Oleh : Hamsah
Merasakan pahitnya buah Pare atau lebih familiar dengan sebutan Paria, itulah yang dirasakan Damas, setiap kali akan menggelar pelatihan prajabatan. Pria yang bernama lengkap Damas Ibnu Nashy yang bekerja di Bagian Kepegawaian di kota itu bahkan memiliki kebiasaan unik setiap jelang pelaksanaan prajabatan.
Pada suatu subuh, waktu itu pelaksanaan prajabatan untuk semua golongan yang diterima tahun sebelumnya, Damas menyempatkan diri berlari subuh. Sebuah rutinitas yang memang menjadi kebiasaannya, namun lebih intens lagi dia lakukan saat jelang pelaksanaan prajabatan. Maklum pada setiap pelaksanaan prajabatan dia yang dominan memegang peran mengomandoi dan memberikan gemblengan kepada setiap peserta prajabatan.
Subuh itu, usai Shalat Subuh Damas meninggalkan rumahnya berlari sepanjang jalan poros di kotanya. Saat berlari tidak banyak orang yang ia temui di jalan selain para jemaah yang kembali dari shalat subuh.
Namun pemandangan berbeda ketika Damas melewati sebuah kantor Kodim. Saat Damas berpikir bahwa mungkin baru dia yang berkeliaran dalam kondisi alam yang masih didominasi oleh kabut hitam, ternyata di halaman Kodim puluhan tentara terlihat sedang melakukan senam yang dipandu salah satu diantara mereka. Mungkin komandan batalyon atau sejenisnya. Yang jelas mata Damas takjub melihat kondisi itu.
“Hmm… didikan tentara memang masih yang terbaik, saat orang masih lelap dalam tidur, mereka sudah bangun berolahraga. Tidak salah kalau metode militer memang masih populer dijadikan acuan setiap pelatihan,”pikir Damas yang berhenti sejenak memandang para pasukan tentara itu dan untuk selanjutnya melanjutkan perjalanannya.
Damas terus berlari namun pikirannya tidak pernah lepas dari kekompakan yang dilihatnya dari sikap tentara tadi. Setelah merasa berlari cukup jauh, Damas kembali berlari mengikuti jalan yang telah dilaluinya. Tepat di kantor yang juga adalah asrama Kodim yang dilaluinya tadi, para tentara itu masih terlihat aktif. Namun kali ini justru lebih menambah rasa kagum Damas. Betapa tidak jika pertama ditinggalkan, para tentara berolahraga senam, kali ini Damas menyaksikan mereka sedang kerja bakti.
Rumput-rumput yang sebenarnya belum sebesar rumput yang ada di kantornya sudah dibabat lagi. Tidak ada sampah yang tersisa. Lebih mengagumkan lagi semua kerja dengan semangat tanpa di komandoi. Sebab yang tadinya jadi komandan saat senam, juga ikut aktif bekerja bakti.
“Saya yakin sikap disiplin seperti ini tidak lahir begitu saja, ada proses panjang yang telah mereka lalui. Tapi kalau metode tentara digunakan di prajabatan apa jadinya yah? Ah sudah, kenapa saya yang pusing,”ucap Damas dalam hati.
Setelah cukup lama menyaksikan dan mengagumi sikap para tentara itu, Damas selanjutnya berlari kembali ke rumahnya untuk siap-siap ke kantor. Dari lari subuh hingga ke kantor apa yang ia saksikan tidak pernah mau hilang dari beban pikirannya. Entah kenapa peristiwa itu begitu menjadi perhatiannya.
Sampai di kantor, kejadian yang ia saksikan di asrama tentara itu masih serius menghiasi alam pikirannya. Seolah-olah ia sedang membuat sebuah konsep dengan inspirasi dari apa yang telah ia saksikan dari sikap para tentara itu.
Tidak jelas apa yang Damas pikirkan. Namun apa yang ia saksikan itu terlihat mengurangi konsentrasinya terhadap pekerjaan sehari-harinya. Bahkan pemikiran itu terbawa hingga ia pulang kantor.
Saat pulang kantor, Damas tidak terus ke rumahnya seperti biasa. Damas menyempatkan diri singgah di pasar untuk membeli buah paria. Cukup banyak buah paria yang ia beli. Sesampai di rumah, buah paria itu diberikan ke istrinya untuk di masak.
Istri Damas sedikit heran dengan pemberian suaminya itu. Ia bertanya-tanya dalam hati, tidak biasanya suaminya makan buah seperti itu.
“Mau dimasak apa pak?,”tanya istrinya.
“Masak tumis saja,”jawabnya.
“Tumben, mau makan buah pahit kayak begini pak,”Tanya istrinya lagi yang dari tadi bertanya-tanya dengan sikap aneh suaminya itu.
“Kata orang, itu obat, jadi saya coba untuk terus menjaga kondisi kesehatan,”sambut Damas beralasan, namun sebenarnya dari lubuk hatinya ada hal yang ia pendam.
Sebenarnya Damas hanya ingin melukiskan perasaannya dengan buah-buahan itu. Ia berencana mengkonsumsi buah paria itu hingga masa prajabatan bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di daerahnya selesai.
Akhirnya tanpa terasa waktu prajabatan itu tiba. Waktu yang bagi Damas ia merasakan pahitnya paria melebihi yang ia makan tiap harinya. Pahit ketika ia harus menghukum para peserta prajabatan yang melanggar peraturan.
Saat waktu itu tiba, Damas tiap hari tidak pernah alpa membeli buah paria. Buah yang ia nikmati setiap hendak ke menjalankan aktifitasnya dan terutama pada malam hari. Tidak ada yang diberi tahu tentang alasan dia sebenarnya menkonsumsi paria tersebut. Yang jelas ia memendam perasaan yang dalam saat mendampingi para peserta prajabatan. Suasana yang digambarkannya seperti rasa paria yang ia nikmati itu.
Suatu subuh, Damas seperti biasanya datang lebih awal di lokasi tempat berkumpulnya peserta prajabatan. Tepatnya di sebuah Mesjid besar di kota itu. Kebetulan halaman mesjid itu mendukung untuk kegiatan baris-berbaris bagi peserta.
Seperti biasanya setelah Shalat Subuh, para peserta di perintahkan baris berbaris. Setelah itu dilakukan pengecekan daftar hadir untuk mengetahui kuantitas kehadiran dan siapa-siapa peserta yang tidak hadir saat itu.
Setelah melakukan pengecekan, para peserta prajabatan diperintahkan untuk melakukan agenda rutin seperti lari subuh dan senam. Namun saat senam sedang berlangsung Nampak tiga peserta yang muncul dari arah samping barisan. Spontan Damas yang melihat hal itu, langsung seolah menelan buah paria. Pahit dan tidak enak di tenggorokan, namun harus tetap ditelan.
Begitulah Damas melewati suasana hatinya. Dari lubuk hatinya, ia tidak tega memberikan hukuman bagi mereka yang melanggar aturan. Namun di sisi lain tuntutan pendidikan disiplin yang harus ia terapkan. Tidak ingin gagal, rasa simpati terhadap sikap disiplin tentara yang pernah ia saksikan menjadi bayang-bayang dan memberikan inspirasi bagi dirinya untuk tetap menempuh langkah-pangkah tepat meski harus menghukum para peserta prajabatan itu.
“Yang terlambat itu silahkan maju ke depan,”teriaknya. Kontan tiga peserta yang tadinya terlambat langsung maju di depan.
“Sekarang pegang telinga. Trus kengkreng,”perintahnya.
Tiga peserta yang terlambat tadi langsung mengikuti instruksi tersebut. Bukan itu saja mereka juga diperintahkan untuk berteriak tidak akan terlambat sebanyak 50 kali dihadapan peserta lain.
“Masih mau terlambat?,”
“Tidak pak,”sahut ketiganya kompak.
Tidak ada pertanyaan penyebab keterlambatan mereka dari Damas. Seolah Damas sudah paham, bahwa pertanyaan itu justru akan memanjakan para peserta dengan membuat alasan-alasan yang bisa mengundang simpati.
“Disiplin tidak hadir dari sikap cengeng. Jika semua aparatur pemerintah cengeng dan pintar mengumbar alasan, entah bagaimana tugas-tugas aparatur ke depan,”pikir Damas dalam hati.
Suara Damas begitu tegar saat memberikan instruksi bahkan ketika menghukum. Ia cukup sempurna menyembunyikan suasan hatinya yang sebenarnya galau ketika harus berhadapan dengan peserta yang bandel. Namun ia tetap berpikir, bahwa sepahit apapun, itu telah menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Bahkan ia merasa kesalahan paling besar ketika pasca prajabatan tidak ada perubahan sikap yang dialami para peserta prajabatan.
Damas sendiri ingin menepis anggapan bahwa kegiatan itu hanya formalitas belaka. Sehingga bisa saja ia bermasa bodoh membiarkan para peserta prajabatan berbuat semaunya. Namun substansi kegiatan tetap menjadi targetnya. Meski Damas sadar bahwa sikap disiplin yang ia kagumi dari para anggota TNI tidak lahir dari sebuah gemblengan singkat seperti yang ia laksanakan bagi para CPNS yang akan memasuki dunia PNS secara utuh, namun Damas tetap berharap ada hasil memuaskan dari pelatihan yang diselenggarakan itu.
Dengan pemikiran itu, tidak hanya saat latihan senam dan lari pagi Damas kerap menghukum peserta. Di ruang kelas Damas juga tetap berlaku tegas. Tidak ada yang boleh bermain-main dengan peraturan yang telah ditetapkan.
“Ingat apa yang kami lakukan ini, semua demi kebaikan saudara. Kami yakin dari pahit getirnya pelatihan ini, ada madu yang akan dihasilkan setelah kegiatan ini,”ungkap Damas pada sebuah kesempatan di ruang kelas. Saat itu, Damas melihat para peserta banyak yang kurang disiplin, ada yang telat ikut pelajaran, ada yang keluar masuk ruangan dan ulah aneh lainnya.
Damas tidak menggertak. Namun ungkapan Damas itu nampaknya dipahami oleh peserta sebagai bentuk teguran. Sehingga setelah ungkapan itu diucapkan Damas, para peserta mendadak duduk terdiam. Tidak ada yang berani berbisik-bisik. Sebab mereka sadar jika dengan nada sindiran seperti itu, peserta belum sadar juga, maka seperti biasanya mereka akan dipersilahkan keluar dari ruangan. Itu yang paling mereka takuti.
Melihat peserta sudah duduk terdiam, Damas melanjutkan kata demi kata untuk memberikan pencerahan. Sikap Damas yang tegas ini menjadikan Damas lebih disegani oleh peserta prajabatan dibanding yang lainnya. Akibatnya pada setiap kegiatan ketika Damas yang hadir selaku pendamping, maka di kelas itu tidak ada yang berani bermain-main. Damas sendiri kerap berkeliling dari satu kelas ke kelas lain untuk melakukan pemantauan.
Damas memang yang paling banyak memegang andil dalam kegiatan prajabatan ini. Maka cukup beralasan jika Damas selama masa prajabatan itu menkonsumsi buah paria sebagai cambuk.
“Jika tidak ada perubahan sedikitpun bagi peserta prajabatan ini, yang gagal saya. Makanya saya harus melawan perasaan saya. Tak tahan rasanya memarahi apalagi menghukum mereka,”gumam Damas dalam hati pada suatu siang. Ketika para peserta prajabatan sedang beristirahat dan makan siang.
Tiada terasa waktu hampir sebulan telah berlalu. Damas sedikit legah. Bebannya selama kegiatan itu berlangsung akan berakhir. Jelang akhir kegiatan Damas mulai lebih dekat dengan peserta. Sejumlah saran-saran untuk memunculkan kebersamaan sesama peserta dia ajukan, mulai dari sumbangan mesjid dan panti asuhan hingga kegiatan malam ramah tamah.
Pada malam ramah tamah permohonan maaf tidak hentinya keluar dari mulut Damas. Puncaknya pada acara penutupan. Damas betul-betul menjadikan ajang penutupan itu sebagai momen untuk memohon maaf. Seolah telah berbuat kesalahan yang besar. Namun setegar apapun Damas. Ia tetap manusia biasa yang punya rasa sedih dan haru. Sehingga bagaimanapun ia menahan rasa haru itu, setetes air mata sempat menyeruak dari kelopak matanya. Meski tidak disaksikan oleh peserta, namun air mata itu menjadi saksi bahwa Damas juga memiliki perasaan haru yang teramat dengan berakhirnya kegiatan itu.
Suaranya sedikit serak saat membacakan puisi ciptaannya. Ia galau dengan perasaan bersalahnya. Namun dengan berbesar hati dengan berusaha menahan rasa sedihnya puisi itu ia tuntaskan. Namun tetap saja suara dan air matanya membuat Damas tidak bisa membohongi para peserta ia juga merindukan kebersamaan, canda tawa yang mereka lalui bersama.
Masa itu telah berlalu. Para peserta kembali ke tempat kerja masing-masing. Para peserta mungkin sudah legah dengan berakhirnya kegiatan prajabatan itu. Namun tidak begitu bagi Damas. Buah paria yang ia konsumsi belum ia akhiri. Ia masih penasaran ingin melihat hasil gemblengannya di prajabatan.
Pagi-pagi sekali, Damas sudah ke kantor. Di jalan ia sengaja memperlambat kendaraanya. Bahkan ia sengaja memutar ke beberapa kantor instansi di daerahnya. Ada senyum menghiasi bibirnya ketika dijalan, dari dalam kendaraan roda empat yang ia gunakan terlihat pengendara berpakaian dinas lengkap, satu per satu ia kenal. Mereka adalah orang-orang yang selama ini bertatap muka dengannya di ruang kelas prajabatan.
Damas memperhatikan jam tangannya. Waktu apel pagi masih lama. Ia kembali menempuh jalan lain. Sebuah jalan yang juga melewati beberapa instansi pemerintah. Lagi-lagi senyum merekah dari bibirnya. Sebab dibeberapa halaman kantor pemerintah yang ia lalui, kembali ia melihat orang-orang yang pernah ia ceramahi bahkan bentak sudah ada di halaman kantor menunggu waktu apel pagi.
Puas menyaksikan itu semua, Damas meneruskan perjalanannya ke kantor tempat ia bekerja. Kebetulan bagian kepegawaian tempatnya bekerja satu lokasi dengan kantor pemerintah daerah setempat.
Di tempat ini, lagi-lagi Damas merasa legah, meski belum banyak pegawai yang datang, namun yang menunggu dilokasi apel juga orang-orang yang telah menelan potongan mentimun mentah dengan sambel pedasnya di prajabatan dulu.
“Hufff..alhamudulillah…akhirnya paria yang saya makan tiap hari membuahkan manisnya madu. Semoga ini tetap bertahan,”harapnya. Wassalam
***********
Jangan Pernah mau dibebani oleh hal yang hanya akan membuat kita terbelakang
Rabu, 08 Juni 2011
Jumat, 20 Mei 2011
Yang Tersisa Dari Prajab
Sajak Buat Peserta Prajab, Karya : Hamsah
Matahari terbenam diufuk barat
Tepat akhir pelaksanaan prajabatan
Suasana alam menjadi kelam
Sekelam rasa di hati
Oh……
Rasa kelam itu mendadak menyerang
Menggantikan getar indah yang selama prajabatan mengisi relung hati
Oh…..
Ada rasa takut getar indah itu akan sirna
Sirna bersama berakhirnya prajabatan ini
Saat semua tak lagi melewati hari penuh kebersamaan
Getar indah itu datang pada hari ke tiga prajabatan
Saat senyum merekah dari balik jilbab hitam
Saat canda terlontar dari pemilik dasi hitam
Ada rasa yang begitu dalam menghunjam kalbu
Tak tahu
Rasa persahabatan, persaudaraan atau asmarakah itu ?
Ada rasa kalut, galau dan takut
Tapi, abaikan saja rasa itu
Jika ia rasa persahabatan dan persaudaraan
Biarkan terus tumbuh demi pembangunan daerah
Dan jika itu asmara, biarkan ia subur di taman hati
Memancarkan aroma kebahagiaan
Dan biarkan ia kekal hingga dua hati menyatu.
Matahari terbenam diufuk barat
Tepat akhir pelaksanaan prajabatan
Suasana alam menjadi kelam
Sekelam rasa di hati
Oh……
Rasa kelam itu mendadak menyerang
Menggantikan getar indah yang selama prajabatan mengisi relung hati
Oh…..
Ada rasa takut getar indah itu akan sirna
Sirna bersama berakhirnya prajabatan ini
Saat semua tak lagi melewati hari penuh kebersamaan
Getar indah itu datang pada hari ke tiga prajabatan
Saat senyum merekah dari balik jilbab hitam
Saat canda terlontar dari pemilik dasi hitam
Ada rasa yang begitu dalam menghunjam kalbu
Tak tahu
Rasa persahabatan, persaudaraan atau asmarakah itu ?
Ada rasa kalut, galau dan takut
Tapi, abaikan saja rasa itu
Jika ia rasa persahabatan dan persaudaraan
Biarkan terus tumbuh demi pembangunan daerah
Dan jika itu asmara, biarkan ia subur di taman hati
Memancarkan aroma kebahagiaan
Dan biarkan ia kekal hingga dua hati menyatu.
Hitam Putih
Karya : Hamsah
Latar belakang boleh beda
Bidang keilmuan boleh beragam
Strata mungkin juga tak sama
Namun menyatu dalam warna hitam putih
Sepekan, dua pekan, tiga pekan, lebih
Warna-warni keragaman menyatu dalam warna hitam putih
Ngantuk, bosan, jenuh terlewatkan
Teredam dalam warna hitam putih
Ada persaudaraan ada persahabatan
Ada kebersamaan Bahkan ada asmara
Terpancar dari kerudung hitam
Menyelinap dibalik dasi hitam dan kemeja putih
Hitam putih mewarnai pekan demi pekan
Menyatu dalam naungan embun pagi
Menimba ilmu dari kaum cendekiawan
Menikmati menu yang seragam
Berjuta kenangan indah, pahit Merajuk dikalbu
Melewati hari demi hari dalam seragam hitam putih
Akankah kenangan dan kebersamaan itu kekal
Saat semua kembali ke warnanya sendiri ?
Malam ini, warna persaudaraan itu mengukir sejarah
Malam ini warna kebersamaan itu menitip pesan luhur
Malam ini warna asmara itu melukis kerinduan
Dan malam ini warna persahabatan itu berakhir
Namun semua bukan berarti akhir dari segala kenangan
Dan juga bukan ujung dari tali persaudaraan
yang terbangun di atas pondasi cinta dan kasih sayang
mari jadikan akhir warna hitam putih sebagai awal masa depan
masa yang dibangun dari kerjasama, kebersamaan dan disiplin
masa yang dahulu hanya menjadi angan-angan
masa yang selalu akan dirindukan.
Latar belakang boleh beda
Bidang keilmuan boleh beragam
Strata mungkin juga tak sama
Namun menyatu dalam warna hitam putih
Sepekan, dua pekan, tiga pekan, lebih
Warna-warni keragaman menyatu dalam warna hitam putih
Ngantuk, bosan, jenuh terlewatkan
Teredam dalam warna hitam putih
Ada persaudaraan ada persahabatan
Ada kebersamaan Bahkan ada asmara
Terpancar dari kerudung hitam
Menyelinap dibalik dasi hitam dan kemeja putih
Hitam putih mewarnai pekan demi pekan
Menyatu dalam naungan embun pagi
Menimba ilmu dari kaum cendekiawan
Menikmati menu yang seragam
Berjuta kenangan indah, pahit Merajuk dikalbu
Melewati hari demi hari dalam seragam hitam putih
Akankah kenangan dan kebersamaan itu kekal
Saat semua kembali ke warnanya sendiri ?
Malam ini, warna persaudaraan itu mengukir sejarah
Malam ini warna kebersamaan itu menitip pesan luhur
Malam ini warna asmara itu melukis kerinduan
Dan malam ini warna persahabatan itu berakhir
Namun semua bukan berarti akhir dari segala kenangan
Dan juga bukan ujung dari tali persaudaraan
yang terbangun di atas pondasi cinta dan kasih sayang
mari jadikan akhir warna hitam putih sebagai awal masa depan
masa yang dibangun dari kerjasama, kebersamaan dan disiplin
masa yang dahulu hanya menjadi angan-angan
masa yang selalu akan dirindukan.
Sang Pejuang Yang Terabaikan
Cerpen Cermin Kehidupan, Karya Hamsah
Pagi masih menunjukkan sekira pukul 07.30 waktu setempat, seorang lelaki tua berjalan terseok-seok. Langkahnya yang kelihatan agak sempoyongan menunjukkan bahwa usianya tidak muda lagi. Raut muka kondisi tubuh yang sudah mulai bongkok menandakan si kelaki tua tidak lagi memiliki cukup tenaga untuk bekerja keras.
Tapi itu ternyata adalah pengecualian bagi lelaki yang akrab disapa Allu. Udara pagi masih menyelimuti pusat kantor pemerintahan di kota itu. Namun Allu sudah tiba di kantor pemerintahan, meski dengan kostum yang berbeda dengan para pegawai yang bertugas secara resmi di kantor itu yang datang dengan seragam khasnya.
“Siaaap Grak”, sebuah teriakan dari barisan pegawai yang berkumpul secara teratur di depan kantor pemerintahan itu. Suara itu langsung diikuti dengan gerakan refleks oleh anggota barisan. Tidak jauh dari mereka berdiri, Allu tetap asyik dengan kebiasaannya tiap hari di kantor itu yakni memungut kantong bekas, kemasan air dan aneka sampah yang tiap hari ada saja berserakan di sekitar kantor. Teriakan ‘siap grak’ yang diucapkan pemimpin barisan pegawai itu tidak mengalihkan perhatiannya bahkan untuk sekedar berpaling. Allu tetap konsentrasi pada dedaunan yang berserakan di sekitar halaman kantor.
Tidak hanya di pelataran kantor pemerintahan saja, di ruangan-ruangan Allu juga selalu terlihat. Dia terkadang duduk dideretan kursi peserta rapat. Saat rapat berlangsung Allu hanya duduk terdiam menyaksikan jalannya rapat. Namun setelah itu, setelah ruangan sepi ditinggalkan oleh peserta rapat, barulah Allu melakukan aksinya. Bungkusan kue yang tertinggal di meja-meja atau yang tercecer di ruangan disapu bersih oleh Allu. Tong sampah plastik yang telah disiapkan dari awal langsung diisi penuh dengan sampah-sampah plastik bekas kemasan air, dan bungkusan kue.
Tanpa beban, meski diusianya yang sudah separuh baya, sampah-sampah itu diangkut ke salah satu sudut halaman kantor pemerintahan sebagai tempat terakhir untuk selanjutnya diangkut oleh petugas sampah di daerah itu.
Perjuangan hidup seperti itulah yang tiap hari di lalui Allu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari. Hidup membujang diusianya yang memasuki senja, mengurangi beban hidupnya, paling tidak mengurangi cita-cita kemewahan hidup bagi dirinya.
Sekilas tidak ada beban hidup yang terlihat dari raut mukanya. Tiap hari dia selalu terlihat ceria, bahkan terkadang Allu menyempatkan diri bercanda dengan gaya khasnya dengan para staf di kantor pemerintahan itu.
Allu mungkin tidak diperhitungkan sebagai staf di kantor itu, sebab dia datang tanpa harus mengisi absen seperti pegawai kebanyakan, tidak perlu berkostum rapi. Tapi apa yang dilakukan oleh Allu memberikan manfaat besar bagi kondisi lingkungan perkantoran pemerintahan itu.
Bisa dibayangkan, tanpa Allu seperti apa ruangan yang hampir tiap hari dipenuhi bekas bungkusan kue? Yah Allu adalah pejuang yang mungkin saja tidak disadari perjuangannya di kantor itu. Disaat para aparatur pemerintahan sibuk dengan tugas mereka, Allu juga sibuk dengan tugasnya yang tentu secara sekilas sepele tapi dampaknya sangat berarti jika tidak diurusi.
“He.. saya selalu paling cepat masuk kantor,”katanya pada suatu hari dihadapan para pegawai disebuah ruangan di kantor pemerintahan itu.
Tidak ada beban bagi dia untuk mengungkapkan itu, juga terlihat tidak ada tujuan tertentu bagi Allu mengungkapkan kata-kata itu. Dan para pegawai yang mendengarkan juga acuh dengan apa yang baru saja diungkapkan Allu.
Bukankah Allu tidak harus mengisi absen ketika masuk kantor? Jika dia terlambat konsekwensinya juga tentu tidak ada. Aturan yang berlaku di kantor itu termasuk datang tepat waktu ke kantor, tidak berlaku bagi Allu.
Tapi apa maksud ungkapan itu? Berpikir sejenak, ungkapan Allu meski bukan itu tujuan dia untuk mengatakan itu nampaknya berbau sindiran. Ungkapan itu seolah ingin mengatakan pada semua staf kantor, bahwa tiap hari dia masuk kantor lebih awal dari para pegawai yang gajinya jauh lebih besar dari gaji Allu. Ungkapan itu juga seolah ingin mengungkapkan bahwa disiplin itu tidak harus diikat dengan absen. Dia seolah ingin bilang , lihat saya yang tidak diatur oleh absen tetap bisa datang jauh lebih awal dari kalian yang memiliki ,ketergantungan’ dengan absen. Dia juga seolah ingin bilang saya tidak kerja kerana absen tapi saya kerja karena tanggung jawab dan amanah.
Ada falsafah hidup yang coba diungkapkan oleh Allu yang dipandang sebelah mata di kantor itu. Ada contoh yang ia tunjukkan. Ada kandungan makna yang menarik untuk dianalisa pada setiap perkataan dari ‘kebodohannya’. Sebuah ungkapan kebodohan yang ia lontarkan bisa mebuat kita bertambah pintar, atau sebaliknya tambah bodoh dan lebih bodoh dari dia.
Allu memang sang pejuang yang terlupakan. Tidak saja terlupakan dari perannya yang begitu besar dalam mengemban tugas kebersihan dikantor itu, tapi juga terlupakan dari pola disiplin yang ia terapkan. Bisakah sang pejuang seperti Allu diperhitungkan dan kembali dilirik dikantor itu? Jawabannya ketika pola disiplin sudah bisa diterapkan paling tidak menyamai kedisiplinan Allu maka saat itu Allu tidak lagi dilupakan, artinya Allu tidak lagi sebatas pejuang kebersihan tetapi juga pejuang kedisiplinan. Tapi mungkinkan itu jadi cerminan hidup paling tidak dikantor tempat Allu melewati hidupnya tiap hari. Pola hidup Allu memberikan pilihan bagi staf dikantor itu, ingin memiliki nilai lebih dari Allu atau sebaliknya harus merelakan Allu unggul dan hidup lebih bobrok dari Allu???
Pagi masih menunjukkan sekira pukul 07.30 waktu setempat, seorang lelaki tua berjalan terseok-seok. Langkahnya yang kelihatan agak sempoyongan menunjukkan bahwa usianya tidak muda lagi. Raut muka kondisi tubuh yang sudah mulai bongkok menandakan si kelaki tua tidak lagi memiliki cukup tenaga untuk bekerja keras.
Tapi itu ternyata adalah pengecualian bagi lelaki yang akrab disapa Allu. Udara pagi masih menyelimuti pusat kantor pemerintahan di kota itu. Namun Allu sudah tiba di kantor pemerintahan, meski dengan kostum yang berbeda dengan para pegawai yang bertugas secara resmi di kantor itu yang datang dengan seragam khasnya.
“Siaaap Grak”, sebuah teriakan dari barisan pegawai yang berkumpul secara teratur di depan kantor pemerintahan itu. Suara itu langsung diikuti dengan gerakan refleks oleh anggota barisan. Tidak jauh dari mereka berdiri, Allu tetap asyik dengan kebiasaannya tiap hari di kantor itu yakni memungut kantong bekas, kemasan air dan aneka sampah yang tiap hari ada saja berserakan di sekitar kantor. Teriakan ‘siap grak’ yang diucapkan pemimpin barisan pegawai itu tidak mengalihkan perhatiannya bahkan untuk sekedar berpaling. Allu tetap konsentrasi pada dedaunan yang berserakan di sekitar halaman kantor.
Tidak hanya di pelataran kantor pemerintahan saja, di ruangan-ruangan Allu juga selalu terlihat. Dia terkadang duduk dideretan kursi peserta rapat. Saat rapat berlangsung Allu hanya duduk terdiam menyaksikan jalannya rapat. Namun setelah itu, setelah ruangan sepi ditinggalkan oleh peserta rapat, barulah Allu melakukan aksinya. Bungkusan kue yang tertinggal di meja-meja atau yang tercecer di ruangan disapu bersih oleh Allu. Tong sampah plastik yang telah disiapkan dari awal langsung diisi penuh dengan sampah-sampah plastik bekas kemasan air, dan bungkusan kue.
Tanpa beban, meski diusianya yang sudah separuh baya, sampah-sampah itu diangkut ke salah satu sudut halaman kantor pemerintahan sebagai tempat terakhir untuk selanjutnya diangkut oleh petugas sampah di daerah itu.
Perjuangan hidup seperti itulah yang tiap hari di lalui Allu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari. Hidup membujang diusianya yang memasuki senja, mengurangi beban hidupnya, paling tidak mengurangi cita-cita kemewahan hidup bagi dirinya.
Sekilas tidak ada beban hidup yang terlihat dari raut mukanya. Tiap hari dia selalu terlihat ceria, bahkan terkadang Allu menyempatkan diri bercanda dengan gaya khasnya dengan para staf di kantor pemerintahan itu.
Allu mungkin tidak diperhitungkan sebagai staf di kantor itu, sebab dia datang tanpa harus mengisi absen seperti pegawai kebanyakan, tidak perlu berkostum rapi. Tapi apa yang dilakukan oleh Allu memberikan manfaat besar bagi kondisi lingkungan perkantoran pemerintahan itu.
Bisa dibayangkan, tanpa Allu seperti apa ruangan yang hampir tiap hari dipenuhi bekas bungkusan kue? Yah Allu adalah pejuang yang mungkin saja tidak disadari perjuangannya di kantor itu. Disaat para aparatur pemerintahan sibuk dengan tugas mereka, Allu juga sibuk dengan tugasnya yang tentu secara sekilas sepele tapi dampaknya sangat berarti jika tidak diurusi.
“He.. saya selalu paling cepat masuk kantor,”katanya pada suatu hari dihadapan para pegawai disebuah ruangan di kantor pemerintahan itu.
Tidak ada beban bagi dia untuk mengungkapkan itu, juga terlihat tidak ada tujuan tertentu bagi Allu mengungkapkan kata-kata itu. Dan para pegawai yang mendengarkan juga acuh dengan apa yang baru saja diungkapkan Allu.
Bukankah Allu tidak harus mengisi absen ketika masuk kantor? Jika dia terlambat konsekwensinya juga tentu tidak ada. Aturan yang berlaku di kantor itu termasuk datang tepat waktu ke kantor, tidak berlaku bagi Allu.
Tapi apa maksud ungkapan itu? Berpikir sejenak, ungkapan Allu meski bukan itu tujuan dia untuk mengatakan itu nampaknya berbau sindiran. Ungkapan itu seolah ingin mengatakan pada semua staf kantor, bahwa tiap hari dia masuk kantor lebih awal dari para pegawai yang gajinya jauh lebih besar dari gaji Allu. Ungkapan itu juga seolah ingin mengungkapkan bahwa disiplin itu tidak harus diikat dengan absen. Dia seolah ingin bilang , lihat saya yang tidak diatur oleh absen tetap bisa datang jauh lebih awal dari kalian yang memiliki ,ketergantungan’ dengan absen. Dia juga seolah ingin bilang saya tidak kerja kerana absen tapi saya kerja karena tanggung jawab dan amanah.
Ada falsafah hidup yang coba diungkapkan oleh Allu yang dipandang sebelah mata di kantor itu. Ada contoh yang ia tunjukkan. Ada kandungan makna yang menarik untuk dianalisa pada setiap perkataan dari ‘kebodohannya’. Sebuah ungkapan kebodohan yang ia lontarkan bisa mebuat kita bertambah pintar, atau sebaliknya tambah bodoh dan lebih bodoh dari dia.
Allu memang sang pejuang yang terlupakan. Tidak saja terlupakan dari perannya yang begitu besar dalam mengemban tugas kebersihan dikantor itu, tapi juga terlupakan dari pola disiplin yang ia terapkan. Bisakah sang pejuang seperti Allu diperhitungkan dan kembali dilirik dikantor itu? Jawabannya ketika pola disiplin sudah bisa diterapkan paling tidak menyamai kedisiplinan Allu maka saat itu Allu tidak lagi dilupakan, artinya Allu tidak lagi sebatas pejuang kebersihan tetapi juga pejuang kedisiplinan. Tapi mungkinkan itu jadi cerminan hidup paling tidak dikantor tempat Allu melewati hidupnya tiap hari. Pola hidup Allu memberikan pilihan bagi staf dikantor itu, ingin memiliki nilai lebih dari Allu atau sebaliknya harus merelakan Allu unggul dan hidup lebih bobrok dari Allu???
Senin, 09 Mei 2011
Sepotong Mentimun
Karya : Hamsah
Sepotong mentimun langsung merebak disela-sela nasi, di atasnya tampak tumpukan sambal goreng. Ku ambil sendok plastik yang ada di sudut lain dos nasi itu untuk membersihkan tumpukan sambal yang ada di atas mentimun. Takut sesekali panitia memerintahkan untuk menghabisi mentimun terlebih dahulu sebelum makan nasi dan lauk yang ada seperti yang kerap diperintahkan kepada kami.
Ku coba menoleh ke arah teman lain yang juga sementara asyik membuka dos nasi mereka. Yang aku pandangi balik menatap ke arah saya. Yang lain juga saling menatap sambil tersenyum. Entah apa maksud tatapan itu. Yang jelas setiap makan siang aksi saling tatap terus berlangsung seperti keberadaan sepotong mentimun yang tidak pernah alpa berada di antara tumpukan nasi kami.
“Habiskan mentimun dulu sebelum makan nasinya,”lontar salah seorang panitia. Para peserta Prajabatan mendengar perintah itu tidak langsung mengikuti intruksi, sebaliknya mereka justru kembali saling pandang dan melempar senyum. Setelah itu sepotong mentimun itu berpindah ke mulut mereka.
Namun siapa sangka tidak semua peserta menyukai mentimun. Ada juga yang diantara peserta yang betul-betul tidak menyukai mentimun. Devi, seorang gadis cantik dari salah satu dinas di daerah itu mengaku sangat alergi dengan mentimun. Maka ketika makan siangnya di pandu oleh panitia, rasa was-was terus menghantuinya. Takut di hukum tentu saja menjadi alasannya.
Beruntung Devi berparas cantik. Banyak lelaki dari peserta Prajabatan itu yang menyimpan hati untuk Devi. Tidak heran jika saat jam makan siang tiba, banyak lelaki yang mendekat ke Devi. Mereka bermaksud menolong Devi dengan jalan mengambil sepotong mentimun milik Devi.
Hany, seorang pria yang menjadi fans berat Devi. Pada setiap kesempatan Hany terus berupaya menarik simpati Devi. Sejak awal, Hany memang berharap menemukan tambatan hatinya di prajabatan ini. Sehingga saat melihat Devi, ia terobsesi untuk bisa mengenal bahkan bisa berteman dekat dengan Devi atau istilah remajanya pacaran.
Namun ternyata bukan Cuma Hany saja yang mengagumi Devi, pria lain bernama Musa ternyata diam-diam juga menaruh perhatian dengan Devi. Musa juga sudah tahu jika Hany menyukai Devi, sebab pada setiap berlangsungnya materi, Hany dan Musa terus duduk berdekatan di bangku terakhir. Mudah saja Musa untuk mengawasi gerak Hany bahkan sesekali Hany malah berceritera kepada Musa soal perasaan hatinya.
Melihat Devi tidak menyukai mentimun, Musa dan Hany seolah mendapatkan pintu masuk.”nah kalau begini, jika ingin mendapatkan hati Devi kayaknya saya harus berburu mentimun,”pikir Hany. Musa juga memiliki pikiran sama dengan Hany.
Sebenarnya Hany juga tidak terlalu menyukai mentimun, namun karena terlanjur menganggap berburu hati Devi berarti juga harus berburu mentimun, Hany terus berupaya menjadi dewa penolong bagi Devi pada setiap makan siang tiba.
Jam menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat, artinya waktu makan seperti bisanya tiba. Seperti biasanya Hany langsung duduk dekat Devi. Ia menunggu overran mentimun dari dos nasi Devi.”Jangankan mentimun, makan bersama di satu piring aja saya mau,”pikir Hany yang langsung melahap mentimun pemberian Devi. Hany begitu menikmati mentimun itu.
“Ini bukan mentimun biasa, ini mentimun cinta,”pikir Hany lagi, seolah yang dimakannya bukan sepotong mentimun. Di sudut lain Musa terlihat kecewa sebab tidak sempat mendapatkan mentimun milik Devi. Musa kesal akibat kalah cepat dengan Hany mengambil mentimun itu.
Kepada Devi, Hany mengaku sangat suka makan mentimun, meski itu hanya alasan belaka biar Devi bisa lebih dekat dengan dia. Namun berkat mentimun itu, Hany terlihat lebih akrab dengan Devi. Bukan hanya ketika akan makan siang saja Hany terlihat terlibat perbincangan dengan Devi, bahkan pada saat jam istirahat Hany juga dapat kesempatan berbincang dengan Devi.
Musa yang terkenal paling iseng di ruangan itu nampaknya tidak ikhlas melihat kedekatan Devi dengan Hany. Dengan sikap isengnya tidak jarang Musa mengganggu dan mencuri kesempatan dengan Devi, baik pada saat berfoto bersama dan lainnya. Namun tetap saja Hany tidak mau kalah.
Hany kerap berupaya menyenangkan Devy. Melucu atau pura-pura minta bantuan jadi trik ampuh bagi Hany untuk bisa terus dekat dengan Devy. Jurus yang dilakukan Hany nampaknya ampuh juga. Terbukti hampir tiap hari Hany dan Devy kerap duduk bersama bahkan saat jam istirahat jalan bersama sambil ngobrol.
Namun kedekatan itu, belum sempurna sebab Hany sendiri hanya memendam perasaan hatinya. Hany kehilangan nyali untuk menyampaikan luapan perasaannya ke Devy. Akibatnya keakrabatan yang dibina hanya keakraban semata sebagai teman.
Hingga pada suatu hari, waktu itu masa prajabatan tersisa seminggu lagi, seorang laki-laki berpenampilan menarik mengunjungi lokasi Prajabatan. Laki-laki itu datang mencari Devy. Devy yang mengetahui kedatangan laki-laki itu langsung menghampirinya. Mereka kemudian terlibat perbincangan serius, Devy terlihat manja dengan lelaki tadi.
Dari cara bicara dan sikap Devy terhadap lelaki tadi sangat jelas bahwa lelaki yang datang itu memiliki hubungan serius dengan Devy. Hany yang mencuri pandang dari jauh merasa trenyuh dengan keakraban mereka. Entah karena apa, tiba-tiba ada perasaan yang aneh dalam diri Hany. Sebuah rasa yang membuat tulang-tulang Hany lemas tak bertenaga. Tidak tahan berlama-lama mencuri pandang keakraban Devy dan lelaki tadi, Hany kemudian menenangkan diri di Mushallah dekat aula tempat berlangsungnya Prajabatan.
“Huffff…. Mentimun yang saya nikmati memang masih sepotong kapan sepurnanya yah,”gumam Hany dalam hati sambil membaringkan badannya di dalam Mushallah.
Rasa penasaran Hany terhadap lelaki yang datang tadi dan terlihat akrab dengan Devy ternyata membuat Hany penasaran. Namun Hany sendiri tidak berani untuk menanyakan langsung ke Devy tentang laki-laki tadi. Ia takut dianggap lancang atau dianggap tidak tahu diri.
“Musa,.. yah Musa…,”Hany teringat Musa temannya yang paling iseng.
Hany berencana memanfaatkan sikap iseng Musa untuk menanyakan siapa lelaki tadi yang datang menemui Devi.
“Musa, kamu tahu gak siapa lelaki tadi yang datang menemui Devy,”Tanya Hany saat bertemu Musa. Hany sendiri sempat berkeliling lokasi Prajabatan untuk mencari keberadaan Musa. Ternyata Musa sedang kumpul dengan teman-teman prajabatan lainnya sambil melucu.
“Tidak, kenapa?,”sahut Musa.
“tolong yah kamu cari tahu siapa lelaki tadi,”harap Hany.
“Kenapa bukan kamu saja yang nanya langsung ke Devy,”ledek Musa yang sudah tahu selama ini Hany memendam perasaan sama Devy.
“Tolonglah teman mu ini, kamu kan tahu saya kurang berani untuk masalah seperti ini, please cari tahu yah….,”kata Hany memelas.
“Hmmm….,”Musa menggumam sambil mengangguk tanda setuju.
Belum lama mereka berbincang tiba-tiba Devy berlalu di depan mereka. Spontan sikap iseng Musa muncul.
“Cieee…..tawwa,”ledek Musa.
“Cieee apa?,”sahut Devy yang merasa diledeki oleh Musa. Devy pun mendekat ke Musa yang saat itu lagi bersama Hany.
“Lagi berbunga-bunga ni yeee..dapat kunjungan, yang itu yah???,”ledek Musa lagi dengan nada isengnya.
“Huh sembarangan…biasa lagi,”sahut Devy menangkis guyonan Musa.
“Yang itumikah calon bapaknya kenapa tidak dikenalkan sama kita-kita,”lanjut Musa masih penuh guyonan dalam dialeg setempat.
“Mang kenapa? Gagah toh,”balas Devy juga dengan guyonan.
“seriuska ini, yang itumikah? Klo iya kita mau mengundurkan ini,”lagi-lagi Musa terus memainkan ciri khas isengnya.
“Tidak apa-apa maju saja kalau mau jadi yang ke lima,”ujar Devy tidak mau kalah.
Jawaban Devy ini meski tidak serius tapi sudah menjawab tanda Tanya di hati Hany yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perbincangan antara Musa dan Devy.
Sejak mengetahui Devy sudah memiliki pacar, Hany mulai tidak segencar dulu mendekati Devy. Meski tiap saat ia tetap berupaya dekat dengan Devy. Itu dilakukannya agar Devy tidak menaruh curiga terhadapnya.
Trenyuh. Perasaan itu yang menghantui Hany sejak mengetahui Devy sudah memiliki pacar. Ada harapan yang hilang dari diri Hany yang sejak awal mengikuti prajabatan menggantungkan harapan bisa menemukan tambatan hatinya di pajabatan itu.
“Kenapa juga baru sekarang ketahuan, kenapa bukan dari awal supaya bisa cari yang lain,”sesal Hany dalam hati.
Hingga prajabatan berakhir, Hany tetap seperti awal dia mengikuti Prajabatan. Belum ada perempuan yang berhasil menggait hatinya. Belum ada kata cinta yang terlontar dari mulutnya untuk seorang perempuan. Ucapan yang hampir saja disampaikannya pada Devy yang ternyata lebih dahulu menemukan tambatan hati meski bukan sesama peserta prajabatan.
Tidak terasa waktu hampir sebulan kegiata prajabatan berlangsung. Hingga memasuki malam ramah tamah, para peserta prajabatan khususnya dari golongan III yang hadir malam itu bergembira ria. Kecuali Hany yang memilih duduk di sudut paling belakang gedung. Matanya tidak berhenti memperhatikan orang-orang yang ada di depannya. Seolah ada yang ia cari. Devy. Nama itu ada dalam hatinya, namun disudut lain ia berharap ada Devy lain yang ia temukan malam itu. Namun hingga acara selesai tidak seorang pun yang diajak bicara oleh Hany kecuali teman-teman satu ruangannya yang sempat menyapanya dan dijawab seadanya oleh Hany.
Masa penutupan pun tiba. Hany memilih berdiri duduk di samping kanan deretan peserta. Matanya tetap jalang mengawasi peserta lain. Di matanya masih tersimpan harapan, ada Devy lain yang nyangkut di matanya. Namun hingga acara penutupan, harapan itu tetap belum terjawab.
Usai penutupan Hany pamit lebih awal kembali ke tempatnya mengajar. Hany merupakan salah satu guru yang mengajar di sebuah pedesaan di Kota itu. Hany langsung kembali ke kosnya. Setiba di kos Hany langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Mata dan pikirannya mengawang-awang. Ia sempat terlelap dalam tidur hingga sore hari.
Jam menunjukkan pukul 16.00 sore waktu setempat. Hany menghibur dirinya dengan berjalan mengelilingi perkampungan. Sejak ia mengajar di desa tersebut, ini yang pertama kali ia berjalan mengelilingi kampung. Biasanya Hany lewat mengendarai motor, itupun ketika ada kepentingan tertentu. Namun kali ini ia hanya berjalan tanpa tujuan.
Tiba di sebuah persimpangan jalan, tepatnya didepan sebuah rumah panggung besar. Hany berhenti sejenak. Matanya tiba-tiba tertuju pada buah mentimun yang bergelantungan di halaman rumah panggung besar tersebut. Entah apa yang Ia pikirkan.
“Mentimun. Kapan saya dapat dengan utuh?selama ini saya hanya dapat sepotong. Sepotong seperti serpihan hati yang juga masih sepotong belum juga cukup satu,”pikir Hany sambil terus memperhatikan buah mentimun tadi.
Cukup lama Hany memperhatikan buah mentimun tersebut, hingga ia baru tersadar ketika ada suara yang menyapanya dari dalam halaman rumah itu.
“Ada yang bisa saya bantu pak,”ucap sebuah suara yang ternyata pemiliknya adalah seorang gadis remaja. Jika ditaksir usianya sekitar 15-16 tahun.
Hany terperanjat dari lamunannya mendengar suara itu. Ia pun langsung tergugup.”ee..ee.. tidak Cuma lihat-lihat,”jawabnya gugup.
“Mau mentimun pak. Sini masuk pak, petik saja kebetulan buahnya banyak,”lanjut remaja tadi.
“Tidak saya Cuma terkenang dengan buah mentimun ini,”sahut Hany.
“Maksudnya pak,”
“Ia, kondisi saya saat ini seperti mentimun itu,”
Remaja tadi makin penasaran.”saya tidak mengerti pak, bisa dijelaskan,”harap remaja tadi penasaran.
“Cerita nya begini,”lanjut Hany.
“Masuk dulu disini pak sambil cerita,”ajak gadis tadi dengan ramah.
Kali ini Hany tidak bisa mengelak. Ia pun mengikuti ajakan gadis tadi dan masuk ke halaman rumahnya. Diam-diam hany memperhatikan wajah gadis tadi.”gadis ini cantik juga,”pikir Hany.
“Begini dek,”Hany melanjutkan ceritanya soal mentimun tadi.
“Saya baru saja selesai prajabatan. Di prajabatan saya selalu dapat mentimun sepotong. Saat itu saya berpikir bahwa hati saya juga seperti mentimun itu. Masih sepotong dan butuh disempurnakan jadi mentimun yang utuh. Makanya diprajabatan saya berniat menyempurnakannya utuh seperti mentimun, tapi tidak berhasil,”jelas Hany.
“Ohh gitu yah….saya mulai mengerti,”sahut gadis tadi.
“Mudah-mudahan saya cepat dapat menyemprunakan hati saya hingga bisa utuh seperti mentimun tadi, eh boleh kenalan,”Hany mengulurkan tangannya sambil menatap gadis tadi.
“Saya Hany, kamu?,”
“Saya Yovi,”sahut gadis tadi yang ternyata bernama Yovi malu-malu.
Cukup lama Hany terlibat perbincangan dengan Yovi. Hany bercerita pengalaman saat mahasiswa hingga ia mengajar di kampung itu. Yovi mengikuti cerita Hany dengan serius. Perkenalan mereka itu tiba-tiba langsung akrab hari itu. Bahkan saat bercerita dengan Yovi, Ibu Yovi juga turut serta. Ibu Yovi bergabung dengan mereka sambil membawa segelas teh panas dan makanan ringan, membuat perbincangan mereka makin panjang. Karena cerita panjang lebar sambil tertawa, Hany tidak hanya akrab dengan Yovi tapi juga dengan ibu Yovi.
“Sudah hampir malam, saya pamit dulu dek, ibu,”tutur Hany yang baru menyadari bahwa hari hampir memasuki malam. Ia tidak merasa telah lama berada di tempat itu.
“Ia nak, jalan-jalan kesini jika ada waktu,”jawab ibu Yovi.
Sejak perkenalan itu, Hany sering-sering ke rumah Yovi. Yovi juga mulai menyukai Hany begitupun sebaliknya. Sementara ibu Yovi juga cukup senang pada setiap kehadiran Hany. Selain Hany memang sopan dalam bertutur, paling tidak dimata ibu Yovi Hany adalah lelaki mapan yang sudah punya kerjaan tetap, sehingga ia juga tidak khawatir jika anaknya sampai menyukai Hany.
Selain sopan, pada setiap berkunjung Hany tidak alpa membawa bungkusan untuk ibu Yovi dan kerap membeli rokok untuk bapak Yovi yang sangat doyang merokok. Bukan itu saja Hany juga tidak jarang turut membantu menggarap dan memelihara kebun mentimun di halaman rumah Yovi.
“Akhirnya hati saya sudah utuh seperti utuhnya mentimun ini, tidak lagi hanya sepotong seperti yang saya dapatkan di Prajabatan tiap hari,”ucap Hany dalam hati sambil megangi buah mentimun besar berwarna putih di depannya. (Tamat)
Sepotong mentimun langsung merebak disela-sela nasi, di atasnya tampak tumpukan sambal goreng. Ku ambil sendok plastik yang ada di sudut lain dos nasi itu untuk membersihkan tumpukan sambal yang ada di atas mentimun. Takut sesekali panitia memerintahkan untuk menghabisi mentimun terlebih dahulu sebelum makan nasi dan lauk yang ada seperti yang kerap diperintahkan kepada kami.
Ku coba menoleh ke arah teman lain yang juga sementara asyik membuka dos nasi mereka. Yang aku pandangi balik menatap ke arah saya. Yang lain juga saling menatap sambil tersenyum. Entah apa maksud tatapan itu. Yang jelas setiap makan siang aksi saling tatap terus berlangsung seperti keberadaan sepotong mentimun yang tidak pernah alpa berada di antara tumpukan nasi kami.
“Habiskan mentimun dulu sebelum makan nasinya,”lontar salah seorang panitia. Para peserta Prajabatan mendengar perintah itu tidak langsung mengikuti intruksi, sebaliknya mereka justru kembali saling pandang dan melempar senyum. Setelah itu sepotong mentimun itu berpindah ke mulut mereka.
Namun siapa sangka tidak semua peserta menyukai mentimun. Ada juga yang diantara peserta yang betul-betul tidak menyukai mentimun. Devi, seorang gadis cantik dari salah satu dinas di daerah itu mengaku sangat alergi dengan mentimun. Maka ketika makan siangnya di pandu oleh panitia, rasa was-was terus menghantuinya. Takut di hukum tentu saja menjadi alasannya.
Beruntung Devi berparas cantik. Banyak lelaki dari peserta Prajabatan itu yang menyimpan hati untuk Devi. Tidak heran jika saat jam makan siang tiba, banyak lelaki yang mendekat ke Devi. Mereka bermaksud menolong Devi dengan jalan mengambil sepotong mentimun milik Devi.
Hany, seorang pria yang menjadi fans berat Devi. Pada setiap kesempatan Hany terus berupaya menarik simpati Devi. Sejak awal, Hany memang berharap menemukan tambatan hatinya di prajabatan ini. Sehingga saat melihat Devi, ia terobsesi untuk bisa mengenal bahkan bisa berteman dekat dengan Devi atau istilah remajanya pacaran.
Namun ternyata bukan Cuma Hany saja yang mengagumi Devi, pria lain bernama Musa ternyata diam-diam juga menaruh perhatian dengan Devi. Musa juga sudah tahu jika Hany menyukai Devi, sebab pada setiap berlangsungnya materi, Hany dan Musa terus duduk berdekatan di bangku terakhir. Mudah saja Musa untuk mengawasi gerak Hany bahkan sesekali Hany malah berceritera kepada Musa soal perasaan hatinya.
Melihat Devi tidak menyukai mentimun, Musa dan Hany seolah mendapatkan pintu masuk.”nah kalau begini, jika ingin mendapatkan hati Devi kayaknya saya harus berburu mentimun,”pikir Hany. Musa juga memiliki pikiran sama dengan Hany.
Sebenarnya Hany juga tidak terlalu menyukai mentimun, namun karena terlanjur menganggap berburu hati Devi berarti juga harus berburu mentimun, Hany terus berupaya menjadi dewa penolong bagi Devi pada setiap makan siang tiba.
Jam menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat, artinya waktu makan seperti bisanya tiba. Seperti biasanya Hany langsung duduk dekat Devi. Ia menunggu overran mentimun dari dos nasi Devi.”Jangankan mentimun, makan bersama di satu piring aja saya mau,”pikir Hany yang langsung melahap mentimun pemberian Devi. Hany begitu menikmati mentimun itu.
“Ini bukan mentimun biasa, ini mentimun cinta,”pikir Hany lagi, seolah yang dimakannya bukan sepotong mentimun. Di sudut lain Musa terlihat kecewa sebab tidak sempat mendapatkan mentimun milik Devi. Musa kesal akibat kalah cepat dengan Hany mengambil mentimun itu.
Kepada Devi, Hany mengaku sangat suka makan mentimun, meski itu hanya alasan belaka biar Devi bisa lebih dekat dengan dia. Namun berkat mentimun itu, Hany terlihat lebih akrab dengan Devi. Bukan hanya ketika akan makan siang saja Hany terlihat terlibat perbincangan dengan Devi, bahkan pada saat jam istirahat Hany juga dapat kesempatan berbincang dengan Devi.
Musa yang terkenal paling iseng di ruangan itu nampaknya tidak ikhlas melihat kedekatan Devi dengan Hany. Dengan sikap isengnya tidak jarang Musa mengganggu dan mencuri kesempatan dengan Devi, baik pada saat berfoto bersama dan lainnya. Namun tetap saja Hany tidak mau kalah.
Hany kerap berupaya menyenangkan Devy. Melucu atau pura-pura minta bantuan jadi trik ampuh bagi Hany untuk bisa terus dekat dengan Devy. Jurus yang dilakukan Hany nampaknya ampuh juga. Terbukti hampir tiap hari Hany dan Devy kerap duduk bersama bahkan saat jam istirahat jalan bersama sambil ngobrol.
Namun kedekatan itu, belum sempurna sebab Hany sendiri hanya memendam perasaan hatinya. Hany kehilangan nyali untuk menyampaikan luapan perasaannya ke Devy. Akibatnya keakrabatan yang dibina hanya keakraban semata sebagai teman.
Hingga pada suatu hari, waktu itu masa prajabatan tersisa seminggu lagi, seorang laki-laki berpenampilan menarik mengunjungi lokasi Prajabatan. Laki-laki itu datang mencari Devy. Devy yang mengetahui kedatangan laki-laki itu langsung menghampirinya. Mereka kemudian terlibat perbincangan serius, Devy terlihat manja dengan lelaki tadi.
Dari cara bicara dan sikap Devy terhadap lelaki tadi sangat jelas bahwa lelaki yang datang itu memiliki hubungan serius dengan Devy. Hany yang mencuri pandang dari jauh merasa trenyuh dengan keakraban mereka. Entah karena apa, tiba-tiba ada perasaan yang aneh dalam diri Hany. Sebuah rasa yang membuat tulang-tulang Hany lemas tak bertenaga. Tidak tahan berlama-lama mencuri pandang keakraban Devy dan lelaki tadi, Hany kemudian menenangkan diri di Mushallah dekat aula tempat berlangsungnya Prajabatan.
“Huffff…. Mentimun yang saya nikmati memang masih sepotong kapan sepurnanya yah,”gumam Hany dalam hati sambil membaringkan badannya di dalam Mushallah.
Rasa penasaran Hany terhadap lelaki yang datang tadi dan terlihat akrab dengan Devy ternyata membuat Hany penasaran. Namun Hany sendiri tidak berani untuk menanyakan langsung ke Devy tentang laki-laki tadi. Ia takut dianggap lancang atau dianggap tidak tahu diri.
“Musa,.. yah Musa…,”Hany teringat Musa temannya yang paling iseng.
Hany berencana memanfaatkan sikap iseng Musa untuk menanyakan siapa lelaki tadi yang datang menemui Devi.
“Musa, kamu tahu gak siapa lelaki tadi yang datang menemui Devy,”Tanya Hany saat bertemu Musa. Hany sendiri sempat berkeliling lokasi Prajabatan untuk mencari keberadaan Musa. Ternyata Musa sedang kumpul dengan teman-teman prajabatan lainnya sambil melucu.
“Tidak, kenapa?,”sahut Musa.
“tolong yah kamu cari tahu siapa lelaki tadi,”harap Hany.
“Kenapa bukan kamu saja yang nanya langsung ke Devy,”ledek Musa yang sudah tahu selama ini Hany memendam perasaan sama Devy.
“Tolonglah teman mu ini, kamu kan tahu saya kurang berani untuk masalah seperti ini, please cari tahu yah….,”kata Hany memelas.
“Hmmm….,”Musa menggumam sambil mengangguk tanda setuju.
Belum lama mereka berbincang tiba-tiba Devy berlalu di depan mereka. Spontan sikap iseng Musa muncul.
“Cieee…..tawwa,”ledek Musa.
“Cieee apa?,”sahut Devy yang merasa diledeki oleh Musa. Devy pun mendekat ke Musa yang saat itu lagi bersama Hany.
“Lagi berbunga-bunga ni yeee..dapat kunjungan, yang itu yah???,”ledek Musa lagi dengan nada isengnya.
“Huh sembarangan…biasa lagi,”sahut Devy menangkis guyonan Musa.
“Yang itumikah calon bapaknya kenapa tidak dikenalkan sama kita-kita,”lanjut Musa masih penuh guyonan dalam dialeg setempat.
“Mang kenapa? Gagah toh,”balas Devy juga dengan guyonan.
“seriuska ini, yang itumikah? Klo iya kita mau mengundurkan ini,”lagi-lagi Musa terus memainkan ciri khas isengnya.
“Tidak apa-apa maju saja kalau mau jadi yang ke lima,”ujar Devy tidak mau kalah.
Jawaban Devy ini meski tidak serius tapi sudah menjawab tanda Tanya di hati Hany yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perbincangan antara Musa dan Devy.
Sejak mengetahui Devy sudah memiliki pacar, Hany mulai tidak segencar dulu mendekati Devy. Meski tiap saat ia tetap berupaya dekat dengan Devy. Itu dilakukannya agar Devy tidak menaruh curiga terhadapnya.
Trenyuh. Perasaan itu yang menghantui Hany sejak mengetahui Devy sudah memiliki pacar. Ada harapan yang hilang dari diri Hany yang sejak awal mengikuti prajabatan menggantungkan harapan bisa menemukan tambatan hatinya di pajabatan itu.
“Kenapa juga baru sekarang ketahuan, kenapa bukan dari awal supaya bisa cari yang lain,”sesal Hany dalam hati.
Hingga prajabatan berakhir, Hany tetap seperti awal dia mengikuti Prajabatan. Belum ada perempuan yang berhasil menggait hatinya. Belum ada kata cinta yang terlontar dari mulutnya untuk seorang perempuan. Ucapan yang hampir saja disampaikannya pada Devy yang ternyata lebih dahulu menemukan tambatan hati meski bukan sesama peserta prajabatan.
Tidak terasa waktu hampir sebulan kegiata prajabatan berlangsung. Hingga memasuki malam ramah tamah, para peserta prajabatan khususnya dari golongan III yang hadir malam itu bergembira ria. Kecuali Hany yang memilih duduk di sudut paling belakang gedung. Matanya tidak berhenti memperhatikan orang-orang yang ada di depannya. Seolah ada yang ia cari. Devy. Nama itu ada dalam hatinya, namun disudut lain ia berharap ada Devy lain yang ia temukan malam itu. Namun hingga acara selesai tidak seorang pun yang diajak bicara oleh Hany kecuali teman-teman satu ruangannya yang sempat menyapanya dan dijawab seadanya oleh Hany.
Masa penutupan pun tiba. Hany memilih berdiri duduk di samping kanan deretan peserta. Matanya tetap jalang mengawasi peserta lain. Di matanya masih tersimpan harapan, ada Devy lain yang nyangkut di matanya. Namun hingga acara penutupan, harapan itu tetap belum terjawab.
Usai penutupan Hany pamit lebih awal kembali ke tempatnya mengajar. Hany merupakan salah satu guru yang mengajar di sebuah pedesaan di Kota itu. Hany langsung kembali ke kosnya. Setiba di kos Hany langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Mata dan pikirannya mengawang-awang. Ia sempat terlelap dalam tidur hingga sore hari.
Jam menunjukkan pukul 16.00 sore waktu setempat. Hany menghibur dirinya dengan berjalan mengelilingi perkampungan. Sejak ia mengajar di desa tersebut, ini yang pertama kali ia berjalan mengelilingi kampung. Biasanya Hany lewat mengendarai motor, itupun ketika ada kepentingan tertentu. Namun kali ini ia hanya berjalan tanpa tujuan.
Tiba di sebuah persimpangan jalan, tepatnya didepan sebuah rumah panggung besar. Hany berhenti sejenak. Matanya tiba-tiba tertuju pada buah mentimun yang bergelantungan di halaman rumah panggung besar tersebut. Entah apa yang Ia pikirkan.
“Mentimun. Kapan saya dapat dengan utuh?selama ini saya hanya dapat sepotong. Sepotong seperti serpihan hati yang juga masih sepotong belum juga cukup satu,”pikir Hany sambil terus memperhatikan buah mentimun tadi.
Cukup lama Hany memperhatikan buah mentimun tersebut, hingga ia baru tersadar ketika ada suara yang menyapanya dari dalam halaman rumah itu.
“Ada yang bisa saya bantu pak,”ucap sebuah suara yang ternyata pemiliknya adalah seorang gadis remaja. Jika ditaksir usianya sekitar 15-16 tahun.
Hany terperanjat dari lamunannya mendengar suara itu. Ia pun langsung tergugup.”ee..ee.. tidak Cuma lihat-lihat,”jawabnya gugup.
“Mau mentimun pak. Sini masuk pak, petik saja kebetulan buahnya banyak,”lanjut remaja tadi.
“Tidak saya Cuma terkenang dengan buah mentimun ini,”sahut Hany.
“Maksudnya pak,”
“Ia, kondisi saya saat ini seperti mentimun itu,”
Remaja tadi makin penasaran.”saya tidak mengerti pak, bisa dijelaskan,”harap remaja tadi penasaran.
“Cerita nya begini,”lanjut Hany.
“Masuk dulu disini pak sambil cerita,”ajak gadis tadi dengan ramah.
Kali ini Hany tidak bisa mengelak. Ia pun mengikuti ajakan gadis tadi dan masuk ke halaman rumahnya. Diam-diam hany memperhatikan wajah gadis tadi.”gadis ini cantik juga,”pikir Hany.
“Begini dek,”Hany melanjutkan ceritanya soal mentimun tadi.
“Saya baru saja selesai prajabatan. Di prajabatan saya selalu dapat mentimun sepotong. Saat itu saya berpikir bahwa hati saya juga seperti mentimun itu. Masih sepotong dan butuh disempurnakan jadi mentimun yang utuh. Makanya diprajabatan saya berniat menyempurnakannya utuh seperti mentimun, tapi tidak berhasil,”jelas Hany.
“Ohh gitu yah….saya mulai mengerti,”sahut gadis tadi.
“Mudah-mudahan saya cepat dapat menyemprunakan hati saya hingga bisa utuh seperti mentimun tadi, eh boleh kenalan,”Hany mengulurkan tangannya sambil menatap gadis tadi.
“Saya Hany, kamu?,”
“Saya Yovi,”sahut gadis tadi yang ternyata bernama Yovi malu-malu.
Cukup lama Hany terlibat perbincangan dengan Yovi. Hany bercerita pengalaman saat mahasiswa hingga ia mengajar di kampung itu. Yovi mengikuti cerita Hany dengan serius. Perkenalan mereka itu tiba-tiba langsung akrab hari itu. Bahkan saat bercerita dengan Yovi, Ibu Yovi juga turut serta. Ibu Yovi bergabung dengan mereka sambil membawa segelas teh panas dan makanan ringan, membuat perbincangan mereka makin panjang. Karena cerita panjang lebar sambil tertawa, Hany tidak hanya akrab dengan Yovi tapi juga dengan ibu Yovi.
“Sudah hampir malam, saya pamit dulu dek, ibu,”tutur Hany yang baru menyadari bahwa hari hampir memasuki malam. Ia tidak merasa telah lama berada di tempat itu.
“Ia nak, jalan-jalan kesini jika ada waktu,”jawab ibu Yovi.
Sejak perkenalan itu, Hany sering-sering ke rumah Yovi. Yovi juga mulai menyukai Hany begitupun sebaliknya. Sementara ibu Yovi juga cukup senang pada setiap kehadiran Hany. Selain Hany memang sopan dalam bertutur, paling tidak dimata ibu Yovi Hany adalah lelaki mapan yang sudah punya kerjaan tetap, sehingga ia juga tidak khawatir jika anaknya sampai menyukai Hany.
Selain sopan, pada setiap berkunjung Hany tidak alpa membawa bungkusan untuk ibu Yovi dan kerap membeli rokok untuk bapak Yovi yang sangat doyang merokok. Bukan itu saja Hany juga tidak jarang turut membantu menggarap dan memelihara kebun mentimun di halaman rumah Yovi.
“Akhirnya hati saya sudah utuh seperti utuhnya mentimun ini, tidak lagi hanya sepotong seperti yang saya dapatkan di Prajabatan tiap hari,”ucap Hany dalam hati sambil megangi buah mentimun besar berwarna putih di depannya. (Tamat)
Menembus Alam Bersama Bupati Sidrap
Menyambung Hidup Dari Air Di Dedaunan
Matahari hampir berada tepat di atas kepala, ketika rombongan yang dipimpin langsung Bupati Sidrap H Rusdi Masse memasuki jalan setapak menuju Desa Buntu Buangin Kecamatan Pitu Riase. Sebuah wilayah perbatasan dengan Kabupaten Wajo. Rombongan Bupati sendiri mulai star dari Barukku.
Ikut dalam rombongan Ketua DPRD Sidrap, A Sukri Baharman, Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng dan beberapa anggota DPRD Sidrap lainnya seperti Drs Sutanto dan H Yusuf Latief. Bukan itu saja, sejumlah pejabat lingkup Pemkab Sidrap seperti Asisten Bidang Administrasi umum Siara Barang, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Sudirman Bungi, Kepala Dinas PSDA Ir Imran Abidin MSi, Kadis Cipta Karya Dr Haikal Ali SE MTP, Kadis Kesehatan dr A Irwansyah M Kes Kepala RSUD Arifin Nu'mang dr Budi Santoso dan lainnya, sejumlah masyarakat dan tokoh pemuda juga ikut dalam rombongan tersebut.
Rombongan bergerak memasuki kawan hutan dengan medan yang cukup berat dengan menggunakan motor, kebanyakan mengggunakan Motor Cross meski sebagian hanya menggunakan motor biasa.
Berjalan sekitar 20 Kilometer jalanan masih bersahabat, namun saat rombongan sampai pada sebuah sungai dengan lebar sekitar 5 meter, jalanan mulai tidak bersahabat. Puluhan motor terpaksa diseberangkan dengan cara digotong beramai-ramai.
Setelah menyeberangi sungai, jalanan bukan semakin baik, namun sebaliknya makin masuk ke dalam, jalanan semakin sempit, tidak ubahnya seperti jalanan yang diperuntukkan untuk binatang ternak seperti sapi. Namun karena itu jalanan satu-satunya, terpaksa rombongan kembali menantang medan dengan melalui jalanan setapak tersebut.
Baru menempuh beberapa meter setelah penyeberangan dari sungai, sejumlah motor sudah mulai mogok bahkan ada yang tidak bisa dikendarai melanjutkan perjalanan. Sebutlah motor yang dikendarai HM Yusuf Latief, motor milik anggota DPRD Sidrap ini terpaksa haris digotong kembali ke tempat star karena mengalami kerusakan parah, Yusuf latief sendiri melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Setelah berjalan selama beberapa jam, semangat anggota rombongan mulai kendor seiring dengan minimnya perbekalan yang dibawa masuk ke areal hutan. Akibatnya kebanyakan memilih untuk meninggalkan barang bawaan mereka termasuk motor ditinggalkan begitu saja dan memilih berjalan kaki.
Bahkan Bupati Sidrap H Rusdi Masse sendiri tidak mampu mengendarai motor hingga ke perkampungan warga. Hanya ada sekitar lima pengendara yang berhasil menantang jalanan terjal itu hingga ke perkampungan. Selebihnya dievakuasi oleh warga yang ke lokasi dengan mengendarai mobil hartop yang oleh warga setempat disebut mobil kampas.
Sekira pukul 18.00 baru ada rombongan yang tiba di wilayah perkampungan. Bupati Sidrap sendiri baru tiba di Desa Buntu Buanging sekira pukul 19.00 bersama Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng. Mereka tiba dengan kendaraan angkutan khas yang digunakan warga masuk wilayah rumit tersebut.
Hingga pukul 03.00 dini hari pada hari Jumat, empat mobil yang bertugas mengevakuasi anggota rombongan yang masih berada di lokasi hutan terus bolak balik ke lokasi. Namun hingga pagi hari masih ada sekitar 15 orang yang berada dilokasi termasuk Siara Barang (Asisten Adminsitrasi umum) dan Sudirman Bungi (Staf Ahli Bidang ekonomi dan Keuangan) masih berada di lokasi hutan bersama beberapa orang lainnya.
"Kita berjalan dari pukul 17.00 sore hingga tengah malam, namun baru sekitar pukul 03.00 subuh baru bisa ditemukan tim evakuasi," kisah Yusuf Latif mengenang sulitnya hidup di dalam hutan tersebut.
Menurutnya, anggota rombongan di dalam hutan betul-betul kehabisan bekal, sehingga dia dan beberapa anggota rombongan lainnya sambil jalan mengumpulkan bekas kemasan air mineral kemudian mengumpulkan setetes demi setetes untuk sejedar membahasi tenggorokan mereka yang begitu kering.
Selain itu, saat menjumpai sungai itu tidak disia-siakan untuk minum sepuasnya. Beberapa di antara rombongan itu yang memiliki pengalaman menarik dengan mengumpulkan tetesan air hujan yang tersisa di dedauanan untuk di minum.
"Ini betul-betul pengalaman yang tidak akan kita lupakan hingga akhir hayat,"ungkap para rombongan itu.
Tanpa mengenal lelah, setelah sempat jatuh bangun melewati medan berat hingga harus cedera dibagian kaki, keesokan harinya Bupati Sidrap H Rusdi Masse menyempatkan diri berdialog dengan masyarakat. Dialog sebenarnya sudah berlangsung pada malam hari hanya belum maksimal.
Malam harinya setiba di perkampungan Desa Buntu Buangin Kecamatan Pitu Riase, Bupati Sidrap tidak langsung beristirahat melainkan menyempatkan diri berdialog dengan masyarakat bahkan sempat bermain domino bersama warga.
Dan keesokan harinya di depan Puskesmas setempat orang nomor 1 di Bumi Nene Mallomo itu kembali berdialog dengan warga. Jika semalam hanya bercanda dan berakrab ria dengan masyarakat maka kali ini perbincangan diarahkan untuk rencana perintisan jalan bagi masyarakat di daerah itu.
Hasilnya warga menunjukkan jalan alternatif yang layak dimanfaatkan untuk perintisan jalan. Alternatif tersebut harus melewati wilayah Kabupaten Wajo. Versi warga ini lebih menarik perhatian Bupati Sidrap, ketimbang meneruskan perintisan jalan di lokasi yang telah dilalui rombongan dengan mengendarai motor. Hal itu mengingat selain medan yang rumit dan dianggap tidak logis untuk dirintis, juga jika dipaksakan membutuhkan biaya yang cukup besar dengan hasil yang pasti tidak maksimal.
"Saya pikir tawaran masyarakat ini bagus, Dinas Bina Marga minggu depan (minggu ini,red) sudah harus memantau lokasi, soal wilayah Wajo itu bisa dibicarakan kemudian yang penting medannya layak untuk perintisan jalan,"jelas Rusdi Masse saat berdialog dengan masyarakat.
Tanggapan Rusdi Masse terhadap keinginan warga itu disambut baik oleh warga. Para tokoh masyarakat setempat mengaku siap mendampingi pihak Dinas Bina Marga untuk memantau lokasi yang direncanakan berlangsung minggu ini.
Kehadiran rombongan Bupati Sidrap ternyata tidak semata untuk memantau lokasi perintisan jalan, melainkan juga membawa bantuan untuk pembangunan mesjid. Itu terbukti sebab Ketua DPD II Partai Golkar Sidrap ini juga membantu pembangunan mesjid di Desa Buntu Buangin tersebut.
Pada jumat sore, mantan anggota DPRD Sidrap ini didampingi sejumlah tokoh masyarakat, Ketua DPRD Sidrap A Sukri Baharmanm Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng dan beberapa pejabat Pemkab Sidrap mengunjungi lokasi yang ditawarkan warga untuk lokasi perintisan jalan.
Bahkan sesekali Rusdi Masse mampir di rumah warga setempat dan disambut dengan gembira oleh warga yang rumahnya dikunjungi oleh Bupati Sidrap.
Bukan itu saja, Bupati Sidrap ini juga memantau Sekretariat kelompok tani di Desa itu. Setelah itu dilanjutkan dengan memantau beberapa proyek jalan dan jembatan dibeberapa titik di wilayah tersebut.
Menjelang magrib pada Jumat pekan lalu, rombongan Bupati meninggalkan Desa Buntu Buangin bersama rombongan. Warga terlihat antusias melepas kepergian Bupati Sidrap yang telah menemani mereka bercengkrama selama hampir dua hari.
"Kita betul-betul terkesan ada bupati yang sudi bersenda gurau dan bahkan bermalam bersama kita, ini kesan manis bagi kami selaku warga di pelosok,"ungkap salah seorang warga dalam bahasa daerah bugis.(*)
Matahari hampir berada tepat di atas kepala, ketika rombongan yang dipimpin langsung Bupati Sidrap H Rusdi Masse memasuki jalan setapak menuju Desa Buntu Buangin Kecamatan Pitu Riase. Sebuah wilayah perbatasan dengan Kabupaten Wajo. Rombongan Bupati sendiri mulai star dari Barukku.
Ikut dalam rombongan Ketua DPRD Sidrap, A Sukri Baharman, Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng dan beberapa anggota DPRD Sidrap lainnya seperti Drs Sutanto dan H Yusuf Latief. Bukan itu saja, sejumlah pejabat lingkup Pemkab Sidrap seperti Asisten Bidang Administrasi umum Siara Barang, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Sudirman Bungi, Kepala Dinas PSDA Ir Imran Abidin MSi, Kadis Cipta Karya Dr Haikal Ali SE MTP, Kadis Kesehatan dr A Irwansyah M Kes Kepala RSUD Arifin Nu'mang dr Budi Santoso dan lainnya, sejumlah masyarakat dan tokoh pemuda juga ikut dalam rombongan tersebut.
Rombongan bergerak memasuki kawan hutan dengan medan yang cukup berat dengan menggunakan motor, kebanyakan mengggunakan Motor Cross meski sebagian hanya menggunakan motor biasa.
Berjalan sekitar 20 Kilometer jalanan masih bersahabat, namun saat rombongan sampai pada sebuah sungai dengan lebar sekitar 5 meter, jalanan mulai tidak bersahabat. Puluhan motor terpaksa diseberangkan dengan cara digotong beramai-ramai.
Setelah menyeberangi sungai, jalanan bukan semakin baik, namun sebaliknya makin masuk ke dalam, jalanan semakin sempit, tidak ubahnya seperti jalanan yang diperuntukkan untuk binatang ternak seperti sapi. Namun karena itu jalanan satu-satunya, terpaksa rombongan kembali menantang medan dengan melalui jalanan setapak tersebut.
Baru menempuh beberapa meter setelah penyeberangan dari sungai, sejumlah motor sudah mulai mogok bahkan ada yang tidak bisa dikendarai melanjutkan perjalanan. Sebutlah motor yang dikendarai HM Yusuf Latief, motor milik anggota DPRD Sidrap ini terpaksa haris digotong kembali ke tempat star karena mengalami kerusakan parah, Yusuf latief sendiri melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Setelah berjalan selama beberapa jam, semangat anggota rombongan mulai kendor seiring dengan minimnya perbekalan yang dibawa masuk ke areal hutan. Akibatnya kebanyakan memilih untuk meninggalkan barang bawaan mereka termasuk motor ditinggalkan begitu saja dan memilih berjalan kaki.
Bahkan Bupati Sidrap H Rusdi Masse sendiri tidak mampu mengendarai motor hingga ke perkampungan warga. Hanya ada sekitar lima pengendara yang berhasil menantang jalanan terjal itu hingga ke perkampungan. Selebihnya dievakuasi oleh warga yang ke lokasi dengan mengendarai mobil hartop yang oleh warga setempat disebut mobil kampas.
Sekira pukul 18.00 baru ada rombongan yang tiba di wilayah perkampungan. Bupati Sidrap sendiri baru tiba di Desa Buntu Buanging sekira pukul 19.00 bersama Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng. Mereka tiba dengan kendaraan angkutan khas yang digunakan warga masuk wilayah rumit tersebut.
Hingga pukul 03.00 dini hari pada hari Jumat, empat mobil yang bertugas mengevakuasi anggota rombongan yang masih berada di lokasi hutan terus bolak balik ke lokasi. Namun hingga pagi hari masih ada sekitar 15 orang yang berada dilokasi termasuk Siara Barang (Asisten Adminsitrasi umum) dan Sudirman Bungi (Staf Ahli Bidang ekonomi dan Keuangan) masih berada di lokasi hutan bersama beberapa orang lainnya.
"Kita berjalan dari pukul 17.00 sore hingga tengah malam, namun baru sekitar pukul 03.00 subuh baru bisa ditemukan tim evakuasi," kisah Yusuf Latif mengenang sulitnya hidup di dalam hutan tersebut.
Menurutnya, anggota rombongan di dalam hutan betul-betul kehabisan bekal, sehingga dia dan beberapa anggota rombongan lainnya sambil jalan mengumpulkan bekas kemasan air mineral kemudian mengumpulkan setetes demi setetes untuk sejedar membahasi tenggorokan mereka yang begitu kering.
Selain itu, saat menjumpai sungai itu tidak disia-siakan untuk minum sepuasnya. Beberapa di antara rombongan itu yang memiliki pengalaman menarik dengan mengumpulkan tetesan air hujan yang tersisa di dedauanan untuk di minum.
"Ini betul-betul pengalaman yang tidak akan kita lupakan hingga akhir hayat,"ungkap para rombongan itu.
Tanpa mengenal lelah, setelah sempat jatuh bangun melewati medan berat hingga harus cedera dibagian kaki, keesokan harinya Bupati Sidrap H Rusdi Masse menyempatkan diri berdialog dengan masyarakat. Dialog sebenarnya sudah berlangsung pada malam hari hanya belum maksimal.
Malam harinya setiba di perkampungan Desa Buntu Buangin Kecamatan Pitu Riase, Bupati Sidrap tidak langsung beristirahat melainkan menyempatkan diri berdialog dengan masyarakat bahkan sempat bermain domino bersama warga.
Dan keesokan harinya di depan Puskesmas setempat orang nomor 1 di Bumi Nene Mallomo itu kembali berdialog dengan warga. Jika semalam hanya bercanda dan berakrab ria dengan masyarakat maka kali ini perbincangan diarahkan untuk rencana perintisan jalan bagi masyarakat di daerah itu.
Hasilnya warga menunjukkan jalan alternatif yang layak dimanfaatkan untuk perintisan jalan. Alternatif tersebut harus melewati wilayah Kabupaten Wajo. Versi warga ini lebih menarik perhatian Bupati Sidrap, ketimbang meneruskan perintisan jalan di lokasi yang telah dilalui rombongan dengan mengendarai motor. Hal itu mengingat selain medan yang rumit dan dianggap tidak logis untuk dirintis, juga jika dipaksakan membutuhkan biaya yang cukup besar dengan hasil yang pasti tidak maksimal.
"Saya pikir tawaran masyarakat ini bagus, Dinas Bina Marga minggu depan (minggu ini,red) sudah harus memantau lokasi, soal wilayah Wajo itu bisa dibicarakan kemudian yang penting medannya layak untuk perintisan jalan,"jelas Rusdi Masse saat berdialog dengan masyarakat.
Tanggapan Rusdi Masse terhadap keinginan warga itu disambut baik oleh warga. Para tokoh masyarakat setempat mengaku siap mendampingi pihak Dinas Bina Marga untuk memantau lokasi yang direncanakan berlangsung minggu ini.
Kehadiran rombongan Bupati Sidrap ternyata tidak semata untuk memantau lokasi perintisan jalan, melainkan juga membawa bantuan untuk pembangunan mesjid. Itu terbukti sebab Ketua DPD II Partai Golkar Sidrap ini juga membantu pembangunan mesjid di Desa Buntu Buangin tersebut.
Pada jumat sore, mantan anggota DPRD Sidrap ini didampingi sejumlah tokoh masyarakat, Ketua DPRD Sidrap A Sukri Baharmanm Wakil Ketua DPRD Sidrap A Hindi Tongkeng dan beberapa pejabat Pemkab Sidrap mengunjungi lokasi yang ditawarkan warga untuk lokasi perintisan jalan.
Bahkan sesekali Rusdi Masse mampir di rumah warga setempat dan disambut dengan gembira oleh warga yang rumahnya dikunjungi oleh Bupati Sidrap.
Bukan itu saja, Bupati Sidrap ini juga memantau Sekretariat kelompok tani di Desa itu. Setelah itu dilanjutkan dengan memantau beberapa proyek jalan dan jembatan dibeberapa titik di wilayah tersebut.
Menjelang magrib pada Jumat pekan lalu, rombongan Bupati meninggalkan Desa Buntu Buangin bersama rombongan. Warga terlihat antusias melepas kepergian Bupati Sidrap yang telah menemani mereka bercengkrama selama hampir dua hari.
"Kita betul-betul terkesan ada bupati yang sudi bersenda gurau dan bahkan bermalam bersama kita, ini kesan manis bagi kami selaku warga di pelosok,"ungkap salah seorang warga dalam bahasa daerah bugis.(*)
Rabu, 26 Januari 2011
Pengelolaan PBB Segera Ke daerah
2014 Pengelolaan PBB Diserahkan Ke Kabupaten
SIDRAP-- Pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) secara bertahap akan diserahkan pemerintah pusat kepada Pemerintah Kabupaten. Pelimpahan tersebut efektif dilaksanakan paling lambat tanggal 1 Januari 2014.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kab. Sidrap, Wahyuddin SE MSi saat bertindak selaku Pembina Upacara di halaman Kantor Bupati Sidrap, Senin (24/1). Upacara diikuti jajaran PNS lingkup Pemkab Sidrap dan dihadiri Sekretaris Kabupaten Sidrap, H Ruslan SH MAP, para asisten, staf ahli bupati, kepala SKPD dan pejabat lainnya.
Wahyuddin menjelaskan, pelimpahan pengelolaan PBB secara bertahap tersebut sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Namun pelimpahannya tergantung kesiapan tiap-tiap daerah untuk melaksanakannya.
“Untuk itu persiapan harus dilakukan secara matang, khususnya persiapan SDM aparatur yang andal. Begitupun persiapan aspek-aspek pendukung lainnya,”ujarnya.
Aspek-aspek yang dimaksudkan Wahyuddin yaitu aspek peraturan hukum, sarana dan prasarana, aspek pendanaan serta penyesuaian struktur organisasi.
Sementara itu, Wahyuddin menyampaikan dengan pemberlakuan UU No. 28 Tahun 2009, maka UU No. 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sudah tidak berlaku lagi. “Hal ini harus dicermati aparat terkait, karena terdapat sejumlah aturan yang berubah,”ungkapnya.
Wahyuddin mencontohkan, pada Bea Perolehan Tanah dan Bangunan (BPHTB), nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak berdasarkan UU No 28 Tahun 2009 ditetapkan paling rendah sebesar Rp60 juta, sementara dalam peraturan sebelumnya hanya Rp15 juta.
“Hal-hal seperti ini yang harus dipahami sehingga tidak lagi terjadi kekeliruan dalam penetapan nilai pajak,”ingatnya.
Di bagian akhir arahannya pada upacara yang dipimpin Kasi Penetapan Pajak, Ramli dengan Perwira Upacara Kabid Retribusi Dispenda Sidrap, Ahmad SP MS itu, Wahyuddin menyinggung realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sidrap yang pada tahun 2010 mencapai 76,59%.
“Capaian tersebut tentunya berpengaruh terhadap belanja daerah, karenanya dibutuhkan kerja sama seluruh pihak untuk mencapai hasil yang lebih baik ke depan ”tandasnya.(Hamsah).
Sidrap Dorong Pertanian Organik

Misriani Ilyas : Janji Perjuangkan Alokasi Anggaran
SIDRAP-- Pemkab Sidrap melalui Bagian Pengembangan Perekonomian Setda dan unsur terkait menggelar kegiatan berupa pembekalan penyuluh pertanian organik tingkat Kabupaten Sidrap, di ruang Pola Kantor Bupati Sidrap, belum lama ini. Pembekalan diikuti oleh para kades/lurah dan perangkatnya, para penyuluh pertanian dan unsur terkait lainnya. Sebagai pemateri, Dr Rhomy Reynald, MM., M Si, pakar Sosial Ekonomi Pertanian dari salah satu perguruan tinggi dan Anggota DPRD Sulsel, Hj Misriani Ilyas S Sos, SP.
Kabag Peng Perekonomian Setda A Zulkarnain Mana S STP M Si selaku Ketua Panitia menyatakan menyambut baik dan memberikan apresiasi kehadiran para undangan, pemateri dan para peserta untuk mengikuti pembekalan penyuluh pertanian ini. Pada prinsipnya, kabag itu mengharapkan, kegiatan ini hendaknya diikuti dengan baik untuk mendapatkan bekal pengetahuan yang dapat diimplementasikan dan selanjutnya disebarluaskan kepada masyarakat petani.
Bupati Sidrap diwakili Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra, Drs H Amir A Wali MH menyampaikan, Kabupaten Sidrap adalah daerah agraris yang memiliki potensi sumber daya alam yang memadai untuk mengembangkan berbagai macam komoditi pertanian, perkebunan dan peternakan yang menjadikan daerah ini sebagai lumbung pangan nasional.
Berdasarkan hal tersebut, urai Asisten I itu, Sidrap merupakan daerah pengguna pupuk dan pestisida tertinggi di Sulawesi Selatan, sehingga tak dapat dipungkiri bahwa hal ini dapat berdampak pada kerusakan sifat fisik, kimia dan bilogi tanah. “Bisa diprediksi beberapa tahun ke depan seluruh lahan pertanian dan perkebunan di Sidrap tidak dapat lagi memberikan hasil optimal,” jelas aisisten mantan Kabag Pemerintahan Sidrap ini.
Dikatakan, produk pertanian yang telah terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia yang sifatnya beracun dan tentunya tidak layak dikonsumsi jika mengacu pada syarat kesehatan, maka pemakaian zat kimia bisa menjadi ancaman. “Dengan pertanian organik, merupakan program yang dapat meningkatkan hasil-hasil pertanian baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang ramah lingkungan, murah dan aman bagi kesehatan,” ujar Amir. Diharapkan, imbuhnya, dengan pelatihan dan pembekalan penyuluh pertanian organik ini pemerintah desa dan perangkatnya dapat melakukan upaya-upaya menanamkan nilai dan kesadaran masyarakat betapa pentingnya melakukan usaha pertanian organik.
Hj Misriani Ilyas S Sos SP, anggota DPRD Prov Sulsel yang dimintai penjelasannya kepada Humas dan sejumlah wartawan mengatakan, selaku wakil rakyat dari Dapil VI (mewilayahi Sidrap, Pinrang, Enrekang dan Tator), merasa terpanggil untuk memperhatikan permasalahan masyaraka di wilayah kerjanya.
Menurutnya, penggunaan pupuk kimia dan peptisida pada lahan pertanian dalam jangka waktu yang relatif lama memang bisa menyebabkan kerusakan struktur tanah sehingga unsur hara yang dibutuhkan tanaman berkurang. Untuk itulah, Misriani menganjurkan kepada petani agar menggunakan pupuk organik. “Saat ini telah banyak produk pupuk organik yang beredar di pasaran, silakan pilih. Bahkan, pupuk organik buatan lokal dapat dimanfaatkan sepanjang diyakini pupuk itu layak,” ujarnya.
Misriani, anggota Dewan yang juga Ketua Perempuan Demokrat Republik Indonesia (PDRI) DPD Sulsel itu hari itu juga sempat melakukan reses ke berbagai wilayah di Sidrap. Terkait dengan temuannya di lapangan, legislator Demokrat itu berjanji akan memperjuangkan anggaran pembangunan, khususnya di bidang pertanian untuk Kabupaten Sidrap melalui APBD Prov Sulsel tahun 2011 ini.
Selain itu, anggota Komisi C DPRD Sulsel ini juga akan memperhatikan masalah peningkatan infrastruktur di daerah ini. “Sebagai anggota Komisi C yang juga akan fokus memperjuangkan anggaran untuk peningkatan infrastruktur itu,” kilahnya. Termasuk, berniat memunculkan dalam pembahasan DPRD Prov Sulsel tentang adanya hama penyakit keping hitam yang menyerang tanaman padi di Sidrap. (Hamsah.
Sosialisasi Raskin 2011

Wabup Buka, Launching Program Raskin 2011
SIDRAP – Wakil Bupati (Wabup) Sidrap H Dollah Mando Rabu (26/1) membuka Peluncuran perdana Program Beras Miskin (Raskin) tahun 2011 tingkat Kabupaten Sidrap.Selain membuka secara resmi Launching tersebut juga diwarnai pelepasan balon ke udara serta penyerahan secara simbolis raskin oleh Wakil Bupati Sidrap, H Dollah Mando.
Serangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi program raskin 2011 yang diikuti para camat, kepala desa dan lurah se-Kab. Sidrap. Sosialisasi yang berlangsung di ruang Pola Kantor Bupati Sidrap tersebut dihadiri Asisten Ekonomi Pembangunan Sidrap, Drs Syarifuddin MSi, Ketua Komisi I DPRD Sidrap, Drs Anasrudin, Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sidrap, Drs H A Baharuddin S, Kepala Sub Divre Bulog Sidrap, Ramli Hasan, serta sejumlah unsur terkait lainnya.
Dalam sambutannya, H Dollah Mando mengatakan pada tahun 2011 ini jumlah raskin yang disalurkan di Kabupaten Sidrap mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. “Tahun ini raskin yang akan disalurkan meningkat sekira 120.000 ton dari tahun 2010 lalu yang mencapai 3.056.430 ton,”ujarnya.
Dollah Mando menambahkan, jatah penerima raskin tiap bulannya juga mengalami peningkatan. Dikatakannya, jika tahun 2010 lalu setiap kepala keluarga menerima 13 kg/bulan, maka tahun ini bertambah menjadi 15 kg/bulan.
Sementara mengenai harga, Dollah Mando mengatakan sama dengan tahun lalu yaitu Rp1.600/kg. “Jadi harganya tidak boleh melewati itu, kalau mau kurang terserah,” ungkapnya setengah bercanda.
Mantan Kadis Pertanian Sidrap tersebut selanjutnya menjelaskan prinsip 6 Tepat yang harus dipenuhi demi kesuksesan program raskin. “Prinsip tersebut adalah, tepat penerima, tepat jumlah, tepat harga, tepat pelaksanaan, tepat administrasi dan tepat kualitas,”terangnya.
“Jika prinsip 6 Tepat terpenuhi, ditambah dengan pengawasan intensif dari tingkat kabupaten sampai desa/kelurahan, tentunya penyaluran raskin tahun akan lebih baik lagi,”pungkas Dollah.(Hamsah)
Minggu, 16 Agustus 2009
Siswa SDLB berkarya
Siswa SDLB Terus Berkarya Dari Keterbatasan Fisik
Ada yang menarik, dari kunjungan anjang sana pihak Pemkab Sidrap, sehari sebelum pringatan HUT RI ke 64. Tepatnya pada Minggu 16 Agustus lalu. Rombongan Sekkab Sidrap Drs H Hasanuddin Syafiuddin MSi harus terkesima melihat keterampilan para siswa Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Sidrap
Laporan : Hamsah
Di hadapan rombongan yang dipimpin Sekkab Sidrap, Drs H Hasanuddin Syafiuddin MSi, didampingi sejumlah pejabat lainnya semisal Kepala Bappeda Sidrap Drs A Irwan Bangsawan MSi, Kadis Perhubungan, A Khaerul, Kadis Koperasi, Hamka Laukki dan sejumlah pejabat lainnya, dua siswa SDLB Djunaid dan Wajang terus menunjukkan kebolehannya bagi para pengunjung itu.
Kunjungan ke SDLB itu sendiri sebagai rangkaian perayaan HUT RI ke 64.Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki oleh Wajang dan Djunaid, tidak lantas menjadikan kedua lelaki yang didik dan tumbuh di SDLB Pangkajene kabupaten Sidrap ini pupus harapan untuk berkarya. Dengan mengandalkan indera peraba (tangan,red) tanpa ditopang oleh penglihatan seperti orang normal lainnya, Djunaid dan Wajang dengan cukup lancar mampu memainkan alat musik di depan mereka.Jari-jari tangan mereka dengan gesit mampu memainkan alat musik piano yang diiringi temban lagu yang dibawakan salah seorang siswa SDLB sendiri dengan alunan suara yang cukup merdu. Bahkan Wajang sendiri sembari memaminkan piano juga mampu melantumkan sebuah lagu. Sontak lagu yang di bawakan Wajang itu membuat peserta rombongan Pemkab Sidrap yang hadir ikut terharu.
Bahkan begitu menyentuhnya lagu berjudul 'Sussana Tau Butae' (susahnya jadi orang buta',red) membuat Sekkab Sidrap nyaris menitikkan air mata harunya. Dengan jari tangan yang terus bergerak cepat, lagu yang di lantumkan juga terus menggema. Menggelitik perasaan bagi para tamu dari pemerintahan yang hadir untuk melakukan anjang sana di sekolah tersebut.
Selain rombongan Pemkab Sidrap warga sekitar SDLB yang mendengar alunan lagu para siswa SDLB itu ikut berdecak kagum. Mereka seolah tidak percaya bahwa alunan lagu yang mereka dengar itu dinyanyikan siswa SDLB yang kesehariannya mereka lihat sebagai kelompok cacat yang tidak bisa apa-apa.
"Siswanyami mungkin itu yang menyanyi, bagusnya suaranya,"ungkap salah seorang ibu-ibu dalam dialeg bugis yang mendengar alunan lagu siswa SDLB dari luar pagar sekolah.
Dengan kebolehannya, Djunaid dan Wajang bergantian memainkan piano untuk menghibur para rombongan anjang sana tersebut. Dalam kunjungan anjang sana tersebut, kepada pengelola SDLB diserahkan bantuan sembako kepada para siswa.
Sekkab Sidrap H Hasanuddin dalam kesempatan itu, mengungkapkan bahwa
para penderita cacat memang sangat layak untuk diberikan perhatian. Menurutnya semua kalangan harus mampu menjadi mitra terbaik bagi kaum penyandang cacat, dalam mengembangkan bakat mereka, termasuk dari Pemkab Sidrap.
untuk itulah Hasanuddin mengatakan bahwa bagi Pemkab, penyandang cacat
ini tetap akan menjadi perhatian dan akan dijadikan mitra terbaik.
"Mereka ini butuh mitra dalam hidup mereka makanya kita harus bisa
menjadi mitra terbaik bagi mereka utamanya dalam pengembangan keahlian mereka,"jelasnya.
SDLB yang di huni sekitar 55 siswa yang terdiri dari laki-laki 33 orang dan perempuan 22 orang ini menyambut uplous sambutan Sekkab Sidrap tersebut.
Ada kisah pilu di SDLB, disebutkan pernah suatu waktu SDLB kehabisan persediaan untuk makan. Sehingga saat itu ia harus bermohon ke Dinas Sosial untuk sekedar mendapatkan bantuan makanan. Sehingga pengeloah berharap, tidak lagi dilanda masalah serupa dimasa mendatang.(sah)
Ada yang menarik, dari kunjungan anjang sana pihak Pemkab Sidrap, sehari sebelum pringatan HUT RI ke 64. Tepatnya pada Minggu 16 Agustus lalu. Rombongan Sekkab Sidrap Drs H Hasanuddin Syafiuddin MSi harus terkesima melihat keterampilan para siswa Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Sidrap
Laporan : Hamsah
Di hadapan rombongan yang dipimpin Sekkab Sidrap, Drs H Hasanuddin Syafiuddin MSi, didampingi sejumlah pejabat lainnya semisal Kepala Bappeda Sidrap Drs A Irwan Bangsawan MSi, Kadis Perhubungan, A Khaerul, Kadis Koperasi, Hamka Laukki dan sejumlah pejabat lainnya, dua siswa SDLB Djunaid dan Wajang terus menunjukkan kebolehannya bagi para pengunjung itu.
Kunjungan ke SDLB itu sendiri sebagai rangkaian perayaan HUT RI ke 64.Dengan keterbatasan fisik yang dimiliki oleh Wajang dan Djunaid, tidak lantas menjadikan kedua lelaki yang didik dan tumbuh di SDLB Pangkajene kabupaten Sidrap ini pupus harapan untuk berkarya. Dengan mengandalkan indera peraba (tangan,red) tanpa ditopang oleh penglihatan seperti orang normal lainnya, Djunaid dan Wajang dengan cukup lancar mampu memainkan alat musik di depan mereka.Jari-jari tangan mereka dengan gesit mampu memainkan alat musik piano yang diiringi temban lagu yang dibawakan salah seorang siswa SDLB sendiri dengan alunan suara yang cukup merdu. Bahkan Wajang sendiri sembari memaminkan piano juga mampu melantumkan sebuah lagu. Sontak lagu yang di bawakan Wajang itu membuat peserta rombongan Pemkab Sidrap yang hadir ikut terharu.
Bahkan begitu menyentuhnya lagu berjudul 'Sussana Tau Butae' (susahnya jadi orang buta',red) membuat Sekkab Sidrap nyaris menitikkan air mata harunya. Dengan jari tangan yang terus bergerak cepat, lagu yang di lantumkan juga terus menggema. Menggelitik perasaan bagi para tamu dari pemerintahan yang hadir untuk melakukan anjang sana di sekolah tersebut.
Selain rombongan Pemkab Sidrap warga sekitar SDLB yang mendengar alunan lagu para siswa SDLB itu ikut berdecak kagum. Mereka seolah tidak percaya bahwa alunan lagu yang mereka dengar itu dinyanyikan siswa SDLB yang kesehariannya mereka lihat sebagai kelompok cacat yang tidak bisa apa-apa.
"Siswanyami mungkin itu yang menyanyi, bagusnya suaranya,"ungkap salah seorang ibu-ibu dalam dialeg bugis yang mendengar alunan lagu siswa SDLB dari luar pagar sekolah.
Dengan kebolehannya, Djunaid dan Wajang bergantian memainkan piano untuk menghibur para rombongan anjang sana tersebut. Dalam kunjungan anjang sana tersebut, kepada pengelola SDLB diserahkan bantuan sembako kepada para siswa.
Sekkab Sidrap H Hasanuddin dalam kesempatan itu, mengungkapkan bahwa
para penderita cacat memang sangat layak untuk diberikan perhatian. Menurutnya semua kalangan harus mampu menjadi mitra terbaik bagi kaum penyandang cacat, dalam mengembangkan bakat mereka, termasuk dari Pemkab Sidrap.
untuk itulah Hasanuddin mengatakan bahwa bagi Pemkab, penyandang cacat
ini tetap akan menjadi perhatian dan akan dijadikan mitra terbaik.
"Mereka ini butuh mitra dalam hidup mereka makanya kita harus bisa
menjadi mitra terbaik bagi mereka utamanya dalam pengembangan keahlian mereka,"jelasnya.
SDLB yang di huni sekitar 55 siswa yang terdiri dari laki-laki 33 orang dan perempuan 22 orang ini menyambut uplous sambutan Sekkab Sidrap tersebut.
Ada kisah pilu di SDLB, disebutkan pernah suatu waktu SDLB kehabisan persediaan untuk makan. Sehingga saat itu ia harus bermohon ke Dinas Sosial untuk sekedar mendapatkan bantuan makanan. Sehingga pengeloah berharap, tidak lagi dilanda masalah serupa dimasa mendatang.(sah)
Selasa, 14 Oktober 2008
Ridho Sindir Kandidat Lain Di Pilkada Sidrap

Ridho Sindir Kandidat Lain
Kampanye Perdana Dihadiri Ribuan Pendukung
SIDRAP-- Pasangan Rusdi Masse-Dollah Mando (Ridho), menyindir kandidat Bupati dan Wakil Bupati Sidrap lainnya, yang dinilai meniru program duet mantan legislator-birokrat itu. Hal itu karena sebagain program kerja yang mereka 'jual' ke masyarakat saat ini juga banyak di munculkan kandidat lainnya.
Sindiran tersebut disampaikan Ridho melalui iklan yang diterbitkan sejumlah harian kemarin. Dalam iklan itu, Ridho mengklaim pasangan pertama yang memprogramkan pendidikan dan kesehatan gratis, akta kelahiran gratis, KTP dan kartu keluarga gratis, subsidi bagi petani, dan sejumlah program lainnya.
Dalam iklan itu juga disebutkan, setelah pasangan Ridho memunculkan program itu melalui sejumlah baliho yang tersebar di sejumlah titik di Sidrap, maka kandidat lain juga memunculkan program yang sama. Rusdi Masse menyebutkan bahwa program yang mereka susun betul-betul dibutuhkan oleh warga Sidrap saat ini.
Meski demikian, pasangan yang diusung Partai Bintang Reformasi (PBR) dan Partai Amanat Nasional (PAN) itu, tidak mempersoalkan tindakan tersebut. Bahkan dalam pemaparan visi dan misi masing-masing pasangan calon Bupati Sidrap pada Sidang Paripurna DPRD Sidrap 12 Oktober lalu, pengusaha ekspedisi itu mengajak lima pasang kandidat bupati lainnya, untuk menyerahkan dokumen visi dan misinya kepada Ridho, jika pasangan itu terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sidrap pada 29 Oktober mendatang.
"Begitupun dengan kami, juga akan menyerahkan visi dan misi kami kepada kandidat lain yang terpilih dalam pemilu mendatang. Karena kami yakin, program yang telah kita susun, adalah kondisi riil Sidrap. Sementara solusi yang ditawarkan memang dibutuhkan warga," jelas pasangan Dollah Mando itu.
Hal senada juga dikatakan pasangan itu dalam kampanye terbuka yang dilaksanakan di Lapangan Andi Takko Kelurahan Tanru Tedong Sidrap kemarin. Dihadapan ribuan pendukungnya, Ridho menjanjikan terjadinya perubahan Sidrap secara keseluruhan. Dalam orasinya, Rusdi Masse mengatakan dirinya berserta Dollah Mando akan melakukan perubahan untuk menjadikan Sidrap lebih baik dari saat ini.
Dijelaskan, bahwa pasangan itu akan membuka sebanyak 15 ribu lapangan kerja baru di Sidrap. Dengan pembukaan lapangan kerja baru itu, maka dipastikan ribuan warga Sidrap yang saat ini belum bekerja, akan terserap dunia kerja. Selain itu, warga Sidrap yang umumnya petani, juga akan diberikan subsidi agar mampu meningkatkan produktifitas lahan yang ada.
"Kita akan menyalurkan pupuk yang bisa dikredit tanpa bunga oleh warga. Pupuk itu bisa diperoleh saat awal musim tanam, dan bisa dilunasi setelah panen. Jika pemerintah tidak mampu memberikan subisidi itu, maka saya akan lakukan secara pribadi," tegas lelaki kelahiran Rappang 3 Maret 1973 itu.
Sindiran sama juga disampaikan Dollah Mando yang mengatakan bahwa tebu tidak layak di Sidrap, tapi yang layak adalah meningkatkan produktifitas pertanian di Bumi Nene Mallomo itu.
Ketua DPW PAN Sulsel Ashabul Kahfi yang juga hadir dalam kampanye perdana Ridho kemarin meyakini, program yang ditawarkan oleh duet itu memang sangat cocok dengan kondisi Sidrap saat ini. Makanya dia mengajak kepada seluruh warga Sidrap, pendukung dan kader PAN, agar memilih pasangan Ridho pada 29 Oktober mendatang.
Lebih lanjut menurut Ashabul, pasangan Ridho memang sangat pas untuk memimpin Sidrap. Rusdi Masse disebutnya adalah pengusaha yang sangat sukses menaklukkan Jakarta, dan perusahaannya mampu menyerap ribuan tenaga kerja. Sementara Dollah Mando adalah mantan birokrat yang sangat mumpuni di bidang pemerintahan.
"Saya pastikan, warga Sidrap tidak akan salah pilih jika mencoblos nomor 4 Ridho pada 29 Oktober mendatang. Apalagi warga Sidrap yang membutuhkan perubahan menjadi lebih baik, pasangan Ridho yang mampu mewujudkan hal itu," terang Ketua DPW PAN Sulsel.
Penegasan senada juga disampaikan oleh Ketua DPW PBR Sulsel Nur Hasan dalam orasinya kemarin. Menurut Hasan, Ridho adalah pasangan yang cocok memimpin Sidrap lima tahun ke depan. Hal itu berdasarkan pengalaman yang dimiliki duet tersebut. Dia juga menyebutkan, sosok pemimpin yang dibutuhkan oleh warga Sidrap, ada pada pasangan Ridho.
"Sebenarnya, sejumlah kegiatan yang program pasangan Ridho telah dilaksanakan sejak beberapa tahun terakhir. Seperti penyediaan ambulans gratis, dan penyediaan lapangan kerja seluas-luasnya bagi warga. Berdasarkan data, sekitar 75 persen karyawan Rusdi Masse di Jakarta, adalah warga Sidrap. Sekali lagi, warga Sidrap tidak akan salah pilih jika memilih Ridho," tegas Ketua DPW PBR Sulsel.
Selain Ketua DPW PBR dan PAN Sulsel, juga tampak hadir dalam kampanye kemarin adalah legislator PBR Sulsel A Besse Marda, putri Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Indira Cunda Titha Syahrul, mantan Ketua DPRD Sidrap Sairing Djafar, Ketua DPD PAN Sidrap Baharuddin Andang, dan sejumlah pengurus DPW PBR dan PAN Sulsel.(Hamsah)
Senin, 06 Oktober 2008
Jumat, 05 September 2008
Kaligrafi Ajaib Di Pohon

Oleh : Muhammad Riza
Salah satu pohon kapuk pebuh Kaligrafi Arab yang menghebohkan warga Pidie.
Ribuan warga Pidie sejak beberapa hari terakhir ini dihebohkan munculnya kaligrafi arab di 10 batang pohon kapuk. Mereka dari berbagai daerah berduyun-duyun datang ke Desa Cot Jeureulik, Tgk. Laweueng, lokasi 10 batang pohon kapuk yang tiba-tiba tertoreh kaligrafi arab.
Cepatnya tersiar kabar dari mulut ke mulut masyarakat membuat Waspada ikut ambil bagian untuk melihat langsung misteri munculnya kaligrafi itu. Ternyata untuk menembus Desa Cot Jeureulik, Tgk. Laweueng, lokasi 10 batang pohon kapuk itu tidak mudah. Terletak di perbukitan kawasan Goa Tujuh, Waspada yang menggunakan mobil harus menempuh perjalananan cukup melelahkan.
Sebab, medan jalan yang dilewati penuh dengan batu cadas, menanjak dan banyak tikungan patah. Bila tidak hati-hati kendaraan yang kita tumpangi itu jatuh ke jurang di bawahnya empang. Setiba di lokasi, terlihat kerumunan warga lagi serius memperhatikan kaligrafi arab misterius itu.
Meski telah dipasang garis polisi, umumnya para pengunjung memetik daun kapuk tersebut untuk dijadikan obat. Warga yakin dengan meminum air dari daun itu segala penyakit yang dideritanya akan sembuh. Fenomena ini akan Anda lihat langsung bila datang ke lokasi itu.
Keterangan warga setempat lokasi sekitar Goa Tujuh itu memang banyak terdapat hal mistis. Bila kita berada di lokasi itu tidak sopan akan kita jumpai hal-hal mistis yang tidak masuk dalam akal pikiran manusia. Peristiwa munculnya kaligrafi tersebut mungkin sebuah teguran terhadap umat manusia yang selama ini telah lupa akan sang penciptanya.
Menurut Marwan, 33, warga Desa Cot yang sehari-hari bercocok tanam di lokasi itu sebelumnya tidak pernah melihat kaligrafi Arab di 10 pohon kapuk tersebut. Padahal setiap hari ia usai merawat tanaman cabai selalu beristirahat di bawah batang pohon kapuk tersebut dengan mengikat ayunan, tapi tidak pernah melihat adanya kaligrafi Arab tersebut.
"Saya sudah empat tahun bercocok tanam di sini tapi tidak pernah melihat ada kaligrafi Arab di pohon kapuk ini. Mungkin saya tidak perhatikan. Tapi kalau kita perhatikan ukirannya ini sepertinya sudah lama sekali," ucap Marwan penasaran.
Menurut Marwan, kejanggalan ini pertama dilihat oleh sejumlah bocah desa setempat. Sore itu, Sabtu (19/10) awan hitam bergelombang menghiasi langit di atas Guha Tujoh (Goa Tujuh-red) Laweung, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie. Beberapa bocah Desa Cot Jereulik Tgk. Laweueng terlihat lagi asyik bermain bola, mereka tidak menghiraukan hujan akan turun.
Melihat hujan akan turun, Marwan mengambil sepeda motornya pulang ke rumah. Saat pulang Marwan sempat mengajak anak-anak itu pulang karena hari akan hujan. Tapi dasar bocah tidak menghiraukan ajakannya. Lalu Marwan tancap gas kembali ke rumahnya, di tengah jalan Marwan berhenti karena hujan lebat telah turun. Kemudian Marwan mencari tempat berteduh.
Demikian juga bocah tadi menghentikan bermain bola dan mencari tempat berteduh. Tiba–tiba petir disertai kilat menyambar, namun aneh pada 10 batang pohon kapuk tersebut ada kilatan cahaya. Tak lama kemudian kilatan cahaya pada 10 batang pohon kapuk itu hilang hujanpun mulai reda. Lalu bocah-bocah tersebut keluar dari tempat berteduh saat pulang mereka memperhatikan pohon kapuk yang ada kilatan tadi.
Ternyata seluruh batang, ranting dan daun Kapuk tersebut telah bertuliskan Allah, Muhammad dan ayat-ayat Al Quran lainnya.
Bocah-bocah tadi pulang ke rumahnya masing-masing dengan berlari. Sesampai di rumah mereka menceritakan pada orang tuanya. Lalu warga setempat datang ke lokasi untuk memastikan kabar yang di sampaikan bocah-bocah tadi, sesampai di lokasi ternyata betul ke10 batang pohon Kapuk tadi penuh dengan kaligrafi Arab. Kemudian oleh kepala desa dan warga lainnya melaporkan peristiwa ini kepada Kapolsek setempat.
Tgk. Al-Azhar, pimpinan Pesantren Jabal Ulum Desa Tgk. Laweueng yang ikut memperhatikan tulisan Arab itu berpendapat. Tulisan Arab yang terdapat di pohon kapuk itu sepertinya telah lama timbul, tapi tidak begitu jelas. Ia juga berpendapat tulisan Arab itu belum dapat dipastikan karena tidak berbentuk sebuah qalam. Tapi bisa juga dikatakan itu huruf hijaiyah. Huruf itu sebuah kalimat khathtsulus yang hanya dapat dibaca oleh penulis itu sendiri.
Camat Muara Tiga, Azhari Yacub, SH kepada Waspada, Minggu (12/10) menyebutkan, pihaknya belum dapat memprediksikan ikhwal kejadian itu. Namun dirinya dalam waktu dekat ini akan mendatangkan ulama yang mengerti akan kaligrafi misterius tersebut. "Kita belum tahu, apa ini dibuat oleh manusia atau memang benar-benar kekuasaan Allah," jelas Azhari.
Misteri munculnya Kaligrafi di 10 batang kapuk telah membuat masyarakat mempercayai berlebihan. Ada di antara mereka mengambil daun dan kulit batang Kapuk itu dijadikan sebagai ramuan obat yang diyakini dapat menyembuhkan segala penyakit. Dalam hal ini peran ulama besar untuk menyadarkan umat sebelum tersesat dari ajaran Islam.
Kamis, 21 Agustus 2008
Bungnge Citta Nene Mallomo

Lebih Dekat Dengan Bungnge Citta Nene Mallomo (1)
Diyakini Mampu Mengusir Roh Dan Pengaruh Ilmu Hitam
Sekilas sumur Bungnge Citta Nene Mallomo yang terletak di sebelah kiri jalan menuju Kabupaten Soppeng terlihat seperti sumur umum. Hampir setiap hari terlihat warga sekitar datang mencuci pakaian di tempat itu. Namun Siapa sangka sumur itu menyimpan cerita unik.
Laporan : Hamsah
Sumur Bungnge Citta Nene Mallomo selain menjadi tempat keseharian bagi kaum ibu mencuci pakaian atau mandi dan keperluan air lainnya, ternyata dibalik fungsi umum sebuah sumur umum, tersimpan cerita unik di sumur tersebut.
Sumur yang dikabarkan telah ada sejak ribuan tahun lalu itu dan telah setia memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat Desa Allakuang Kecamatan Maritengngae itu juga memiliki air yang diyakini berkhasiat menghilangkan pengaruh ilmu hitam dan gangguan roh jahat.
Bagi sebagaian masyarakat Sidrap terutama yang bermukim di sekitar Desa Allakuang dan wilayah sekitarnya Sumur Bungnge Citta Nene Mallomo dianggap keramat, air yang keluar dari sumur itu juga kerap dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengobatan.
Salah seorang tokoh masyarakat Allakkuang, Abd Razak menjelaskan bahwa umumnya masyarakat yang meyakini khasiat dari air itu, memanfaatkan air tersebut untuk keperluan mengusir roh jahat atau menangkis ilmu hitam. Sebab air itu diyakini suci.
"Bahkan warga Towani Tolotang sering datang ke sumur itu khusus mencuci pakaian orang mati, dengan maksud agar pakaian tersebut bersih dari gangguan roh,"jelas Razak.
Lelaki yang kesehariannya juga menjual aneka pahatan batu ini juga menjelaskan bahwa air yang keluar dari sumur yang memiliki kedalam sekitar 10 meter lebih itu, juga sering dimanfaatkan jimat untuk memudahkan segala urusan.
"Makanya hampir setiap pindah rumah masyarakat datang mengambil air ditempat itu sekitar satu botol kemasan. Itu disimpan di pusat rumah begitupu ketika akan memulai sebuah pekerjaan seperti berdagang dan lainnya itu juga diambil sebagai pappalomo (untuk memberikan kemudahan,red),"terangnya.
Selain itu menurut Razak, air itu juga sering dmanfaatkan bagi ibu hamil untuk memudahkan persalinan. Maka tidak heran kata dia jika banyak orang hamil yang datang untuk sekedar mengambil air satu botol kemasan untuk disimpan dirumahnya sebagai jimat pelancar persalinan.
"Ini yang pokok, selain untuk mengusir roh jahat dan ilmu hitam ini juga sangat sering dijadikan sebagai obat untuk memperlancar segala urusan,"kilahnya. (*bersambung)
===================
Lebih Dekat Dengan Bungnge Citta Nene Mallomo (2)
Air Muncul Secara Ajaib
Keyakinan akan khasiat air Sumur Bungnge Citta Nene Mallomo bukan tanpa alasan. Kemuncuan air pertama kali di sumur itu diyakini muncul secara ajaib.
Laporan : Hamsah
Dari sejarah yang berkembang dimasyarakat, awal munculnya air di Sumur Bungnge Citta Nene Mallomo itu bermula dari sejarah tokoh legendaris Kabupaten Sidrap, Nene Mallomo. Kabarnya Nene Mallomo suatu saat sangat ingin membantu masyarakat disekitarnya yang lagi kesulitan air. Sehingga dengan niat suci untuk membebaskan masyarakat dari belenggu kesulitan air, Nene Mallomo lalu menhentakkan kakikinya ke tanah.
Wal hasil, dari bekas hentakan kaki Nene Mallomo itu, muncullah semburan air yang semakin banyak dan akhirnya tempat tersbut menjadi sebuah sumur yang mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat waktu itu.
Sejak itulah lokasi itu terus lestari menjadi sebuah sumur yang dijadikan sebagai tempat pengambilan air bagi masyarakat sampai saat ini. Hanya saja menurut keterangan warga setempat air di sumur itu tidak lagi banyak beberpa tahun lalu. Banyaknya sumur bor di rumah-rumah yang terbilang dekat dari sumur di yakini menjadi penyebab kurangnya air sumur di Sumur Bungnge Citta Nene Mallomo itu.
"Sebelum ada sumur bor air di sumur itu meluap-luap, tapi sekarang tidak lagi tapi tetap tidak bisa kering meskipu kemarau panjang melanda. Hanya saja sejak adanya sumur bor, sebagaian air sumur itu meresap ke sumur bor itu,"jelas salah seorang tokoh masyarakat Desa Allakuang, Lokasi Sumur itu berada, Abd Razak.
Lantas apa hubungan keyakinan masyarakat sekarang dengan kemunculan air di Sumur Bungnge Citta Nene Mallomoitu secara ajaib?.
Abd Razak bercerita panjang soal itu. Menurutnya keyakinan itu erat kaitannya dengan kehidupan sang tokoh legendaris Sidrap Nene Mallomo. Semasa hidupnya Nene Mallomo disebutkan sebagai lelaki yang cerdik. Tidak ada tugas dan keluhan raja (Arung) yang ia anggap sulit. Semua kesulitan yang dihadapi arung saat itu mampu di hadapi dengan sangat enteng.
Adalah sebuah kisah, saat Arung yang bermuki di Sidrap akan melakukan adu kerbau dengan sejumlah raja dari berbagai penjuru nusantara. Kabar tentang kehebatan kerbau dari para raja yang akan menjadi lawan Arung yang bermukim di Sidrap cukup meresahkan sang Arung.
Namun dengan kecerdikan Nene Mallomo kerisauan Arung mampu diatasi Nene Mallomo. Saat itu Arung sempat berkecil hati sebab Nene Mallomo hanya menyiapkan kerbau kecil yang masih menyusui, sementara lawan-lawannya disebutkan akan membawa kerbau besar dan hebat. Tapi setelah diyakinkan akhirnya Arung menerima alasan Nene Mallomo.
Saat akan bertanding, anak kerbau yang masih menyusui itu dibiarkan kelaparan dan tidak disusui dengan induknya. Dibagian mulut anak kerbau itu dipasangi taji (jenis senjata tajam khusus dalam adu hewan). Saat anak kerbau itu dilepas, karena dalam kondisi sangat lapar ia langsung memburu kerbau lawannya dengan maksud akan menyusu, akibatnya bagian bawah lokasi yang setara dengan lokasi susu induknya robek oleh tusukan taji, mengakibatkan kerbau besar lari tunggang langgang.
"Ini salah satunya dan banyak cerita lain tentang kecerdikan Nene Mallomo dalam memudahkan urusan Arung, makanya itulah yang dijadikan dasar filosofi bagi masyarakat ketika mengambil air dengan maksud urusan mereka akan mudah seperti mudahnya Nene Mallomo dalam memecahkan teka teki yang amat sulit yang dihadapi para Arung,"papar Razak.(*)
============================
Keterlambatan Pengisian Jabatan Lembaga Baru Akan Hambat DAU
SIDRAP-- Keterlambatan pengisian jabatan di lembaga baru dinilai akan menghambat Dana Alokasi Umum (DAU). Sebab itu dinilai menjadi acuan pengucuran DAu disetiap daerah. Selain itu keterlambatan itu juga akan turut berpengaruhterhadap penunjang aktivitas kelembagaan baru yang telah diperdakan, termasuk kenaikan pangkat pejabat.
Dengan alasan itulah sehingga untuk menerapkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2007 tentang organisasi perangkat daerah dan mengingat beberapa pertanyaan mengenai jabatan Kepala Bidang pada Dinas dan Badan perangkat daerah kabupaten dan kota yang mencakup pengisian jabatan sejumlah pejabat dalam lingkup pemerintahan dan eselonnya, pemkab Sidrap segera melaksanakan pengisian jabatan sesuai dengan perangkat aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Hanya saja kemungkinan agak lambat,sebeb pelaksanaan mutasi dalam mengisi sejumlah jabatan eselon meskipun telah ditetapkann perda PP Nomor 41, khususnya eselon III dan IV, dan Badan Pertimbangan jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) Sidrap sudah melakukan rapat dan mengusulkan sejumlah nama PNS yang akan mengisi jabatan baru tersebut kepada Bupati Sidrap sejak beberapa bulan yang lalu namun sampai saat ini belum terealisasi.
"Itu masih dalam proses, yang jelas kita sudah mengirim beberapa nama untuk mengisi jabatan yang masih lowong,"jelas Sekkab Sidrap belum lama ini.
Keluarnya surat Badan Kepegawaian Negara (BKN) di Jakarta sejak 13 Juni lalu tentang Hak kepegawaian dan hak administrasi bagi kepala Bidang pada Dinas dan Badan Perangkat Daerah Kabupaten dan Kota sesuai PP Nomor 41 2007 itu menjadi suatu desakan mendasar kepada pemerintah daerah untuk segera melakukan pengisian jabatan.
Hasanuddin menilai jika jabatan lowong tidak segera terisi itu artinya penataan organisasi perangkat daerah sesuai dengan PP Nomor 41 Tahun 2007 belum terlaksana. Hal ini juga berimbas bagi tingkat eselon sesuai organisasi perangkat daerah berdasarkan PP Nomor 8 Tahun 2003 dengan ketentuan kenaikan pangkat bagi semua PNS yang menduduki jabatan struktural dilingkungan masing-masing tidak dapat dipertimbangkan untuk kenaikan pangkat jika terlambat direalisasikan. (sah)
Langganan:
Postingan (Atom)




