsung duduk dekat Devi. Ia menunggu overran mentimun dari dos nasi Devi.”Jangankan mentimun, makan bersama di satu piring aja saya mau,”pikir Hany yang langsung melahap mentimun pemberian Devi. Hany begitu menikmati mentimun itu.
“Ini bukan mentimun biasa, ini mentimun cinta,”pikir Hany lagi, seolah yang dimakannya bukan sepotong mentimun. Di sudut lain Musa terlihat kecewa sebab tidak sempat mendapatkan mentimun milik Devi. Musa kesal akibat kalah cepat dengan Hany mengambil mentimun itu.
Kepada Devi, Hany mengaku sangat suka makan mentimun, meski itu hanya alasan belaka biar Devi bisa lebih dekat dengan dia. Namun berkat mentimun itu, Hany terlihat lebih akrab dengan Devi. Bukan hanya ketika akan makan siang saja Hany terlihat terlibat perbincangan dengan Devi, bahkan pada saat jam istirahat Hany juga dapat kesempatan berbincang dengan Devi.
Musa yang terkenal paling iseng di ruangan itu nampaknya tidak ikhlas melihat kedekatan Devi dengan Hany. Dengan sikap isengnya tidak jarang Musa mengganggu dan mencuri kesempatan dengan Devi, baik pada saat berfoto bersama dan lainnya. Namun tetap saja Hany tidak mau kalah.
Hany kerap berupaya menyenangkan Devy. Melucu atau pura-pura minta bantuan jadi trik ampuh bagi Hany untuk bisa terus dekat dengan Devy. Jurus yang dilakukan Hany nampaknya ampuh juga. Terbukti hampir tiap hari Hany dan Devy kerap duduk bersama bahkan saat jam istirahat jalan bersama sambil ngobrol.
Namun kedekatan itu, belum sempurna sebab Hany sendiri hanya memendam perasaan hatinya. Hany kehilangan nyali untuk menyampaikan luapan perasaannya ke Devy. Akibatnya keakrabatan yang dibina hanya keakraban semata sebagai teman.
Hingga pada suatu hari, waktu itu masa prajabatan tersisa seminggu lagi, seorang laki-laki berpenampilan menarik mengunjungi lokasi Prajabatan. Laki-laki itu datang mencari Devy. Devy yang mengetahui kedatangan laki-laki itu langsung menghampirinya. Mereka kemudian terlibat perbincangan serius, Devy terlihat manja dengan lelaki tadi.
Dari cara bicara dan sikap Devy terhadap lelaki tadi sangat jelas bahwa lelaki yang datang itu memiliki hubungan serius dengan Devy. Hany yang mencuri pandang dari jauh merasa trenyuh dengan keakraban mereka. Entah karena apa, tiba-tiba ada perasaan yang aneh dalam diri Hany. Sebuah rasa yang membuat tulang-tulang Hany lemas tak bertenaga. Tidak tahan berlama-lama mencuri pandang keakraban Devy dan lelaki tadi, Hany kemudian menenangkan diri di Mushallah dekat aula tempat berlangsungnya Prajabatan.
“Huffff…. Mentimun yang saya nikmati memang masih sepotong kapan sepurnanya yah,”gumam Hany dalam hati sambil membaringkan badannya di dalam Mushallah.
Rasa penasaran Hany terhadap lelaki yang datang tadi dan terlihat akrab dengan Devy ternyata membuat Hany penasaran. Namun Hany sendiri tidak berani untuk menanyakan langsung ke Devy tentang laki-laki tadi. Ia takut dianggap lancang atau dianggap tidak tahu diri.
“Musa,.. yah Musa…,”Hany teringat Musa temannya yang paling iseng.
Hany berencana memanfaatkan sikap iseng Musa untuk menanyakan siapa lelaki tadi yang datang menemui Devi.
“Musa, kamu tahu gak siapa lelaki tadi yang datang menemui Devy,”Tanya Hany saat bertemu Musa. Hany sendiri sempat berkeliling lokasi Prajabatan untuk mencari keberadaan Musa. Ternyata Musa sedang kumpul dengan teman-teman prajabatan lainnya sambil melucu.
“Tidak, kenapa?,”sahut Musa.
“tolong yah kamu cari tahu siapa lelaki tadi,”harap Hany.
“Kenapa bukan kamu saja yang nanya langsung ke Devy,”ledek Musa yang sudah tahu selama ini Hany memendam perasaan sama Devy.
“Tolonglah teman mu ini, kamu kan tahu saya kurang berani untuk masalah seperti ini, please cari tahu yah….,”kata Hany memelas.
“Hmmm….,”Musa menggumam sambil mengangguk tanda setuju.
Belum lama mereka berbincang tiba-tiba Devy berlalu di depan mereka. Spontan sikap iseng Musa muncul.
“Cieee…..tawwa,”ledek Musa.
“Cieee apa?,”sahut Devy yang merasa diledeki oleh Musa. Devy pun mendekat ke Musa yang saat itu lagi bersama Hany.
“Lagi berbunga-bunga ni yeee..dapat kunjungan, yang itu yah???,”ledek Musa lagi dengan nada isengnya.
“Huh sembarangan…biasa lagi,”sahut Devy menangkis guyonan Musa.
“Yang itumikah calon bapaknya kenapa tidak dikenalkan sama kita-kita,”lanjut Musa masih penuh guyonan dalam dialeg setempat.
“Mang kenapa? Gagah toh,”balas Devy juga dengan guyonan.
“seriuska ini, yang itumikah? Klo iya kita mau mengundurkan ini,”lagi-lagi Musa terus memainkan ciri khas isengnya.
“Tidak apa-apa maju saja kalau mau jadi yang ke lima,”ujar Devy tidak mau kalah.
Jawaban Devy ini meski tidak serius tapi sudah menjawab tanda Tanya di hati Hany yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perbincangan antara Musa dan Devy.
Sejak mengetahui Devy sudah memiliki pacar, Hany mulai tidak segencar dulu mendekati Devy. Meski tiap saat ia tetap berupaya dekat dengan Devy. Itu dilakukannya agar Devy tidak menaruh curiga terhadapnya.
Trenyuh. Perasaan itu yang menghantui Hany sejak mengetahui Devy sudah memiliki pacar. Ada harapan yang hilang dari diri Hany yang sejak awal mengikuti prajabatan menggantungkan harapan bisa menemukan tambatan hatinya di pajabatan itu.
“Kenapa juga baru sekarang ketahuan, kenapa bukan dari awal supaya bisa cari yang lain,”sesal Hany dalam hati.
Hingga prajabatan berakhir, Hany tetap seperti awal dia mengikuti Prajabatan. Belum ada perempuan yang berhasil menggait hatinya. Belum ada kata cinta yang terlontar dari mulutnya untuk seorang perempuan. Ucapan yang hampir saja disampaikannya pada Devy yang ternyata lebih dahulu menemukan tambatan hati meski bukan sesama peserta prajabatan.
Tidak terasa waktu hampir sebulan kegiata prajabatan berlangsung. Hingga memasuki malam ramah tamah, para peserta prajabatan khususnya dari golongan III yang hadir malam itu bergembira ria. Kecuali Hany yang memilih duduk di sudut paling belakang gedung. Matanya tidak berhenti memperhatikan orang-orang yang ada di depannya. Seolah ada yang ia cari. Devy. Nama itu ada dalam hatinya, namun disudut lain ia berharap ada Devy lain yang ia temukan malam itu. Namun hingga acara selesai tidak seorang pun yang diajak bicara oleh Hany kecuali teman-teman satu ruangannya yang sempat menyapanya dan dijawab seadanya oleh Hany.
Masa penutupan pun tiba. Hany memilih berdiri duduk di samping kanan deretan peserta. Matanya tetap jalang mengawasi peserta lain. Di matanya masih tersimpan harapan, ada Devy lain yang nyangkut di matanya. Namun hingga acara penutupan, harapan itu tetap belum terjawab.
Usai penutupan Hany pamit lebih awal kembali ke tempatnya mengajar. Hany merupakan salah satu guru yang mengajar di sebuah pedesaan di Kota itu. Hany langsung kembali ke kosnya. Setiba di kos Hany langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Mata dan pikirannya mengawang-awang. Ia sempat terlelap dalam tidur hingga sore hari.
Jam menunjukkan pukul 16.00 sore waktu setempat. Hany menghibur dirinya dengan berjalan mengelilingi perkampungan. Sejak ia mengajar di desa tersebut, ini yang pertama kali ia berjalan mengelilingi kampung. Biasanya Hany lewat mengendarai motor, itupun ketika ada kepentingan tertentu. Namun kali ini ia hanya berjalan tanpa tujuan.
Tiba di sebuah persimpangan jalan, tepatnya didepan sebuah rumah panggung besar. Hany berhenti sejenak. Matanya tiba-tiba tertuju pada buah mentimun yang bergelantungan di halaman rumah panggung besar tersebut. Entah apa yang Ia pikirkan.
“Mentimun. Kapan saya dapat dengan utuh?selama ini saya hanya dapat sepotong. Sepotong seperti serpihan hati yang juga masih sepotong belum juga cukup satu,”pikir Hany sambil terus memperhatikan buah mentimun tadi.
Cukup lama Hany memperhatikan buah mentimun tersebut, hingga ia baru tersadar ketika ada suara yang menyapanya dari dalam halaman rumah itu.
“Ada yang bisa saya bantu pak,”ucap sebuah suara yang ternyata pemiliknya adalah seorang gadis remaja. Jika ditaksir usianya sekitar 15-16 tahun.
Hany terperanjat dari lamunannya mendengar suara itu. Ia pun langsung tergugup.”ee..ee.. tidak Cuma lihat-lihat,”jawabnya gugup.
“Mau mentimun pak. Sini masuk pak, petik saja kebetulan buahnya banyak,”lanjut remaja tadi.
“Tidak saya Cuma terkenang dengan buah mentimun ini,”sahut Hany.
“Maksudnya pak,”
“Ia, kondisi saya saat ini seperti mentimun itu,”
Remaja tadi makin penasaran.”saya tidak mengerti pak, bisa dijelaskan,”harap remaja tadi penasaran.
“Cerita nya begini,”lanjut Hany.
“Masuk dulu disini pak sambil cerita,”ajak gadis tadi dengan ramah.
Kali ini Hany tidak bisa mengelak. Ia pun mengikuti ajakan gadis tadi dan masuk ke halaman rumahnya. Diam-diam hany memperhatikan wajah gadis tadi.”gadis ini cantik juga,”pikir Hany.
“Begini dek,”Hany melanjutkan ceritanya soal mentimun tadi.
“Saya baru saja selesai prajabatan. Di prajabatan saya selalu dapat mentimun sepotong. Saat itu saya berpikir bahwa hati saya juga seperti mentimun itu. Masih sepotong dan butuh disempurnakan jadi mentimun yang utuh. Makanya diprajabatan saya berniat menyempurnakannya utuh seperti mentimun, tapi tidak berhasil,”jelas Hany.
“Ohh gitu yah….saya mulai mengerti,”sahut gadis tadi.
“Mudah-mudahan saya cepat dapat menyemprunakan hati saya hingga bisa utuh seperti mentimun tadi, eh boleh kenalan,”Hany mengulurkan tangannya sambil menatap gadis tadi.
“Saya Hany, kamu?,”
“Saya Yovi,”sahut gadis tadi yang ternyata bernama Yovi malu-malu.
Cukup lama Hany terlibat perbincangan dengan Yovi. Hany bercerita pengalaman saat mahasiswa hingga ia mengajar di kampung itu. Yovi mengikuti cerita Hany dengan serius. Perkenalan mereka itu tiba-tiba langsung akrab hari itu. Bahkan saat bercerita dengan Yovi, Ibu Yovi juga turut serta. Ibu Yovi bergabung dengan mereka sambil membawa segelas teh panas dan makanan ringan, membuat perbincangan mereka makin panjang. Karena cerita panjang lebar sambil tertawa, Hany tidak hanya akrab dengan Yovi tapi juga dengan ibu Yovi.
“Sudah hampir malam, saya pamit dulu dek, ibu,”tutur Hany yang baru menyadari bahwa hari hampir memasuki malam. Ia tidak merasa telah lama berada di tempat itu.
“Ia nak, jalan-jalan kesini jika ada waktu,”jawab ibu Yovi.
Sejak perkenalan itu, Hany sering-sering ke rumah Yovi. Yovi juga mulai menyukai Hany begitupun sebaliknya. Sementara ibu Yovi juga cukup senang pada setiap kehadiran Hany. Selain Hany memang sopan dalam bertutur, paling tidak dimata ibu Yovi Hany adalah lelaki mapan yang sudah punya kerjaan tetap, sehingga ia juga tidak khawatir jika anaknya sampai menyukai Hany.
Selain sopan, pada setiap berkunjung Hany tidak alpa membawa bungkusan untuk ibu Yovi dan kerap membeli rokok untuk bapak Yovi yang sangat doyang merokok. Bukan itu saja Hany juga tidak jarang turut membantu menggarap dan memelihara kebun mentimun di halaman rumah Yovi.
“Akhirnya hati saya sudah utuh seperti utuhnya mentimun ini, tidak lagi hanya sepotong seperti yang saya dapatkan di Prajabatan tiap hari,”ucap Hany dalam hati sambil megangi buah mentimun besar berwarna putih di depannya. (Tamat)
Menembus Alam Bersama Bupati Sidrap
Menyambung Hidup Dari Air Di Dedaunan
Matahari hampir berada tepat di atas kepala, ketika rombongan yang dipimpin langsung Bupati Sidrap H Rusdi Masse memasuki jalan setapak menuju Desa Buntu Buangin Kecamatan Pitu Riase. Sebuah wilayah perbatasan dengan Kabupaten Wajo. Rombongan Bupati sendiri mulai star dari Barukku.
Ikut dalam rombongan Ketua DPRD Sidrap, A Sukri Baharman, Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng dan beberapa anggota DPRD Sidrap lainnya seperti Drs Sutanto dan H Yusuf Latief. Bukan itu saja, sejumlah pejabat lingkup Pemkab Sidrap seperti Asisten Bidang Administrasi umum Siara Barang, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Sudirman Bungi, Kepala Dinas PSDA Ir Imran Abidin MSi, Kadis Cipta Karya Dr Haikal Ali SE MTP, Kadis Kesehatan dr A Irwansyah M Kes Kepala RSUD Arifin Nu'mang dr Budi Santoso dan lainnya, sejumlah masyarakat dan tokoh pemuda juga ikut dalam rombongan tersebut.
Rombongan bergerak memasuki kawan hutan dengan medan yang cukup berat dengan menggunakan motor, kebanyakan mengggunakan Motor Cross meski sebagian hanya menggunakan motor biasa.
Berjalan sekitar 20 Kilometer jalanan masih bersahabat, namun saat rombongan sampai pada sebuah sungai dengan lebar sekitar 5 meter, jalanan mulai tidak bersahabat. Puluhan motor terpaksa diseberangkan dengan cara digotong beramai-ramai.
Setelah menyeberangi sungai, jalanan bukan semakin baik, namun sebaliknya makin masuk ke dalam, jalanan semakin sempit, tidak ubahnya seperti jalanan yang diperuntukkan untuk binatang ternak seperti sapi. Namun karena itu jalanan satu-satunya, terpaksa rombongan kembali menantang medan dengan melalui jalanan setapak tersebut.
Baru menempuh beberapa meter setelah penyeberangan dari sungai, sejumlah motor sudah mulai mogok bahkan ada yang tidak bisa dikendarai melanjutkan perjalanan. Sebutlah motor yang dikendarai HM Yusuf Latief, motor milik anggota DPRD Sidrap ini terpaksa haris digotong kembali ke tempat star karena mengalami kerusakan parah, Yusuf latief sendiri melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Setelah berjalan selama beberapa jam, semangat anggota rombongan mulai kendor seiring dengan minimnya perbekalan yang dibawa masuk ke areal hutan. Akibatnya kebanyakan memilih untuk meninggalkan barang bawaan mereka termasuk motor ditinggalkan begitu saja dan memilih berjalan kaki.
Bahkan Bupati Sidrap H Rusdi Masse sendiri tidak mampu mengendarai motor hingga ke perkampungan warga. Hanya ada sekitar lima pengendara yang berhasil menantang jalanan terjal itu hingga ke perkampungan. Selebihnya dievakuasi oleh warga yang ke lokasi dengan mengendarai mobil hartop yang oleh warga setempat disebut mobil kampas.
Sekira pukul 18.00 baru ada rombongan yang tiba di wilayah perkampungan. Bupati Sidrap sendiri baru tiba di Desa Buntu Buanging sekira pukul 19.00 bersama Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng. Mereka tiba dengan kendaraan angkutan khas yang digunakan warga masuk wilayah rumit tersebut.
Hingga pukul 03.00 dini hari pada hari Jumat, empat mobil yang bertugas mengevakuasi anggota rombongan yang masih berada di lokasi hutan terus bolak balik ke lokasi. Namun hingga pagi hari masih ada sekitar 15 orang yang berada dilokasi termasuk Siara Barang (Asisten Adminsitrasi umum) dan Sudirman Bungi (Staf Ahli Bidang ekonomi dan Keuangan) masih berada di lokasi hutan bersama beberapa orang lainnya.
"Kita berjalan dari pukul 17.00 sore hingga tengah malam, namun baru sekitar pukul 03.00 subuh baru bisa ditemukan tim evakuasi," kisah Yusuf Latif mengenang sulitnya hidup di dalam hutan tersebut.
Menurutnya, anggota rombongan di dalam hutan betul-betul kehabisan bekal, sehingga dia dan beberapa anggota rombongan lainnya sambil jalan mengumpulkan bekas kemasan air mineral kemudian mengumpulkan setetes demi setetes untuk sejedar membahasi tenggorokan mereka yang begitu kering.
Selain itu, saat menjumpai sungai itu tidak disia-siakan untuk minum sepuasnya. Beberapa di antara rombongan itu yang memiliki pengalaman menarik dengan mengumpulkan tetesan air hujan yang tersisa di dedauanan untuk di minum.
"Ini betul-betul pengalaman yang tidak akan kita lupakan hingga akhir hayat,"ungkap para rombongan itu.
Tanpa mengenal lelah, setelah sempat jatuh bangun melewati medan berat hingga harus cedera dibagian kaki, keesokan harinya Bupati Sidrap H Rusdi Masse menyempatkan diri berdialog dengan masyarakat. Dialog sebenarnya sudah berlangsung pada malam hari hanya belum maksimal.
Malam harinya setiba di perkampungan Desa Buntu Buangin Kecamatan Pitu Riase, Bupati Sidrap tidak langsung beristirahat melainkan menyempatkan diri berdialog dengan masyarakat bahkan sempat bermain domino bersama warga.
Dan keesokan harinya di depan Puskesmas setempat orang nomor 1 di Bumi Nene Mallomo itu kembali berdialog dengan warga. Jika semalam hanya bercanda dan berakrab ria dengan masyarakat maka kali ini perbincangan diarahkan untuk rencana perintisan jalan bagi masyarakat di daerah itu.
Hasilnya warga menunjukkan jalan alternatif yang layak dimanfaatkan untuk perintisan jalan. Alternatif tersebut harus melewati wilayah Kabupaten Wajo. Versi warga ini lebih menarik perhatian Bupati Sidrap, ketimbang meneruskan perintisan jalan di lokasi yang telah dilalui rombongan dengan mengendarai motor. Hal itu mengingat selain medan yang rumit dan dianggap tidak logis untuk dirintis, juga jika dipaksakan membutuhkan biaya yang cukup besar dengan hasil yang pasti tidak maksimal.
"Saya pikir tawaran masyarakat ini bagus, Dinas Bina Marga minggu depan (minggu ini,red) sudah harus memantau lokasi, soal wilayah Wajo itu bisa dibicarakan kemudian yang penting medannya layak untuk perintisan jalan,"jelas Rusdi Masse saat berdialog dengan masyarakat.
Tanggapan Rusdi Masse terhadap keinginan warga itu disambut baik oleh warga. Para tokoh masyarakat setempat mengaku siap mendampingi pihak Dinas Bina Marga untuk memantau lokasi yang direncanakan berlangsung minggu ini.
Kehadiran rombongan Bupati Sidrap ternyata tidak semata untuk memantau lokasi perintisan jalan, melainkan juga membawa bantuan untuk pembangunan mesjid. Itu terbukti sebab Ketua DPD II Partai Golkar Sidrap ini juga membantu pembangunan mesjid di Desa Buntu Buangin tersebut.
Pada jumat sore, mantan anggota DPRD Sidrap ini didampingi sejumlah tokoh masyarakat, Ketua DPRD Sidrap A Sukri Baharmanm Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng dan beberapa pejabat Pemkab Sidrap mengunjungi lokasi yang ditawarkan warga untuk lokasi perintisan jalan.
Bahkan sesekali Rusdi Masse mampir di rumah warga setempat dan disambut dengan gembira oleh warga yang rumahnya dikunjungi oleh Bupati Sidrap.
Bukan itu saja, Bupati Sidrap ini juga memantau Sekretariat kelompok tani di Desa itu. Setelah itu dilanjutkan dengan memantau beberapa proyek jalan dan jembatan dibeberapa titik di wilayah tersebut.
Menjelang magrib pada Jumat pekan lalu, rombongan Bupati meninggalkan Desa Buntu Buangin bersama rombongan. Warga terlihat antusias melepas kepergian Bupati Sidrap yang telah menemani mereka bercengkrama selama hampir dua hari.
"Kita betul-betul terkesan ada bupati yang sudi bersenda gurau dan bahkan bermalam bersama kita, ini kesan manis bagi kami selaku warga di pelosok,"ungkap salah seorang warga dalam bahasa daerah bugis.(*)
Matahari hampir berada tepat di atas kepala, ketika rombongan yang dipimpin langsung Bupati Sidrap H Rusdi Masse memasuki jalan setapak menuju Desa Buntu Buangin Kecamatan Pitu Riase. Sebuah wilayah perbatasan dengan Kabupaten Wajo. Rombongan Bupati sendiri mulai star dari Barukku.
Ikut dalam rombongan Ketua DPRD Sidrap, A Sukri Baharman, Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng dan beberapa anggota DPRD Sidrap lainnya seperti Drs Sutanto dan H Yusuf Latief. Bukan itu saja, sejumlah pejabat lingkup Pemkab Sidrap seperti Asisten Bidang Administrasi umum Siara Barang, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Sudirman Bungi, Kepala Dinas PSDA Ir Imran Abidin MSi, Kadis Cipta Karya Dr Haikal Ali SE MTP, Kadis Kesehatan dr A Irwansyah M Kes Kepala RSUD Arifin Nu'mang dr Budi Santoso dan lainnya, sejumlah masyarakat dan tokoh pemuda juga ikut dalam rombongan tersebut.
Rombongan bergerak memasuki kawan hutan dengan medan yang cukup berat dengan menggunakan motor, kebanyakan mengggunakan Motor Cross meski sebagian hanya menggunakan motor biasa.
Berjalan sekitar 20 Kilometer jalanan masih bersahabat, namun saat rombongan sampai pada sebuah sungai dengan lebar sekitar 5 meter, jalanan mulai tidak bersahabat. Puluhan motor terpaksa diseberangkan dengan cara digotong beramai-ramai.
Setelah menyeberangi sungai, jalanan bukan semakin baik, namun sebaliknya makin masuk ke dalam, jalanan semakin sempit, tidak ubahnya seperti jalanan yang diperuntukkan untuk binatang ternak seperti sapi. Namun karena itu jalanan satu-satunya, terpaksa rombongan kembali menantang medan dengan melalui jalanan setapak tersebut.
Baru menempuh beberapa meter setelah penyeberangan dari sungai, sejumlah motor sudah mulai mogok bahkan ada yang tidak bisa dikendarai melanjutkan perjalanan. Sebutlah motor yang dikendarai HM Yusuf Latief, motor milik anggota DPRD Sidrap ini terpaksa haris digotong kembali ke tempat star karena mengalami kerusakan parah, Yusuf latief sendiri melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Setelah berjalan selama beberapa jam, semangat anggota rombongan mulai kendor seiring dengan minimnya perbekalan yang dibawa masuk ke areal hutan. Akibatnya kebanyakan memilih untuk meninggalkan barang bawaan mereka termasuk motor ditinggalkan begitu saja dan memilih berjalan kaki.
Bahkan Bupati Sidrap H Rusdi Masse sendiri tidak mampu mengendarai motor hingga ke perkampungan warga. Hanya ada sekitar lima pengendara yang berhasil menantang jalanan terjal itu hingga ke perkampungan. Selebihnya dievakuasi oleh warga yang ke lokasi dengan mengendarai mobil hartop yang oleh warga setempat disebut mobil kampas.
Sekira pukul 18.00 baru ada rombongan yang tiba di wilayah perkampungan. Bupati Sidrap sendiri baru tiba di Desa Buntu Buanging sekira pukul 19.00 bersama Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng. Mereka tiba dengan kendaraan angkutan khas yang digunakan warga masuk wilayah rumit tersebut.
Hingga pukul 03.00 dini hari pada hari Jumat, empat mobil yang bertugas mengevakuasi anggota rombongan yang masih berada di lokasi hutan terus bolak balik ke lokasi. Namun hingga pagi hari masih ada sekitar 15 orang yang berada dilokasi termasuk Siara Barang (Asisten Adminsitrasi umum) dan Sudirman Bungi (Staf Ahli Bidang ekonomi dan Keuangan) masih berada di lokasi hutan bersama beberapa orang lainnya.
"Kita berjalan dari pukul 17.00 sore hingga tengah malam, namun baru sekitar pukul 03.00 subuh baru bisa ditemukan tim evakuasi," kisah Yusuf Latif mengenang sulitnya hidup di dalam hutan tersebut.
Menurutnya, anggota rombongan di dalam hutan betul-betul kehabisan bekal, sehingga dia dan beberapa anggota rombongan lainnya sambil jalan mengumpulkan bekas kemasan air mineral kemudian mengumpulkan setetes demi setetes untuk sejedar membahasi tenggorokan mereka yang begitu kering.
Selain itu, saat menjumpai sungai itu tidak disia-siakan untuk minum sepuasnya. Beberapa di antara rombongan itu yang memiliki pengalaman menarik dengan mengumpulkan tetesan air hujan yang tersisa di dedauanan untuk di minum.
"Ini betul-betul pengalaman yang tidak akan kita lupakan hingga akhir hayat,"ungkap para rombongan itu.
Tanpa mengenal lelah, setelah sempat jatuh bangun melewati medan berat hingga harus cedera dibagian kaki, keesokan harinya Bupati Sidrap H Rusdi Masse menyempatkan diri berdialog dengan masyarakat. Dialog sebenarnya sudah berlangsung pada malam hari hanya belum maksimal.
Malam harinya setiba di perkampungan Desa Buntu Buangin Kecamatan Pitu Riase, Bupati Sidrap tidak langsung beristirahat melainkan menyempatkan diri berdialog dengan masyarakat bahkan sempat bermain domino bersama warga.
Dan keesokan harinya di depan Puskesmas setempat orang nomor 1 di Bumi Nene Mallomo itu kembali berdialog dengan warga. Jika semalam hanya bercanda dan berakrab ria dengan masyarakat maka kali ini perbincangan diarahkan untuk rencana perintisan jalan bagi masyarakat di daerah itu.
Hasilnya warga menunjukkan jalan alternatif yang layak dimanfaatkan untuk perintisan jalan. Alternatif tersebut harus melewati wilayah Kabupaten Wajo. Versi warga ini lebih menarik perhatian Bupati Sidrap, ketimbang meneruskan perintisan jalan di lokasi yang telah dilalui rombongan dengan mengendarai motor. Hal itu mengingat selain medan yang rumit dan dianggap tidak logis untuk dirintis, juga jika dipaksakan membutuhkan biaya yang cukup besar dengan hasil yang pasti tidak maksimal.
"Saya pikir tawaran masyarakat ini bagus, Dinas Bina Marga minggu depan (minggu ini,red) sudah harus memantau lokasi, soal wilayah Wajo itu bisa dibicarakan kemudian yang penting medannya layak untuk perintisan jalan,"jelas Rusdi Masse saat berdialog dengan masyarakat.
Tanggapan Rusdi Masse terhadap keinginan warga itu disambut baik oleh warga. Para tokoh masyarakat setempat mengaku siap mendampingi pihak Dinas Bina Marga untuk memantau lokasi yang direncanakan berlangsung minggu ini.
Kehadiran rombongan Bupati Sidrap ternyata tidak semata untuk memantau lokasi perintisan jalan, melainkan juga membawa bantuan untuk pembangunan mesjid. Itu terbukti sebab Ketua DPD II Partai Golkar Sidrap ini juga membantu pembangunan mesjid di Desa Buntu Buangin tersebut.
Pada jumat sore, mantan anggota DPRD Sidrap ini didampingi sejumlah tokoh masyarakat, Ketua DPRD Sidrap A Sukri Baharmanm Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng dan beberapa pejabat Pemkab Sidrap mengunjungi lokasi yang ditawarkan warga untuk lokasi perintisan jalan.
Bahkan sesekali Rusdi Masse mampir di rumah warga setempat dan disambut dengan gembira oleh warga yang rumahnya dikunjungi oleh Bupati Sidrap.
Bukan itu saja, Bupati Sidrap ini juga memantau Sekretariat kelompok tani di Desa itu. Setelah itu dilanjutkan dengan memantau beberapa proyek jalan dan jembatan dibeberapa titik di wilayah tersebut.
Menjelang magrib pada Jumat pekan lalu, rombongan Bupati meninggalkan Desa Buntu Buangin bersama rombongan. Warga terlihat antusias melepas kepergian Bupati Sidrap yang telah menemani mereka bercengkrama selama hampir dua hari.
"Kita betul-betul terkesan ada bupati yang sudi bersenda gurau dan bahkan bermalam bersama kita, ini kesan manis bagi kami selaku warga di pelosok,"ungkap salah seorang warga dalam bahasa daerah bugis.(*)
Rabu, 26 Januari 2011
Pengelolaan PBB Segera Ke daerah
2014 Pengelolaan PBB Diserahkan Ke Kabupaten
SIDRAP-- Pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) secara bertahap akan diserahkan pemerintah pusat kepada Pemerintah Kabupaten. Pelimpahan tersebut efektif dilaksanakan paling lambat tanggal 1 Januari 2014.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kab. Sidrap, Wahyuddin SE MSi saat bertindak selaku Pembina Upacara di halaman Kantor Bupati Sidrap, Senin (24/1). Upacara diikuti jajaran PNS lingkup Pemkab Sidrap dan dihadiri Sekretaris Kabupaten Sidrap, H Ruslan SH MAP, para asisten, staf ahli bupati, kepala SKPD dan pejabat lainnya.
Wahyuddin menjelaskan, pelimpahan pengelolaan PBB secara bertahap tersebut sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Namun pelimpahannya tergantung kesiapan tiap-tiap daerah untuk melaksanakannya.
“Untuk itu persiapan harus dilakukan secara matang, khususnya persiapan SDM aparatur yang andal. Begitupun persiapan aspek-aspek pendukung lainnya,”ujarnya.
Aspek-aspek yang dimaksudkan Wahyuddin yaitu aspek peraturan hukum, sarana dan prasarana, aspek pendanaan serta penyesuaian struktur organisasi.
Sementara itu, Wahyuddin menyampaikan dengan pemberlakuan UU No. 28 Tahun 2009, maka UU No. 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sudah tidak berlaku lagi. “Hal ini harus dicermati aparat terkait, karena terdapat sejumlah aturan yang berubah,”ungkapnya.
Wahyuddin mencontohkan, pada Bea Perolehan Tanah dan Bangunan (BPHTB), nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak berdasarkan UU No 28 Tahun 2009 ditetapkan paling rendah sebesar Rp60 juta, sementara dalam peraturan sebelumnya hanya Rp15 juta.
“Hal-hal seperti ini yang harus dipahami sehingga tidak lagi terjadi kekeliruan dalam penetapan nilai pajak,”ingatnya.
Di bagian akhir arahannya pada upacara yang dipimpin Kasi Penetapan Pajak, Ramli dengan Perwira Upacara Kabid Retribusi Dispenda Sidrap, Ahmad SP MS itu, Wahyuddin menyinggung realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sidrap yang pada tahun 2010 mencapai 76,59%.
“Capaian tersebut tentunya berpengaruh terhadap belanja daerah, karenanya dibutuhkan kerja sama seluruh pihak untuk mencapai hasil yang lebih baik ke depan ”tandasnya.(Hamsah).
Sidrap Dorong Pertanian Organik

Misriani Ilyas : Janji Perjuangkan Alokasi Anggaran
SIDRAP-- Pemkab Sidrap melalui Bagian Pengembangan Perekonomian Setda dan unsur terkait menggelar kegiatan berupa pembekalan penyuluh pertanian organik tingkat Kabupaten Sidrap, di ruang Pola Kantor Bupati Sidrap, belum lama ini. Pembekalan diikuti oleh para kades/lurah dan perangkatnya, para penyuluh pertanian dan unsur terkait lainnya. Sebagai pemateri, Dr Rhomy Reynald, MM., M Si, pakar Sosial Ekonomi Pertanian dari salah satu perguruan tinggi dan Anggota DPRD Sulsel, Hj Misriani Ilyas S Sos, SP.
Kabag Peng Perekonomian Setda A Zulkarnain Mana S STP M Si selaku Ketua Panitia menyatakan menyambut baik dan memberikan apresiasi kehadiran para undangan, pemateri dan para peserta untuk mengikuti pembekalan penyuluh pertanian ini. Pada prinsipnya, kabag itu mengharapkan, kegiatan ini hendaknya diikuti dengan baik untuk mendapatkan bekal pengetahuan yang dapat diimplementasikan dan selanjutnya disebarluaskan kepada masyarakat petani.
Bupati Sidrap diwakili Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra, Drs H Amir A Wali MH menyampaikan, Kabupaten Sidrap adalah daerah agraris yang memiliki potensi sumber daya alam yang memadai untuk mengembangkan berbagai macam komoditi pertanian, perkebunan dan peternakan yang menjadikan daerah ini sebagai lumbung pangan nasional.
Berdasarkan hal tersebut, urai Asisten I itu, Sidrap merupakan daerah pengguna pupuk dan pestisida tertinggi di Sulawesi Selatan, sehingga tak dapat dipungkiri bahwa hal ini dapat berdampak pada kerusakan sifat fisik, kimia dan bilogi tanah. “Bisa diprediksi beberapa tahun ke depan seluruh lahan pertanian dan perkebunan di Sidrap tidak dapat lagi memberikan hasil optimal,” jelas aisisten mantan Kabag Pemerintahan Sidrap ini.
Dikatakan, produk pertanian yang telah terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia yang sifatnya beracun dan tentunya tidak layak dikonsumsi jika mengacu pada syarat kesehatan, maka pemakaian zat kimia bisa menjadi ancaman. “Dengan pertanian organik, merupakan program yang dapat meningkatkan hasil-hasil pertanian baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang ramah lingkungan, murah dan aman bagi kesehatan,” ujar Amir. Diharapkan, imbuhnya, dengan pelatihan dan pembekalan penyuluh pertanian organik ini pemerintah desa dan perangkatnya dapat melakukan upaya-upaya menanamkan nilai dan kesadaran masyarakat betapa pentingnya melakukan usaha pertanian organik.
Hj Misriani Ilyas S Sos SP, anggota DPRD Prov Sulsel yang dimintai penjelasannya kepada Humas dan sejumlah wartawan mengatakan, selaku wakil rakyat dari Dapil VI (mewilayahi Sidrap, Pinrang, Enrekang dan Tator), merasa terpanggil untuk memperhatikan permasalahan masyaraka di wilayah kerjanya.
Menurutnya, penggunaan pupuk kimia dan peptisida pada lahan pertanian dalam jangka waktu yang relatif lama memang bisa menyebabkan kerusakan struktur tanah sehingga unsur hara yang dibutuhkan tanaman berkurang. Untuk itulah, Misriani menganjurkan kepada petani agar menggunakan pupuk organik. “Saat ini telah banyak produk pupuk organik yang beredar di pasaran, silakan pilih. Bahkan, pupuk organik buatan lokal dapat dimanfaatkan sepanjang diyakini pupuk itu layak,” ujarnya.
Misriani, anggota Dewan yang juga Ketua Perempuan Demokrat Republik Indonesia (PDRI) DPD Sulsel itu hari itu juga sempat melakukan reses ke berbagai wilayah di Sidrap. Terkait dengan temuannya di lapangan, legislator Demokrat itu berjanji akan memperjuangkan anggaran pembangunan, khususnya di bidang pertanian untuk Kabupaten Sidrap melalui APBD Prov Sulsel tahun 2011 ini.
Selain itu, anggota Komisi C DPRD Sulsel ini juga akan memperhatikan masalah peningkatan infrastruktur di daerah ini. “Sebagai anggota Komisi C yang juga akan fokus memperjuangkan anggaran untuk peningkatan infrastruktur itu,” kilahnya. Termasuk, berniat memunculkan dalam pembahasan DPRD Prov Sulsel tentang adanya hama penyakit keping hitam yang menyerang tanaman padi di Sidrap. (Hamsah.
Sosialisasi Raskin 2011

Wabup Buka, Launching Program Raskin 2011
SIDRAP – Wakil Bupati (Wabup) Sidrap H Dollah Mando Rabu (26/1) membuka Peluncuran perdana Program Beras Miskin (Raskin) tahun 2011 tingkat Kabupaten Sidrap.Selain membuka secara resmi Launching tersebut juga diwarnai pelepasan balon ke udara serta penyerahan secara simbolis raskin oleh Wakil Bupati Sidrap, H Dollah Mando.
Serangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi program raskin 2011 yang diikuti para camat, kepala desa dan lurah se-Kab. Sidrap. Sosialisasi yang berlangsung di ruang Pola Kantor Bupati Sidrap tersebut dihadiri Asisten Ekonomi Pembangunan Sidrap, Drs Syarifuddin MSi, Ketua Komisi I DPRD Sidrap, Drs Anasrudin, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sidrap, Drs H A Baharuddin S, Kepala Sub Divre Bulog Sidrap, Ramli Hasan, serta sejumlah unsur terkait lainnya.
Dalam sambutannya, H Dollah Mando mengatakan pada tahun 2011 ini jumlah raskin yang disalurkan di Kabupaten Sidrap mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. “Tahun ini raskin yang akan disalurkan meningkat sekira 120.000 ton dari tahun 2010 lalu yang mencapai 3.056.430 ton,”ujarnya.
Dollah Mando menambahkan, jatah penerima raskin tiap bulannya juga mengalami peningkatan. Dikatakannya, jika tahun 2010 lalu setiap kepala keluarga menerima 13 kg/bulan, maka tahun ini bertambah menjadi 15 kg/bulan.
Sementara mengenai harga, Dollah Mando mengatakan sama dengan tahun lalu yaitu Rp1.600/kg. “Jadi harganya tidak boleh melewati itu, kalau mau kurang terserah,” ungkapnya setengah bercanda.
Mantan Kadis Pertanian Sidrap tersebut selanjutnya menjelaskan prinsip 6 Tepat yang harus dipenuhi demi kesuksesan program raskin. “Prinsip tersebut adalah, tepat penerima, tepat jumlah, tepat harga, tepat pelaksanaan, tepat administrasi dan tepat kualitas,”terangnya.
“Jika prinsip 6 Tepat terpenuhi, ditambah dengan pengawasan intensif dari tingkat kabupaten sampai desa/kelurahan, tentunya penyaluran raskin tahun akan lebih baik lagi,”pungkas Dollah.(Hamsah)
Minggu, 16 Agustus 2009
Siswa SDLB berkarya
Siswa SDLB Terus Berkarya Dari Keterbatasan Fisik
Ada yang menarik, dari kunjungan anjang sana pihak Pemkab Sidrap, sehari sebelum pringatan HUT RI ke 64. Tepatnya pada Minggu 16 Agustus lalu. Rombongan Sekkab Sidrap Drs H Hasanuddin Syafiuddin MSi harus terkesima melihat keterampilan para siswa Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Sidrap
Laporan : Hamsah
Di hadapan rombongan yang dipimpin Sekkab Sidrap, Drs H Hasanuddin Syafiuddin MSi, didampingi sejumlah pejabat lainnya semisal Kepala Bappeda Sidrap Drs A Irwan Bangsawan MSi, Kadis Perhubungan, A Khaerul, Kadis Koperasi, Hamka Laukki dan sejumlah pejabat lainnya, dua siswa SDLB Djunaid dan Wajang terus menunjukkan kebolehannya bagi para pengunjung itu.
Kunjungan ke SDLB itu sendiri sebagai rangkaian perayaan HUT RI ke 64.Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki oleh Wajang dan Djunaid, tidak lantas menjadikan kedua lelaki yang didik dan tumbuh di SDLB Pangkajene kabupaten Sidrap ini pupus harapan untuk berkarya. Dengan mengandalkan indera peraba (tangan,red) tanpa ditopang oleh penglihatan seperti orang normal lainnya, Djunaid dan Wajang dengan cukup lancar mampu memainkan alat musik di depan mereka.Jari-jari tangan mereka dengan gesit mampu memainkan alat musik piano yang diiringi temban lagu yang dibawakan salah seorang siswa SDLB sendiri dengan alunan suara yang cukup merdu. Bahkan Wajang sendiri sembari memaminkan piano juga mampu melantumkan sebuah lagu. Sontak lagu yang di bawakan Wajang itu membuat peserta rombongan Pemkab Sidrap yang hadir ikut terharu.
Bahkan begitu menyentuhnya lagu berjudul 'Sussana Tau Butae' (susahnya jadi orang buta',red) membuat Sekkab Sidrap nyaris menitikkan air mata harunya. Dengan jari tangan yang terus bergerak cepat, lagu yang di lantumkan juga terus menggema. Menggelitik perasaan bagi para tamu dari pemerintahan yang hadir untuk melakukan anjang sana di sekolah tersebut.
Selain rombongan Pemkab Sidrap warga sekitar SDLB yang mendengar alunan lagu para siswa SDLB itu ikut berdecak kagum. Mereka seolah tidak percaya bahwa alunan lagu yang mereka dengar itu dinyanyikan siswa SDLB yang kesehariannya mereka lihat sebagai kelompok cacat yang tidak bisa apa-apa.
"Siswanyami mungkin itu yang menyanyi, bagusnya suaranya,"ungkap salah seorang ibu-ibu dalam dialeg bugis yang mendengar alunan lagu siswa SDLB dari luar pagar sekolah.
Dengan kebolehannya, Djunaid dan Wajang bergantian memainkan piano untuk menghibur para rombongan anjang sana tersebut. Dalam kunjungan anjang sana tersebut, kepada pengelola SDLB diserahkan bantuan sembako kepada para siswa.
Sekkab Sidrap H Hasanuddin dalam kesempatan itu, mengungkapkan bahwa
para penderita cacat memang sangat layak untuk diberikan perhatian. Menurutnya semua kalangan harus mampu menjadi mitra terbaik bagi kaum penyandang cacat, dalam mengembangkan bakat mereka, termasuk dari Pemkab Sidrap.
untuk itulah Hasanuddin mengatakan bahwa bagi Pemkab, penyandang cacat
ini tetap akan menjadi perhatian dan akan dijadikan mitra terbaik.
"Mereka ini butuh mitra dalam hidup mereka makanya kita harus bisa
menjadi mitra terbaik bagi mereka utamanya dalam pengembangan keahlian mereka,"jelasnya.
SDLB yang di huni sekitar 55 siswa yang terdiri dari laki-laki 33 orang dan perempuan 22 orang ini menyambut uplous sambutan Sekkab Sidrap tersebut.
Ada kisah pilu di SDLB, disebutkan pernah suatu waktu SDLB kehabisan persediaan untuk makan. Sehingga saat itu ia harus bermohon ke Dinas Sosial untuk sekedar mendapatkan bantuan makanan. Sehingga pengeloah berharap, tidak lagi dilanda masalah serupa dimasa mendatang.(sah)
Ada yang menarik, dari kunjungan anjang sana pihak Pemkab Sidrap, sehari sebelum pringatan HUT RI ke 64. Tepatnya pada Minggu 16 Agustus lalu. Rombongan Sekkab Sidrap Drs H Hasanuddin Syafiuddin MSi harus terkesima melihat keterampilan para siswa Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Sidrap
Laporan : Hamsah
Di hadapan rombongan yang dipimpin Sekkab Sidrap, Drs H Hasanuddin Syafiuddin MSi, didampingi sejumlah pejabat lainnya semisal Kepala Bappeda Sidrap Drs A Irwan Bangsawan MSi, Kadis Perhubungan, A Khaerul, Kadis Koperasi, Hamka Laukki dan sejumlah pejabat lainnya, dua siswa SDLB Djunaid dan Wajang terus menunjukkan kebolehannya bagi para pengunjung itu.
Kunjungan ke SDLB itu sendiri sebagai rangkaian perayaan HUT RI ke 64.Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki oleh Wajang dan Djunaid, tidak lantas menjadikan kedua lelaki yang didik dan tumbuh di SDLB Pangkajene kabupaten Sidrap ini pupus harapan untuk berkarya. Dengan mengandalkan indera peraba (tangan,red) tanpa ditopang oleh penglihatan seperti orang normal lainnya, Djunaid dan Wajang dengan cukup lancar mampu memainkan alat musik di depan mereka.Jari-jari tangan mereka dengan gesit mampu memainkan alat musik piano yang diiringi temban lagu yang dibawakan salah seorang siswa SDLB sendiri dengan alunan suara yang cukup merdu. Bahkan Wajang sendiri sembari memaminkan piano juga mampu melantumkan sebuah lagu. Sontak lagu yang di bawakan Wajang itu membuat peserta rombongan Pemkab Sidrap yang hadir ikut terharu.
Bahkan begitu menyentuhnya lagu berjudul 'Sussana Tau Butae' (susahnya jadi orang buta',red) membuat Sekkab Sidrap nyaris menitikkan air mata harunya. Dengan jari tangan yang terus bergerak cepat, lagu yang di lantumkan juga terus menggema. Menggelitik perasaan bagi para tamu dari pemerintahan yang hadir untuk melakukan anjang sana di sekolah tersebut.
Selain rombongan Pemkab Sidrap warga sekitar SDLB yang mendengar alunan lagu para siswa SDLB itu ikut berdecak kagum. Mereka seolah tidak percaya bahwa alunan lagu yang mereka dengar itu dinyanyikan siswa SDLB yang kesehariannya mereka lihat sebagai kelompok cacat yang tidak bisa apa-apa.
"Siswanyami mungkin itu yang menyanyi, bagusnya suaranya,"ungkap salah seorang ibu-ibu dalam dialeg bugis yang mendengar alunan lagu siswa SDLB dari luar pagar sekolah.
Dengan kebolehannya, Djunaid dan Wajang bergantian memainkan piano untuk menghibur para rombongan anjang sana tersebut. Dalam kunjungan anjang sana tersebut, kepada pengelola SDLB diserahkan bantuan sembako kepada para siswa.
Sekkab Sidrap H Hasanuddin dalam kesempatan itu, mengungkapkan bahwa
para penderita cacat memang sangat layak untuk diberikan perhatian. Menurutnya semua kalangan harus mampu menjadi mitra terbaik bagi kaum penyandang cacat, dalam mengembangkan bakat mereka, termasuk dari Pemkab Sidrap.
untuk itulah Hasanuddin mengatakan bahwa bagi Pemkab, penyandang cacat
ini tetap akan menjadi perhatian dan akan dijadikan mitra terbaik.
"Mereka ini butuh mitra dalam hidup mereka makanya kita harus bisa
menjadi mitra terbaik bagi mereka utamanya dalam pengembangan keahlian mereka,"jelasnya.
SDLB yang di huni sekitar 55 siswa yang terdiri dari laki-laki 33 orang dan perempuan 22 orang ini menyambut uplous sambutan Sekkab Sidrap tersebut.
Ada kisah pilu di SDLB, disebutkan pernah suatu waktu SDLB kehabisan persediaan untuk makan. Sehingga saat itu ia harus bermohon ke Dinas Sosial untuk sekedar mendapatkan bantuan makanan. Sehingga pengeloah berharap, tidak lagi dilanda masalah serupa dimasa mendatang.(sah)
Selasa, 14 Oktober 2008
Ridho Sindir Kandidat Lain Di Pilkada Sidrap

Ridho Sindir Kandidat Lain
Kampanye Perdana Dihadiri Ribuan Pendukung
SIDRAP-- Pasangan Rusdi Masse-Dollah Mando (Ridho), menyindir kandidat Bupati dan Wakil Bupati Sidrap lainnya, yang dinilai meniru program duet mantan legislator-birokrat itu. Hal itu karena sebagain program kerja yang mereka 'jual' ke masyarakat saat ini juga banyak di munculkan kandidat lainnya.
Sindiran tersebut disampaikan Ridho melalui iklan yang diterbitkan sejumlah harian kemarin. Dalam iklan itu, Ridho mengklaim pasangan pertama yang memprogramkan pendidikan dan kesehatan gratis, akta kelahiran gratis, KTP dan kartu keluarga gratis, subsidi bagi petani, dan sejumlah program lainnya.
Dalam iklan itu juga disebutkan, setelah pasangan Ridho memunculkan program itu melalui sejumlah baliho yang tersebar di sejumlah titik di Sidrap, maka kandidat lain juga memunculkan program yang sama. Rusdi Masse menyebutkan bahwa program yang mereka susun betul-betul dibutuhkan oleh warga Sidrap saat ini.
Meski demikian, pasangan yang diusung Partai Bintang Reformasi (PBR) dan Partai Amanat Nasional (PAN) itu, tidak mempersoalkan tindakan tersebut. Bahkan dalam pemaparan visi dan misi masing-masing pasangan calon Bupati Sidrap pada Sidang Paripurna DPRD Sidrap 12 Oktober lalu, pengusaha ekspedisi itu mengajak lima pasang kandidat bupati lainnya, untuk menyerahkan dokumen visi dan misinya kepada Ridho, jika pasangan itu terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sidrap pada 29 Oktober mendatang.
"Begitupun dengan kami, juga akan menyerahkan visi dan misi kami kepada kandidat lain yang terpilih dalam pemilu mendatang. Karena kami yakin, program yang telah kita susun, adalah kondisi riil Sidrap. Sementara solusi yang ditawarkan memang dibutuhkan warga," jelas pasangan Dollah Mando itu.
Hal senada juga dikatakan pasangan itu dalam kampanye terbuka yang dilaksanakan di Lapangan Andi Takko Kelurahan Tanru Tedong Sidrap kemarin. Dihadapan ribuan pendukungnya, Ridho menjanjikan terjadinya perubahan Sidrap secara keseluruhan. Dalam orasinya, Rusdi Masse mengatakan dirinya berserta Dollah Mando akan melakukan perubahan untuk menjadikan Sidrap lebih baik dari saat ini.
Dijelaskan, bahwa pasangan itu akan membuka sebanyak 15 ribu lapangan kerja baru di Sidrap. Dengan pembukaan lapangan kerja baru itu, maka dipastikan ribuan warga Sidrap yang saat ini belum bekerja, akan terserap dunia kerja. Selain itu, warga Sidrap yang umumnya petani, juga akan diberikan subsidi agar mampu meningkatkan produktifitas lahan yang ada.
"Kita akan menyalurkan pupuk yang bisa dikredit tanpa bunga oleh warga. Pupuk itu bisa diperoleh saat awal musim tanam, dan bisa dilunasi setelah panen. Jika pemerintah tidak mampu memberikan subisidi itu, maka saya akan lakukan secara pribadi," tegas lelaki kelahiran Rappang 3 Maret 1973 itu.
Sindiran sama juga disampaikan Dollah Mando yang mengatakan bahwa tebu tidak layak di Sidrap, tapi yang layak adalah meningkatkan produktifitas pertanian di Bumi Nene Mallomo itu.
Ketua DPW PAN Sulsel Ashabul Kahfi yang juga hadir dalam kampanye perdana Ridho kemarin meyakini, program yang ditawarkan oleh duet itu memang sangat cocok dengan kondisi Sidrap saat ini. Makanya dia mengajak kepada seluruh warga Sidrap, pendukung dan kader PAN, agar memilih pasangan Ridho pada 29 Oktober mendatang.
Lebih lanjut menurut Ashabul, pasangan Ridho memang sangat pas untuk memimpin Sidrap. Rusdi Masse disebutnya adalah pengusaha yang sangat sukses menaklukkan Jakarta, dan perusahaannya mampu menyerap ribuan tenaga kerja. Sementara Dollah Mando adalah mantan birokrat yang sangat mumpuni di bidang pemerintahan.
"Saya pastikan, warga Sidrap tidak akan salah pilih jika mencoblos nomor 4 Ridho pada 29 Oktober mendatang. Apalagi warga Sidrap yang membutuhkan perubahan menjadi lebih baik, pasangan Ridho yang mampu mewujudkan hal itu," terang Ketua DPW PAN Sulsel.
Penegasan senada juga disampaikan oleh Ketua DPW PBR Sulsel Nur Hasan dalam orasinya kemarin. Menurut Hasan, Ridho adalah pasangan yang cocok memimpin Sidrap lima tahun ke depan. Hal itu berdasarkan pengalaman yang dimiliki duet tersebut. Dia juga menyebutkan, sosok pemimpin yang dibutuhkan oleh warga Sidrap, ada pada pasangan Ridho.
"Sebenarnya, sejumlah kegiatan yang program pasangan Ridho telah dilaksanakan sejak beberapa tahun terakhir. Seperti penyediaan ambulans gratis, dan penyediaan lapangan kerja seluas-luasnya bagi warga. Berdasarkan data, sekitar 75 persen karyawan Rusdi Masse di Jakarta, adalah warga Sidrap. Sekali lagi, warga Sidrap tidak akan salah pilih jika memilih Ridho," tegas Ketua DPW PBR Sulsel.
Selain Ketua DPW PBR dan PAN Sulsel, juga tampak hadir dalam kampanye kemarin adalah legislator PBR Sulsel A Besse Marda, putri Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Indira Cunda Titha Syahrul, mantan Ketua DPRD Sidrap Sairing Djafar, Ketua DPD PAN Sidrap Baharuddin Andang, dan sejumlah pengurus DPW PBR dan PAN Sulsel.(Hamsah)
Senin, 06 Oktober 2008
Jumat, 05 September 2008
Kaligrafi Ajaib Di Pohon

Oleh : Muhammad Riza
Salah satu pohon kapuk pebuh Kaligrafi Arab yang menghebohkan warga Pidie.
Ribuan warga Pidie sejak beberapa hari terakhir ini dihebohkan munculnya kaligrafi arab di 10 batang pohon kapuk. Mereka dari berbagai daerah berduyun-duyun datang ke Desa Cot Jeureulik, Tgk. Laweueng, lokasi 10 batang pohon kapuk yang tiba-tiba tertoreh kaligrafi arab.
Cepatnya tersiar kabar dari mulut ke mulut masyarakat membuat Waspada ikut ambil bagian untuk melihat langsung misteri munculnya kaligrafi itu. Ternyata untuk menembus Desa Cot Jeureulik, Tgk. Laweueng, lokasi 10 batang pohon kapuk itu tidak mudah. Terletak di perbukitan kawasan Goa Tujuh, Waspada yang menggunakan mobil harus menempuh perjalananan cukup melelahkan.
Sebab, medan jalan yang dilewati penuh dengan batu cadas, menanjak dan banyak tikungan patah. Bila tidak hati-hati kendaraan yang kita tumpangi itu jatuh ke jurang di bawahnya empang. Setiba di lokasi, terlihat kerumunan warga lagi serius memperhatikan kaligrafi arab misterius itu.
Meski telah dipasang garis polisi, umumnya para pengunjung memetik daun kapuk tersebut untuk dijadikan obat. Warga yakin dengan meminum air dari daun itu segala penyakit yang dideritanya akan sembuh. Fenomena ini akan Anda lihat langsung bila datang ke lokasi itu.
Keterangan warga setempat lokasi sekitar Goa Tujuh itu memang banyak terdapat hal mistis. Bila kita berada di lokasi itu tidak sopan akan kita jumpai hal-hal mistis yang tidak masuk dalam akal pikiran manusia. Peristiwa munculnya kaligrafi tersebut mungkin sebuah teguran terhadap umat manusia yang selama ini telah lupa akan sang penciptanya.
Menurut Marwan, 33, warga Desa Cot yang sehari-hari bercocok tanam di lokasi itu sebelumnya tidak pernah melihat kaligrafi Arab di 10 pohon kapuk tersebut. Padahal setiap hari ia usai merawat tanaman cabai selalu beristirahat di bawah batang pohon kapuk tersebut dengan mengikat ayunan, tapi tidak pernah melihat adanya kaligrafi Arab tersebut.
"Saya sudah empat tahun bercocok tanam di sini tapi tidak pernah melihat ada kaligrafi Arab di pohon kapuk ini. Mungkin saya tidak perhatikan. Tapi kalau kita perhatikan ukirannya ini sepertinya sudah lama sekali," ucap Marwan penasaran.
Menurut Marwan, kejanggalan ini pertama dilihat oleh sejumlah bocah desa setempat. Sore itu, Sabtu (19/10) awan hitam bergelombang menghiasi langit di atas Guha Tujoh (Goa Tujuh-red) Laweung, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie. Beberapa bocah Desa Cot Jereulik Tgk. Laweueng terlihat lagi asyik bermain bola, mereka tidak menghiraukan hujan akan turun.
Melihat hujan akan turun, Marwan mengambil sepeda motornya pulang ke rumah. Saat pulang Marwan sempat mengajak anak-anak itu pulang karena hari akan hujan. Tapi dasar bocah tidak menghiraukan ajakannya. Lalu Marwan tancap gas kembali ke rumahnya, di tengah jalan Marwan berhenti karena hujan lebat telah turun. Kemudian Marwan mencari tempat berteduh.
Demikian juga bocah tadi menghentikan bermain bola dan mencari tempat berteduh. Tiba–tiba petir disertai kilat menyambar, namun aneh pada 10 batang pohon kapuk tersebut ada kilatan cahaya. Tak lama kemudian kilatan cahaya pada 10 batang pohon kapuk itu hilang hujanpun mulai reda. Lalu bocah-bocah tersebut keluar dari tempat berteduh saat pulang mereka memperhatikan pohon kapuk yang ada kilatan tadi.
Ternyata seluruh batang, ranting dan daun Kapuk tersebut telah bertuliskan Allah, Muhammad dan ayat-ayat Al Quran lainnya.
Bocah-bocah tadi pulang ke rumahnya masing-masing dengan berlari. Sesampai di rumah mereka menceritakan pada orang tuanya. Lalu warga setempat datang ke lokasi untuk memastikan kabar yang di sampaikan bocah-bocah tadi, sesampai di lokasi ternyata betul ke10 batang pohon Kapuk tadi penuh dengan kaligrafi Arab. Kemudian oleh kepala desa dan warga lainnya melaporkan peristiwa ini kepada Kapolsek setempat.
Tgk. Al-Azhar, pimpinan Pesantren Jabal Ulum Desa Tgk. Laweueng yang ikut memperhatikan tulisan Arab itu berpendapat. Tulisan Arab yang terdapat di pohon kapuk itu sepertinya telah lama timbul, tapi tidak begitu jelas. Ia juga berpendapat tulisan Arab itu belum dapat dipastikan karena tidak berbentuk sebuah qalam. Tapi bisa juga dikatakan itu huruf hijaiyah. Huruf itu sebuah kalimat khathtsulus yang hanya dapat dibaca oleh penulis itu sendiri.
Camat Muara Tiga, Azhari Yacub, SH kepada Waspada, Minggu (12/10) menyebutkan, pihaknya belum dapat memprediksikan ikhwal kejadian itu. Namun dirinya dalam waktu dekat ini akan mendatangkan ulama yang mengerti akan kaligrafi misterius tersebut. "Kita belum tahu, apa ini dibuat oleh manusia atau memang benar-benar kekuasaan Allah," jelas Azhari.
Misteri munculnya Kaligrafi di 10 batang kapuk telah membuat masyarakat mempercayai berlebihan. Ada di antara mereka mengambil daun dan kulit batang Kapuk itu dijadikan sebagai ramuan obat yang diyakini dapat menyembuhkan segala penyakit. Dalam hal ini peran ulama besar untuk menyadarkan umat sebelum tersesat dari ajaran Islam.
Kamis, 21 Agustus 2008
Bungnge Citta Nene Mallomo

Lebih Dekat Dengan Bungnge Citta Nene Mallomo (1)
Diyakini Mampu Mengusir Roh Dan Pengaruh Ilmu Hitam
Sekilas sumur Bungnge Citta Nene Mallomo yang terletak di sebelah kiri jalan menuju Kabupaten Soppeng terlihat seperti sumur umum. Hampir setiap hari terlihat warga sekitar datang mencuci pakaian di tempat itu. Namun Siapa sangka sumur itu menyimpan cerita unik.
Laporan : Hamsah
Sumur Bungnge Citta Nene Mallomo selain menjadi tempat keseharian bagi kaum ibu mencuci pakaian atau mandi dan keperluan air lainnya, ternyata dibalik fungsi umum sebuah sumur umum, tersimpan cerita unik di sumur tersebut.
Sumur yang dikabarkan telah ada sejak ribuan tahun lalu itu dan telah setia memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat Desa Allakuang Kecamatan Maritengngae itu juga memiliki air yang diyakini berkhasiat menghilangkan pengaruh ilmu hitam dan gangguan roh jahat.
Bagi sebagaian masyarakat Sidrap terutama yang bermukim di sekitar Desa Allakuang dan wilayah sekitarnya Sumur Bungnge Citta Nene Mallomo dianggap keramat, air yang keluar dari sumur itu juga kerap dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengobatan.
Salah seorang tokoh masyarakat Allakkuang, Abd Razak menjelaskan bahwa umumnya masyarakat yang meyakini khasiat dari air itu, memanfaatkan air tersebut untuk keperluan mengusir roh jahat atau menangkis ilmu hitam. Sebab air itu diyakini suci.
"Bahkan warga Towani Tolotang sering datang ke sumur itu khusus mencuci pakaian orang mati, dengan maksud agar pakaian tersebut bersih dari gangguan roh,"jelas Razak.
Lelaki yang kesehariannya juga menjual aneka pahatan batu ini juga menjelaskan bahwa air yang keluar dari sumur yang memiliki kedalam sekitar 10 meter lebih itu, juga sering dimanfaatkan jimat untuk memudahkan segala urusan.
"Makanya hampir setiap pindah rumah masyarakat datang mengambil air ditempat itu sekitar satu botol kemasan. Itu disimpan di pusat rumah begitupu ketika akan memulai sebuah pekerjaan seperti berdagang dan lainnya itu juga diambil sebagai pappalomo (untuk memberikan kemudahan,red),"terangnya.
Selain itu menurut Razak, air itu juga sering dmanfaatkan bagi ibu hamil untuk memudahkan persalinan. Maka tidak heran kata dia jika banyak orang hamil yang datang untuk sekedar mengambil air satu botol kemasan untuk disimpan dirumahnya sebagai jimat pelancar persalinan.
"Ini yang pokok, selain untuk mengusir roh jahat dan ilmu hitam ini juga sangat sering dijadikan sebagai obat untuk memperlancar segala urusan,"kilahnya. (*bersambung)
===================
Lebih Dekat Dengan Bungnge Citta Nene Mallomo (2)
Air Muncul Secara Ajaib
Keyakinan akan khasiat air Sumur Bungnge Citta Nene Mallomo bukan tanpa alasan. Kemuncuan air pertama kali di sumur itu diyakini muncul secara ajaib.
Laporan : Hamsah
Dari sejarah yang berkembang dimasyarakat, awal munculnya air di Sumur Bungnge Citta Nene Mallomo itu bermula dari sejarah tokoh legendaris Kabupaten Sidrap, Nene Mallomo. Kabarnya Nene Mallomo suatu saat sangat ingin membantu masyarakat disekitarnya yang lagi kesulitan air. Sehingga dengan niat suci untuk membebaskan masyarakat dari belenggu kesulitan air, Nene Mallomo lalu menhentakkan kakikinya ke tanah.
Wal hasil, dari bekas hentakan kaki Nene Mallomo itu, muncullah semburan air yang semakin banyak dan akhirnya tempat tersbut menjadi sebuah sumur yang mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat waktu itu.
Sejak itulah lokasi itu terus lestari menjadi sebuah sumur yang dijadikan sebagai tempat pengambilan air bagi masyarakat sampai saat ini. Hanya saja menurut keterangan warga setempat air di sumur itu tidak lagi banyak beberpa tahun lalu. Banyaknya sumur bor di rumah-rumah yang terbilang dekat dari sumur di yakini menjadi penyebab kurangnya air sumur di Sumur Bungnge Citta Nene Mallomo itu.
"Sebelum ada sumur bor air di sumur itu meluap-luap, tapi sekarang tidak lagi tapi tetap tidak bisa kering meskipu kemarau panjang melanda. Hanya saja sejak adanya sumur bor, sebagaian air sumur itu meresap ke sumur bor itu,"jelas salah seorang tokoh masyarakat Desa Allakuang, Lokasi Sumur itu berada, Abd Razak.
Lantas apa hubungan keyakinan masyarakat sekarang dengan kemunculan air di Sumur Bungnge Citta Nene Mallomoitu secara ajaib?.
Abd Razak bercerita panjang soal itu. Menurutnya keyakinan itu erat kaitannya dengan kehidupan sang tokoh legendaris Sidrap Nene Mallomo. Semasa hidupnya Nene Mallomo disebutkan sebagai lelaki yang cerdik. Tidak ada tugas dan keluhan raja (Arung) yang ia anggap sulit. Semua kesulitan yang dihadapi arung saat itu mampu di hadapi dengan sangat enteng.
Adalah sebuah kisah, saat Arung yang bermuki di Sidrap akan melakukan adu kerbau dengan sejumlah raja dari berbagai penjuru nusantara. Kabar tentang kehebatan kerbau dari para raja yang akan menjadi lawan Arung yang bermukim di Sidrap cukup meresahkan sang Arung.
Namun dengan kecerdikan Nene Mallomo kerisauan Arung mampu diatasi Nene Mallomo. Saat itu Arung sempat berkecil hati sebab Nene Mallomo hanya menyiapkan kerbau kecil yang masih menyusui, sementara lawan-lawannya disebutkan akan membawa kerbau besar dan hebat. Tapi setelah diyakinkan akhirnya Arung menerima alasan Nene Mallomo.
Saat akan bertanding, anak kerbau yang masih menyusui itu dibiarkan kelaparan dan tidak disusui dengan induknya. Dibagian mulut anak kerbau itu dipasangi taji (jenis senjata tajam khusus dalam adu hewan). Saat anak kerbau itu dilepas, karena dalam kondisi sangat lapar ia langsung memburu kerbau lawannya dengan maksud akan menyusu, akibatnya bagian bawah lokasi yang setara dengan lokasi susu induknya robek oleh tusukan taji, mengakibatkan kerbau besar lari tunggang langgang.
"Ini salah satunya dan banyak cerita lain tentang kecerdikan Nene Mallomo dalam memudahkan urusan Arung, makanya itulah yang dijadikan dasar filosofi bagi masyarakat ketika mengambil air dengan maksud urusan mereka akan mudah seperti mudahnya Nene Mallomo dalam memecahkan teka teki yang amat sulit yang dihadapi para Arung,"papar Razak.(*)
============================
Keterlambatan Pengisian Jabatan Lembaga Baru Akan Hambat DAU
SIDRAP-- Keterlambatan pengisian jabatan di lembaga baru dinilai akan menghambat Dana Alokasi Umum (DAU). Sebab itu dinilai menjadi acuan pengucuran DAu disetiap daerah. Selain itu keterlambatan itu juga akan turut berpengaruhterhadap penunjang aktivitas kelembagaan baru yang telah diperdakan, termasuk kenaikan pangkat pejabat.
Dengan alasan itulah sehingga untuk menerapkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2007 tentang organisasi perangkat daerah dan mengingat beberapa pertanyaan mengenai jabatan Kepala Bidang pada Dinas dan Badan perangkat daerah kabupaten dan kota yang mencakup pengisian jabatan sejumlah pejabat dalam lingkup pemerintahan dan eselonnya, pemkab Sidrap segera melaksanakan pengisian jabatan sesuai dengan perangkat aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Hanya saja kemungkinan agak lambat,sebeb pelaksanaan mutasi dalam mengisi sejumlah jabatan eselon meskipun telah ditetapkann perda PP Nomor 41, khususnya eselon III dan IV, dan Badan Pertimbangan jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) Sidrap sudah melakukan rapat dan mengusulkan sejumlah nama PNS yang akan mengisi jabatan baru tersebut kepada Bupati Sidrap sejak beberapa bulan yang lalu namun sampai saat ini belum terealisasi.
"Itu masih dalam proses, yang jelas kita sudah mengirim beberapa nama untuk mengisi jabatan yang masih lowong,"jelas Sekkab Sidrap belum lama ini.
Keluarnya surat Badan Kepegawaian Negara (BKN) di Jakarta sejak 13 Juni lalu tentang Hak kepegawaian dan hak administrasi bagi kepala Bidang pada Dinas dan Badan Perangkat Daerah Kabupaten dan Kota sesuai PP Nomor 41 2007 itu menjadi suatu desakan mendasar kepada pemerintah daerah untuk segera melakukan pengisian jabatan.
Hasanuddin menilai jika jabatan lowong tidak segera terisi itu artinya penataan organisasi perangkat daerah sesuai dengan PP Nomor 41 Tahun 2007 belum terlaksana. Hal ini juga berimbas bagi tingkat eselon sesuai organisasi perangkat daerah berdasarkan PP Nomor 8 Tahun 2003 dengan ketentuan kenaikan pangkat bagi semua PNS yang menduduki jabatan struktural dilingkungan masing-masing tidak dapat dipertimbangkan untuk kenaikan pangkat jika terlambat direalisasikan. (sah)
Jumat, 30 Mei 2008
Negeri Jeruk Yang Sedih

Ketika kita meninggalkan Java menuju Akka, aku tak merasakan kesedihan, ini seperti berpergian dari sebuah kota ke kota lainnya untuk berlibur. Selama beberapa hari, tak terjadi hal-hal yang menyedihkan, aku merasa gembira karena kepindahan ini memberiku istirahat yang indah dari sekolah….kemudian segalanya berubah ketika Akka diserang (oleh tentara Israel). Malam itu terasa berat bagiku dan untukmu. Para perempuan berdoa, lelaki-lelaki terdiam. Kau dan aku dan semua anak seusia kita tidak memahami apa yang tengah terjadi…Namun, sejak malam itulah kita mulai menyulam kisah kita. Ketika tentara Israel pergi, setelah mengancam dan mengucapkan sumpah serapah, sebuah van besar berhenti di depan rumah kita, kemudian perkakas-perkakas kecil (terutama kasur dan selimut) mulai dilemparkan ke dalamnya. Aku tengah berdiri bersandar pada dinding rumah tua itu ketika aku melihat ibumu naik ke van itu, kemudian bibimu, kemudian anak-anak kecil lainnya. Ayahmu menggendongmu dan menempatkanmu di mebel, dan dengan cara yang sama, ia mengangkatku di atas kepalanya dan menempatkanku di kotak besi di atas van. Di sini ada saudaramu Riad yang duduk dalam diam. Kemudian mobil berjalan sebelum aku duduk dengan nyaman, dan Akka pun perlahan-lahan menjauh di belakang jalan berkelok naik yang membawa ke sebuah tempat bernama “Rass Ennakoura ini.
Cuaca terasa dingin. Hawa dingin menyentuh tubuhku. Riad duduk dengan tenang dan menaikkan kakinya ke atas kotak, menyandarkan punggungnya ke furnitur, dan menatap langit. Aku duduk dalam diam, memegangi lututku dengan jari-jariku dan menaruh daguku di antara kedua kakiku…..Di sepanjang jalan banyak belukar pohon-pohon jeruk. Perasaan takut dan gelisah menghinggapi tiap orang…Mobil berjalan dengan susah payah di jalanan yang basah, sementara di kejauhan kita mendengar suara tembakan yang seolah mengucapkan selamat tinggal pada kita semua. Ketika Rass Ennakoura telah tampak, mobil berhenti…para perempuan turun dari sela-sela barang-barang dan pergi menghampiri seorang petani yang tengah berjongkok di depan sebuah keranjang jeruk..... Mereka membawa jeruk-jeruk mereka, kami mendengar mereka meratap. Saat itulah aku merasa bahwa jeruk adalah sesuatu yang berharga...dan jeruk besar ini adalah kesayangan kami. Para perempuan membeli jeruk-jeruk itu dan kembali ke mobil dan kemudian ayahmu beranjak dari tempatnya di sisi sopir, mengulurkan tangannya, mengambil sebuah jeruk, menatapnya dalam diam, kemudian tiba-tiba menangis seperti anak kecil yang menderita.
Di Rass-Ennakoura, mobil kita berhenti di antara mobil-mobil lainnya. Para lelaki menyerahkan pistol mereka pada para polisi yang memang berada di sini untuk melakukan hal itu. Ketika giliran kita tiba, meja itu telah dipenuhi pistol dan senapan otomatis. Aku melihat guratan panjang bayangan sebuah mobil besar masuk ke Libanon dan meninggalkan negeri jeruk ini jauh di belakangnya....Aku menangis dengan keras...ibumu masih tetap tercenung menatap jeruk-jeruk....Dalam mata ayahmu tergambar jelas pohon-pohon jeruk yang ditinggalkannya untuk orang-orang Israel...semua pohon jeruk yang telah ditanam dengan penuh kesabaran berkerjapan dalam mata ayahmu. Dia tak bisa menghentikan air mata yang membanjiri matanya ketika berhadap-hadapan dengan kepala polisi. Ketika kita sampai di Saida, pada sore harinya, kita pun telah menjadi pengungsi.
. . . . . . . .
Jalanan menyerap kita di antara hal-hal lain. Tiba-tiba ayahmu menjadi lebih tua dari sebelumnya, ia terlihat seperti orang yang tak bisa memejamkan mata dalam waktu yang lama. Dia berdiri di antara barang-barang, yang diletakkan di sisi jalan. Aku tahu jika saat itu aku menanyakan sesuatu padanya, pasti dia akan meledak dan berkata, “terkutuklah ayahmu....terkutuklah kau....” sumpah serapah ini tergambar jelas di wajahnya. Bahkan aku, yang tumbuh dalam sebuah sekolah Katolik konservatif, pada saat itu merasa ragu jika Tuhan benar-benar ingin membuat hambanya bergembira. Aku ragu jika Tuhanku bisa mendengar dan melihat segala sesuatu.....Semua gambaran yang menunjukkan Tuhan mencintai anak kecil dan tersenyum pada mereka terlihat seperti sebuah dusta di antara dusta-dusta lainnya yang dibuat oleh orang-orang yang mendirikan sekolah konservatif hanya demi mendapat penghasilan tambahan. Aku yakin jika Tuhan, yang kami kenal di Palestina, left her as wol dan Dia adalah seorang pengungsi yang mengasingkan diri di suatu tempat di dunia ini, dan Dia tidak bisa memecahkan persoalannya sendiri, dan kita, para pengungsi, yang tengah duduk di pinggiran jalanan, menunggu nasib yang akan memberi kita jalan keluar. Kita bertanggung jawab untuk menemukan solusi bagi kita sendiri….kita bertanggung jawab untuk mencari sebuah atap yang menaungi kepala-kepala kita. Penderitaan mulai menghantam kepala anak muda yang naif.
Malam terasa mengerikan, gelap perlahan-lahan jatuh, sedikit demi sedikit, aku merasa takut…. pikiran bahwa aku akan menghabiskan malam di trotoar ini memenuhi jiwaku dengan mimpi buruk yang mengerikan…..tidak ada seorang pun yang berusaha menenangkanku…..aku tidak menemukan seorang pun tempat aku bisa bersandar…..kesunyian ayahmu yang kaku, bahkan membuatku semakin takut, sementara jeruk yang ada di tangan ibu membakar api di dalam dadaku….setiap orang terdiam, setiap orang menatap ke jalanan yang gelap dan berahap akan muncul solusi dari setiap sudut jalan dan menempatkan kami di bawah sebuah atap. Dan datanglah takdir itu. Itu adalah pamanmu yang datang ke kota beberapa hari yang lalu. Dialah takdir kita.
Pamanmu bukanlah orang baik-baik dan ketika ia menemukan dirinya terlantar di jalanan, dia menjadi lebih buas. Dia pergi ke sebuah rumah di mana sebuah keluarga Yahudi tinggal, membuka pintunya, melempar keluar semua barang yang ada di sana dan berteriak di hadapan mereka: “pergi ke Palestina.” Mereka tidak benar-benar pergi ke Palestina, namun karena terintimidasi oleh rasa frustasi dan kemarahan pamanmu, mereka beringsut ke ruangan lain dan membiarkannya menikmati atap dan lantai. Pamanmu membawa kita ke ruangan itu; di mana kita dijejalkan di antara keluarga dan barang-barangnya. Kita tidur di lantai dan diselimuti dengan jas hujan laki-laki. Di pagi hari, ketika kita bangun, laki-laki itu masih duduk di kursi....dan tragedi itupun mulai menekan tubuh-tubuh kita.......semua tubuh kita.... !!!
Kita tidak tinggal lama di Saida, ruangan pamanmu tidak cukup besar untuk menampung bahkan setengah dari rombongan kita. Kita tinggal di sini selama tiga hari. Ibumu meminta ayahmu untuk mencari kerja atau kembali ke ladang jeruk. Ayahmu meledak di hadapannya. Suaranya bergetar karena marah. Kemudian persoalan keluarga kita pun dimulai. Keluarga yang bahagia, saling terikat kuat, berada di sini dengan belukar pohon jeruk dan sebuah rumah tua, dan para martir. Aku tidak tahu dari mana ayahmu memperoleh uang. Aku tahu ia menjual perhiasan ibumu, yang dulu pernah diberikan padanya untuk membuat ibumu gembira dan bangga padanya. Namun, perhiasan semata tidaklah cukup untuk memecahkan masalah kita, seharusnya ada sumber-sumber lain. Apakah ayahmu meminjam uang? Apakah ia menjual barang-barang yang ia bawa tanpa memberi tahu kita!. Aku tak bisa mengatakan….namun aku masih ingat bahwa kita berpindah ke pinggiran kota Saida, dan di sini, ayahmu duduk di sebuah bukit yang tinggi dan untuk pertama kalinya tersenyum….ia sudah menunggu datangnya tanggal 15 Mei untuk kembali bersama dengan para tentara yang menang.
Akhirnya, tanggal 15 Mei pun tiba setelah masa-masa yang pahit dan keras. Tepat pada pukul 12 malam ia menendangku ketika aku masih terlelap dan berkata dengan suara yang penuh harapan; Bangun! Pergilah! lihat para prajurit Arab memasuki Palestina. Aku bangun dengan penuh semangat dan kita berlari bertelanjang kaki di sepanjang bukit itu, tengah malam, hingga kemudian kita sampai di jalanan yang jauhnya sekitar satu kilometer dari desa. Kita semua masih muda sementara orang-orang yang lebih tua berlari terengah-engah seperti orang idiot. Kita melihat secercah cahaya lampu mobil di kejauhan melintasi Rass Ennakoura. Ketika kita tiba di jalan utama, kita merasa kedinginan, namun teriakan-teriakan gila ayahmu membuat kita melupakan segala sesuatu....dia kemudian berlari di belakang mobil itu seperti seorang anak kecil....Dia melambai ke arah mereka....dia berteriak dengan suara yang parau..dia mulai kehabisan nafas, namun tetap berlari di belakang mobil itu persis seperti seorang anak kecil....kita berlari di sampingnya, berteriak-teriak sepertinya sementara tentara-tentara yang tampak mengagumkan melihat ke arah kita dari bawah topi baja mereka dengan diam dan kaku....kita semua kehilangan nafas, namun ayahmu tetap berlari dan mengabaikan usia lima puluh tahunnya. Ia melemparkan sebatang rokok ke arah para tentara. Dia tetap berlari dan kita terus mengikutinya seperti kawanan anak domba.
Prosesi pengejaran mobil itu berlangsung singkat dan kita kembali ke rumah dengan lelah dan kehabisan nafas. Ayahmu menjadi lebih sunyi dan pendiam. Ketika sebuah mobil yang melintas menyorotkan lampu ke wajahnya, air mata telah menetes ke lehernya.
Setelah peristiwa itu, kehidupan berjalan dengan lambat.......kita telah ditipu oleh sebuah pernyataan.....kita dibuat kalang kabut oleh kenyataan yang pahit ini...kesedihan dan kepedihan mulai menggelayuti wajah semua orang, ayahmu tidak bisa lagi bercerita tentang Palestina atau hari-hari bahagia di belukar pohon-pohon jeruknya, atau rumahnya.....kita menjadi tembok dari tragedinya dan kita adalah anak-anak yang hebat yang dengan mudah menemukan makna di balik teriakannya di pagi hari “pergilah ke bukit dan jangan kembali sebelum siang..” kita tahu ia ingin agar kita tak meminta sarapan.
Segala sesuatu menjadi terasa menekan. Masalah-masalah sederhana pun bisa menyulut kemarahan ayahmu. Aku teringat ketika suatu hari salah seorang dari kita meminta sesuatu padanya, ia terloncat seperti tersengat aliran listrik, kemudian melemparkan pandangannya pada kita. Sebuah gagasan busuk melintasi pikirannya. Dia berdiri seperti telah menemukan solusi atas dilema yang dialaminya. Dia merasa bahwa dia cukup kuat untuk mengakhiri tragedi ini, tidak lagi merasa panik seperti seseorang yang akan melakukan sebuah aksi penuh bahaya, dia mulai mengatakan hal-hal yang tidak jelas. Kemudian ia melompat ke dalam kotak yang kita bawa dari Akka. Dia pun menghamburkan seluruh isi kotak itu dengan histeris dan menakutkan.
Pada saat itu, ibumu, dituntun oleh intuisi seorang ibu, menyerap apa yang terjadi dalam pikirannya, dia mendorong kita menjauh dari rumah dan meminta kita untuk berlari ke bukit. Namun, kita malah berhenti di jendela, dan menempelkan telinga-telinga kecil kita ke dindingnya. Dengan perasaan ngeri, kita mendengar ayahmu berkata: Aku akan membunuh mereka dan membunuh diriku sendiri....aku ingin mengakhirinya...aku ingin...aku ingin....
Kita mengintip melalui celah pintu, kita melihat ayahmu berbaring di lantai dan bernapas dengan berat sambil menggeretakkan giginya. Ibumu melihatinya dari jarak yang agak jauh. Wajahnya dipenuhi ketakutan. Awalnya, aku tidak mengerti apa yang akan terjadi. Aku ingat, saat itu ketika aku melihat sebuah pistol hitam ada di sisi ayahmu, aku segera berlari sekencangnya seperti tengah menghindari sesosok hantu yang tiba-tiba muncul. Aku berlari ke arah perbukitan menjauhi rumah......Semakin jauh aku dari rumah, kian jauh aku meninggalkan masa kecilku. Aku mulai menyadari bahwa ternyata hidup kita tidak lagi sama; segala sesuatu tidak sesederhana seharusnya dan hidup itu sendiri bukanlah sesuatu yang dengan penuh gairah kau nanti-natikan.
Situasinya telah sampai pada sebuah kondisi di mana seorang ayah hanya bisa menawarkan tembakan ke kepala anak-anaknya. Mulai hari ini dan seterusnya, kita harus berhati-hati melangkah (mengatur langkah kita), merawat diri kita sendiri, diam dan mendengarkan ketika ayah menumpahkan kekesalan-kekesalannya. Selapar apapun, kita tidak boleh meminta makanan, kita harus patuh dan menganggukkan kepala sembari tersenyum ketika ayah berteriak: “pergi ke perbukitan dan jangan kembali hingga siang hari.” Pada sore hari ketika gelap menjalar di sekeliling rumah, ayahmu masih tetap di sana, menggigil karena demam. Ibumu berada di dekatnya. Mata kita berkilauan seperti mata seekor kucing yang berada dalam kegelapan. Bibir kita terkunci seolah tak pernah dibuka, seolah masih terkena penyakit yang telah lama kita diidap.
Kita berjejal di sini, terenggut dari masa kecil kita, jauh dari negeri jeruk......jeruk yang mati, tepat seperti yang dikatakan seorang petani tua pada kita, karena tangan asing menyirami pohon-pohonnya. Ayahmu masih tetap sakit, terbaring di atas tempat tidurnya, sementara ibumu selalu digenangi air mata yang sejak hari itu tidak pernah meninggalkan kedua bola matanya. Aku masuk ke ruangan itu dengan diam-diam, mengendap seperi seorang gelandangan.......aku melihat wajah ayahmu bergetar karena marah...pada saat yang sama aku melihat pistol hitam itu berada di sebuah meja rendah...dan di dekatnya teronggok buah jeruk.... Jeruk yang kisut dan kering.
Tentang Penulis
Ghassan Kanafani dilahirkan di Akka, Palestina tahun1936 dan meninggal pada tanggal 8Juni 1972 karena bom Israel yang dipasang di mobilnya. Istrinya yang berkebanggaan Denmark, Annie, bercerita tentang peristiwa kematian suaminya, “Setiap Sabtu biasanya kami pergi berbelanja bersama. Namun, pada hari itu dia ditemani oleh keponakannya, Lamees. Beberapa menit setelah ia pergi, aku mendengar suara ledakan keras. Aku segera berlari, namun aku hanya bisa menemukan serpih-serpih mobil kami yang hancur. Lamees tergeletak beberapa meter dari ledakan itu, namun aku tidak menemukan Ghassan. Aku berharap bisa menemukan tubuhnya yang terluka, tapi ternyata aku hanya bisa menemukan kaki kirinya. Ia hancur. Sementara anak kami, Fayez, membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Laila kecil menangis: Papa...Papa...kukumpulkan sisa-sisa dirinya, orang-orang Beirut mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya di Pemakaman Syuhada di mana ia dimakamkan di samping Lamees yang mencitai dan meninggal bersamanya.
Kanafani merupakan figur kesusastraan terkemuka, baik dalam kesusastraan Arab maupun dunia. Karya-karya diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa. Selama masa hidupnya yang singkat dia memperkaya khazanah kepustakaan Arab dengan karya-karya cukup berharga yang beragam, mulai dari novel, cerita pendek, penelitian sastra, dan esai-esai politik. “Negeri Jeruk yang Sedih” merupakan salah satu karya awalnya yang memotret pengaruh deportasi terhadap rakyat Palestina ketika tentara Israel memasuki negeri mereka pada tahun 1948. Dalam cerita ini Kanafani mencampurkan realitas artistik dengan realitas historis. Meski cerita ini berkisah tentang penderitaan yang dialami oleh sebuah keluarga kelas menengah, namun cerita ini merupakan contoh dari kisah ribuan keluarga Palestina yang harus menderita dan terhina karena terbuang dari negeri mereka serta hidup miskin, setelah malapetaka tahun 1948 yang menimpa rakyat Palestina karena kekalahan tentara Arab dan penciptaan negara Palestina.(Cerpen Ghassan Kanafani)
Sabtu, 23 Februari 2008
Nil Itu Mengalir

Nil masih lagi mengalir tenang, sekalipun hakikatnya tidak pernah reda dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh pemimpin dan rakyatnya. Aku seperti Nil itu. Khabarku masih baik. Cuma hidungku ini masih selesema bahana ribut pasir Khamasin yang mengamuk di Kaherah dua minggu lalu. Langit kemerah-merahan sebelum menjadi gelap-gelita. Hatta, ramai yang menyangka kiamat akan berlaku pabila siang bertukar malam serta-merta.
Sememangnya aku harus terkejut menerima kunjungan warkahmu beberapa hari yang lalu. Empat tahun tanpa sebarang berita memaksa aku beranggapan bahawa engkau tidak lagi mengenangi diri ini. Ya, zaman menengah yang manis - sebelum bergelar mahasiswa - telah kita tinggalkan. Kini aku menghampiri tahun akhir pengajian. Tinggal di Hayyu Sabi'e bersama dua orang temanku. Kalut juga memikirkan panggilan pulang yang kian menjelang datang. Harapan ayah ibu, keluarga, orang kampung, sewaktu mahu berangkat ke sini dulu, semakin acap terngiang. Dan sewajarnya aku tertarik dengan suratmu yang masih semesra dulu. Banyak persoalan yang kaulontarkan - terutama tentang Bumi Kinanah ini.
Sekadar yang kumampu, akan kuberitahu. Lantaran, sekalipun telah lebih seribu hari aku di sini - selaku seorang wanita - tidak semua tempat wajar kujejaki. Kehidupanku berlangsung sekitar Hayyu Sabi'e, Hayyu Thamin, Hayyu A'shir, Kaherah, dan universiti. Mahu bicara tentang apa ya? Membalas keluhanmu di dalam surat terhadap senario pemimpin arab, biarlah aku menyentuh tentang fenomena di sini, terutama sejarah negara ini. Sejarah Republik Arab Mesir yang bermula apabila berlakunya revolusi pimpinan Gamal Abdul Nasser. 23 Julai 1952 adalah tarikh keramat yang menyaksikan tumbangnya institusi beraja kuku besi selama ini. Beliau mati awal 70-an, seterusnya digantikan oleh Anwar Sadat yang menandatangani Perjanjian Camp David sebelum menemui ajalnya di tangan pengiringnya Khaled Islamboli - harga yang harus dibayar di atas perjanjian tercela itu. Pun begitu, Al-Azhar kekal unggul sebagai institusi ilmu Islam terulung sejak satu mileneum.
Biarpun menghadapi serangan pemikiran Barat yang menggila, yang cuba menggugat kestabilannya, namun para ulama tetap bersatu mempertahankannya. Siswazah-siswazah berketrampilan masih berjaya dihasilkan saban tahun untuk kembali memimpin umat di segenap pelosok dunia. Sehingga ke hari ini, Muhammad Sayid At-Tantawi masih lagi menerajui al-Azhar. Ah, tokoh Syeikhul Azhar yang seorang ini.
Barangkali kerana fatwanya yang sering kontroversi, para pelajar lebih mengenang kepergian Syeikh Muhammad Mutawalli Sya'rawie yang tawaduk itu. Sebetulnya aku baru saja selesai imtihan. Bukan lagi Daur Mayu macam dulu, tapi Al-Azhar sudah beberapa tahun mempraktikkan sistem semester.
Cuti ini tidak ke mana-mana. Masa akan kuhabiskan dengan menghadiri kelas-kelas tafaqquh di samping menyertai program-program persatuan. Kala dalam pengajian inilah sebaik-baik masa untuk menyiapkan diri menghadapi masyarakat kelak. Setagal lagi, ada tanggungjawab yang menanti. Jadi, usah terlupa, aku ingin mendengar cerita-ceritamu pula dari Lembah Urdun.
Menikmati hasil kepekaanmu meladeni senario pergolakan di rantau sebelah sini. Nilofar Kaherah 29 Jun 1999 Sham masih terkasima apabila menerima surat bercop Madinah Nasr, Kaherah itu. Semacam tidak percaya. Penantiannya selama ini berakhir juga.
Dia tersenyum sendiri. "Alhamdulillah. Ada harapan…," bisiknya perlahan, antara dengar dengan tidak. Wajah lembut menawan bermata jeli segera memenuhi ruang mata. Dia belum betah melupakan kemesraan silam, apalagi membiarkan ia terpadam. Uzair yang ralit membaca, sempat menangkap kalimat itu. "Harapan apa?" Sham menunjukkan sampul surat bercorak papirus buatan Mesir. Uzair masih lagi belum faham. Tanpa sebarang jawapan, dengan senyuman yang masih melebar, Sham menghadapi monitor, dan terus sahaja membalas: Nil, Terima kasih. Aku juga tidak percaya engkau masih menganggapku sebagai sahabat, walaupun sekian lama terpisah jauh.
Aku masih lagi mengenang dunia persekolahan yang riang. Yang nyata, jarak bukanlah pemisah yang berupaya mengasingkan kita. Nostalgia silam masih terkulum kemas. Aku bersetuju dengan kata-katamu. Ya, seharusnya kita yang berada di Timur Tengah peka dengan kemelut rantau yang senantiasa bergelora ini. Jadikan ia iktibar paling mahal dalam rangkaian pengalaman sepanjang hayat. Aku tertarik amat dengan perbicaraanmu tentang Perlembahan Nil dan sosiopolitiknya. Walaupun ringkas, namun padat intinya.
Tetapi, apa kurangnya di Bumi Isra' ini? Mungkin engkau hanya mengenali Jordan sebagai negara yang rajanya berketurunan Rasulullah SAW, dan punya permaisuri yang demikian jelita. Sejarahnya, sosiopolitiknya, masa depannya, tidak seindah yang disangka. Malah khalayak selalu disogokkan dengan penipuan dan lakonan yang bersinambungan. Jordan asalnya tidak wujud. Yang ada hanyalah Sungai Jordan yang terletak dalam Palestin. Namun, sejurus berlakunya Revolusi Besar Arab, dan tersungkurnya Khilafah Uthmaniyyah di tangan Kamal Attaturk, sejarah asalnya tidak boleh dipakai lagi.
Hasil penjajahan Barat dan perpecahan arab, negara-negara di Asia Barat wujud begitu pesat. Maka, muncullah Arab Saudi, Jordan, Syria, Lebanon, dan Palestin (belum dicampur negara-negara di Teluk). Dan semestinya tidak ramai yang ambil tahu penyelewengan fakta sejarah ini malah tidak mengenali siapa sebenarnya pengasas negara Jordan ini - Syarif Hussin. Seperkara lagi, negara bersistem monarki ini, terlalu kerap bertukar Perdana Menteri. Melucukan. Serasanya, hingga kini jumlahnya hampir mencecah angka 40 sejak kemerdekaan Jordan pada 1946. Pimpinan yang tidak serasi dengan politik rajanya, akan dicantas bila-bila masa.
Aku bermastautin di Irbid, bandar ketiga terbesar di negara ini, 40 km dari sempadan Jordan-Israel. Penempatan yang hampir dengan kampus membolehkan kami berjalan kaki ke kuliah. Dengan jumlah pelajar Melayu yang kian susut tahun demi tahun, tidak sukar untuk kami mengenali setiap penuntut di sini. Dan semestinya kefasihan Lughah Arabiah lebih terjamin memandangkan Jordan tidak seteruk Mesir, Arab Saudi, dan negara-negara arab lain yang punya lahjah sendiri dan pekat 'ammienya.
Peluang untuk bertutur bahasa arab fushah terbuka luas. Namun segalanya bertolak dari diri kita juga - kebijaksanaan kita memanfaatkan suasana. Kembali berbicara soal Dataran Syam; tidak sah tanpa menyentuh Yahudi - bangsa terlaknat zaman-berzaman.
Kebencian terhadap Yahudi terlalu membuak di hati. Malah aku tinggal berjiran dengan pemuda Palestin yang punya memori ngeri. Satu keluarganya ditembakYahudi, dan dia jadi pelarian. Di sini, setiap hari melihat tampang Yaser Arafat yang berucap terketar-ketar di televisyen akan membibit rasa jelak yang tidak sedikit. Kami tidak pernah percaya dia akan membela bangsanya, sebaliknya mengkhianatinya. Lelaki nasionalis-sekularis tua itu tidak pernah menguntungkan Islam.
Apabila membaca buku 'Al-Yahudiyyah' tulisan Dr. Ahmad Syalaby, kau akan tahu betapa jijiknya bangsa paling pengecut itu. Betapa halusnya dan telitinya jarum-jarum dan strategi mereka. Kau tentu pernah mendengar tentang gagasan Israel al-Kubra, dari Nil hingga ke Furat; juga pertubuhan seperti Rotary dan Lions yang didalangi Freemason. Agen mereka ada di mana-mana.
Tetapi yang lebih menyedihkan adalah pemimpin-pemimpin arab yang kurasakan lebih hina dan munafiq. Jangan terkejut jika aku pernah membaca betapa Gamal Abdul Nasser itu pengkhianat besar (pastinya sumber ini tidak didapati di Mesir) yang telah bersekongkol dengan Yahudi di balik tabir. Memang dia politikus yang pendiam, tetapi oportunis dan licik. Malah ada kajian yang mendakwa latar belakangnya diragui. Dia berdarah Yahudi? Nil, tentunya kau dapat mengesan emosiku yang naik memuncak bila berbicara soal kemelut di Timur Tengah.
Pastinya sudah lumat kau telan hadis Rasulullah SAW yang mafhumnya berbunyi: "Barangsiapa yang tidak 'ihtimam' terhadap hal ehwal orang-orang mukmin, maka ia bukan dari kalangan kami." Aku sebetulnya terlalu sedih dengan suasana pergolakan di sini. Sandiwara bodoh yang dilakonkan oleh munafiq moden dalam penjajahan bentuk baru. Perang Salib sebetulnya belum lagi berakhir.
Akhir-akhir ini aku kian kerap membaca tentang Mesir. Gerak hati mahu ke sana, tetapi segalanya baru perencanaan. Rasanya, tidak salah kiranya aku mahu melawat Medan Tahrir tempat Sofia Hanim Zaghlul dan Huda Sha'rawie mencetuskan "Tahrir al-Mar'ah", Piramid dan Sphinx di Giza, Kota Solahuddin di Iskandariah, dan menyaksikan pertemuan dua laut di Dumyat - di samping menziarahi teman-teman seperjuangan. Dan aku juga mahu kembara mencari suatu kepastian!
Shamsul Azly
Irbid 14 Julai 1999
II
"Jadi kau ke Mesir cuti soifi ni?" Sham mengangguk. Tangannya mencapai sekeping surat yang diunjukkan Uzair. Melihat tulisan tangan di sampul, sudah tahu daripada siapa. Terasa tidak sabar mahu mengetahui isinya. "Ramai lagi akhawat di sini, masih memilih yang Azhariah? Tarbiahnya 'kan sama." "Sama tapi tak serupa. Yang pertama itu lebih membekas di jiwa," jawab Sham dalam nada selamba, seraya tergelak kecil melihatkan sahabatnya menggeleng-geleng. "Aku ada membaca: Sungai Nil mengalir songsang. Betul?" tanya Uzair lagi sebelum berlalu. Sham sengih. Soalan itu tidak menarik perhatiannya. Dadanya berdebar-debar kencang. Tanpa lengah, bucu surat dikoyak, lalu isinya dikeluarkan.
Dia mula membaca: Sham, Benarlah, seperti katamu, kepekaan adalah deria yang paling mahal. Justeru, aku membalas suratmu ini, biarpun naluriku semacam kurang enak. Kepastian apakah yang kauinginkan? Aku kagum dengan kepekaan dan kesedaranmu yang sampai tahap itu. Nyata thaqafahmu jelas mantap, dan siapa sangka boleh membantu menolakmu suatu hari nanti menjadi politikus terkemuka, atau paling tidak penulis politik. Ya, pokoknya kemahuan dan keikhlasan dalam perjuangan. Majalah Al-Wa'yu Al-Islamie yang kubeli kelmarin menyebut tentang gerakan Ikhwanul Muslimin di pelosok Tanah Arab, tanpa menyatakan pergerakan pertubuhan itu di tempat kelahirannya - Mesir. Ia gerakan atau 'harakah' mujaddid Islam yang pertama selepas terkuburnya Khilafah Uthmaniyyah pada 1924. Gerakan yang menghidupkan kembali kewajipan jihad dan berusaha menegakkan daulah Islamiyah di maya pada ini. Diasaskan di Ismailliyah oleh As-Syahid Hasan al-Banna pada 1928. Jelasnya, Hasan bukanlah seorang filsuf, tetapi daya pemikirannya dan tahap kefahamannya terhadap Islam mendahului zamannya.
Kitab "Majmu' Rasa'il Hasan al-Banna" ada menjelaskan dasar pemikiran dan idea-idea bernasnya. Namun, dunia Islam dirasakan terlalu awal menyaksikan kematian mujaddid kurun ke-20nya ini lewat 12 Februari 1949. Ah, semua pendokong gerakan Islam semestinya mengingati peristiwa pembunuhan beliau di hadapan ibu pejabat pertubuhan Syu'banul Muslimin oleh mereka yang kemudiannya terbukti dari kalangan Polis Rahsia Mesir. Mengusik tentang dua dataran ini, sering peranan mahasiswa menjadi persoalan. Soal kita yang bergelandangan ke mari untuk mengutip ilmu-ilmu Allah.
Segalanya bertolak dari niat. Tapi niat itulah yang selalu disalah terjemahkan. Masih ramai yang ke Timur Tengah untuk mengejar segulung syahadah, tanpa memikirkan betapa thaqafah Islamiyyah dan pengalaman berorganisasi sangat penting. Pembentukan sahsiah da'ie sewajibnya bermula di sini - sekadar tazkirah untuk kita bersama. Akan tetapi, engkau kurasakan masih lagi Sham yang aku kenali.Yang kental semangatnya, berjiwa besar, juga iltizam dengan prinsip dan dasar perjuangan. Dan aku terus-terusan segan dengan persahabatan ini. Sejak zaman persekolahan, malah sehingga kini, aku masih gagal mengatasimu dalam bidang apa pun. Semakin panjang surat ini kukarang, semakin terasa bersalahnya. Mungkin inilah suratku yang terakhir, justeru usah aku kauhubungi lagi.
Engkau belum mengerti, Sham, bahkan aku sendiri begitu berat untuk memahamkanmu. Kemalangan telah membunuh kedua orang tuaku dalam sekelip mata. Kami kehilangan tempat bergantung. Adik-beradikku dibela oleh saudara-mara. Dan aku sendiri tidak tahu hitam putih masa depanku, lantas merelakan diri ini… biarpun aku sebenarnya belum bersedia. Akhbar hari ini menyebut, Hosni Mubarak mengugut Sudan yang dikatakan terlibat dalam konspirasi membunuhnya lewat letupan bom berhampiran istananya baru-baru ini. Sedihnya.
Sesama negara Islam yang berjiran - malah berkongsi air Sungai Nil- masih lagi bercakaran. Namun Nil kekal seperti dulu. Mengalir songsang dari selatan ke utara. Menerima apa saja yang berlaku di perlembahannya. Pun aku seperti Nil itu. Pasrah. Menerima seorang 'Azhari' untuk memimpin si yatim piatu yang masih samar-samar hari depannya ini, dan menemaniku sepanjang hayat. Sham, teruskan perjuanganmu. Maafkan dan lupakan aku. Aku bakal isteri orang! Nilofar Kaherah 26 Ogos 1999 Sham melipat surat dua helai yang baru selesai dibacanya.
Tubuhnya bergetar, disandarkan ke kusyen. Menarik nafas panjang sebelum melepaskannya perlahan. Dia berdiri, melangkah masuk ke kamar,dan menghempaskan tubuh di tilam. Atmanya sedikit terusik. Dalam hati diam-diam mengakui.
Benarlah, Nil itu mengalir songsang!
______________
Oleh Zaid Akhtar
Langganan:
Postingan (Atom)



